Sat. Sep 19th, 2020

BLAM

KEREN

Capaian Program Kelitbangan Hingga Moderasi Beragama Jadi Pembahasan Pertemuan Tiga Balai  

3 min read

Tiga Kepala Balai Litbang Agama pada pertemuan Rapat Koordinasi Kelitbangan. Foto: Asnianti

1,601 total views, 2 views today

DENPASAR, BLAM – Persoalan radikalisme agama, yang hingga kini belum padam di Indonesia, menjadi pembahasan saat pembukaan pertemuan tiga Balai Penelitian Agama di Hotel Aston Kuta, Badung, Bali, Rabu malam, 6 November 2019.

Kegiatan bertajuk “Rapat Koordinasi Kelitbangan” ini mempertemukan tiga Balai Penelitian Agama, yaitu Balai Litbang Agama Semarang (BLAS), Balai Litbang Agama Jakarta (BLAJ), dan Balai Litbang Agama Makassar (BLAM).

Selain dihadiri sejumlah peneliti dari tiga balai, kegiatan yang digelar selama empat hari ini, 6 – 9 November 2019, juga menghadirkan Kepala Subbag Tata Usaha, Kepala Urusan, Perencana, dan Bendahara.

Sebagai pembuka, Kepala BLAS, Dr. H. Samidi, menyatakan, kegiatan ini merupakan tradisi tahunan yang dilakukan tiga Balai Penelitian Agama yang berada di bawah naungan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama.

“Tujuan rapat koordinasi kelitbangan ini adalah untuk sinkronisasi program penelitian dan pengembangan antar Balai Litbang Agama. Termasuk, tentunya, mendiskusikan hasil riset dan pengembangan yang tengah kita lakukan tahun ini (2019), sekaligus membahas isu-isu terkini untuk kita jadikan bahan riset dan kegiatan pengembangan tahun berikutnya,” kata Samidi.

Kepala BLAJ, Dr. Nuruddin, menyatakan, kegiatan pertemuan tiga balai ini dianggap bagus, karena masing-masing balai mempunyai peran strategis. Menurutnya, ada beberapa hal yang perlu dimanfaatkan pada pertemuan ini, yaitu ingin mengetahui capaian substantif dan strategis, lantaran ketiga Balai tidak berdiri sendiri.

“Semua program ada di Badan Litbang dan Diklat yang merupakan eselon satu, sedangkan kegiatannya ada di eselon dua, dan satuan kerja, seperti tiga balai ini. Itu termasuk aspek substantif strategis. Sementara aspek administratif adalah melakukan evaluasi terhadap kegiatan tahun lalu. Apakah target-target kita yang strategis maupun administratif sudah tercapai semua? Evaluasi tahun 2019 ini juga merupakan cerminan dari evalusi tahun 2018,” kata Nuruddin.

Selain itu, kata Nuruddin, ketiga Balai juga mesti memerhatikan isu-isu strategis yang terjadi sekarang, dan tahun mendatang. Sebut, misalnya, perubahan regulasi peneliti dan rekrutmen tenaga peneliti baru.

“Proyeksi tahun 2020 juga penting untuk membahas dinamika perubahan regulasi terkait peneliti, rekrutmen peneliti baru, dan impassing jabatan fungsional. Apalagi, porsi tenaga peneliti di tiga Balai mengalami penurunan,” katanya.

Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si, pada kesempatan ini, mengajak ketiga balai untuk bersama-sama mengembangkan moderasi beragama untuk meredam paham radikalisme agama, sekaligus mengelola keberagamaan di Indonesia.

Seperti diketahui, isu radikalisme agama kembali menjadi bahan perbincangan Menteri Agama baru, Fachrul Razi. Padahal, isu radikalisme agama, terutama definisi radikalisme agama, merupakan perbincangan yang terjadi sejak puluhan tahun silam. Alhasil, banyak kalangan yang akhirnya “bertengkar” mempersoalkan definisi radikalisme agama tersebut.

Nah, kita penting bergerak bersama merespon isu radikalisme agama dengan model moderasi beragama. Moderasi beragama ini bisa menjadi semacam tipikal, atau ciri khas kementerian agama, dalam mengelola keberagamaan. Hal ini bisa kita jadikan pijakan awal untuk bergerak dalam konteks membangun dan mengelola keberagamaan,” jelas Pepi, sapaan akrab Saprillah.

Saprillah juga mengimbau kepada seluruh peneliti untuk terus menggenjot kualitas menulisnya. Menurutnya, indikator yang paling kuat dari seorang peneliti adalah ketika tulisannya dibaca publik, dan kemudian dikutip oleh kalangan akademisi.

“Kita tentu merasa bangga dengan semakin banyaknya jumlah peneliti bergelar doktor dan profesor. Akan tetapi, kita tentu saja semakin bangga apabila para peneliti kita sering menghasilkan tulisan berkualitas yang banyak dijadikan rujukan dan kutipan. Sebab, salah satu indiktor kuat dari seorang peneliti adalah, ketika tulisannya sering diagitasi oleh kalangan akademisi,” katanya.

Di samping itu, kata Saprillah, tiga Balai juga mesti terus memperluas dan membangun networking. Dalam konteks BLAM, pihaknya sudah membangun networking dengan menjajakan produk BLAM, berupa hasil riset dan kegiatan pengembangan ke kampus-kampus.

Di bawah kepemimpinan Saprillah yang belum genap setahun, BLAM telah beberapa kali melakukan penandatanganan kerjasama (MoU) dengan pihak kampus.

“Pihak luar kadang-kadang memandang enteng hasil riset dan pengembangan kita. Maka, kita juga perlu menjual diri dengan tujuan memerlihatkan langsung apa yang telah kita lakukan. Setelah mengetahui langsung produk kami, mereka akhirnya merespon dan kemudian tertarik untuk bekerjasama,” jelasnya.

Di era digitalisasi ini, BLAM juga merambah ke dunia media sosial, seperti membuat film bertema kerukunan umat beragama di Kabupaten Toraja, Sulawesi Selatan, yang akan dibikinkan versi youtube­-nya, serta mengaktifkan kembali website.

“Sekarang ini zaman milenial, sehingga kita pun, mau tak mau, harus ikut bermain di media sosial untuk memasarkan produk kami. Sedangkan kehadiran website adalah, agar tulisan teman-teman bisa tercurahkan di website. Artikel yang dimuat di website kami juga merupakan bagian penting untuk menyebarkan gagasan-gagasan peneliti, selain di jurnal tentunya,” kata Saprillah. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *