Sat. Mar 28th, 2020

BLAM

KEREN

Peneliti Utama Sajikan Pendidikan Keagamaan di Sebatik

4 min read

Peserta menyimak hasil riset Peneliti Ahli Utama BLAM. Foto: M Irfan

1,237 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM – Pendidikan keagamaan migran Bugis di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, secara umum menggembirakan. Setidaknya, terdapat beberapa madrasah dan pondok pesantren berdiri di daerah yang dikenal dengan sebutan “daerah perbatasan” ini.

Sayangnya, lembaga formal dan nonformal, yang umumnya dikelola migran Bugis tersebut, dianggap belum memiliki fasilitas layak. Meski begitu, migran Bugis dianggap cukup berjasa dalam usaha pengembangan pendidikan keagamaan di Sebatik.

Demikian dikemukakan Peneliti Ahli Utama (PAU) Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), saat menyajikan riset temuan lapangan mereka mengenai Pendidikan Keagamaan di Daerah Terluar, di Hotel Claro Makassar, Selasa, 5 November 2019.

Para PAU tersebut adalah Prof. Dr. H. Kadir Ahmad, Prof. Dr. H. Hamdar Arrayyah, Prof. Dr. H. Arifuddin Ismail, Dr. H. Abd. Kadir M, dan Dr. H. Idham.

Meski mengambil lokasi sama di Pulau Sebatik, tetapi mereka mengangkat judul dan permasalahan penelitian berbeda. Wilayah Sebatik sendiri berbatasan langsung dengan Malaysia.

Koordinator Penelitian, Hamdar Arrayyah, yang mengambil judul “Pendidikan Keagamaan Islam di Pulau Sebatik-Indonesia; Masjid sebagai Pusat Pendidikan Al-Quran di Desa Sungai Nyamuk,” menyatakan, ada lima tahap pembelajaran Al-Quran di Sungai Nyamuk.

“Tahap pertama adalah mempelajari rangkaian huruf dalam kata; tahap kedua, membaca Al-Quran dengan lancar hingga khatam; tahap ketiga, mempelajari seni baca Al-Quran; tahap empat; menghafal Al-Quran; dan tahap kelima, kajian kitab,” jelas Hamdar.

Menurut Hamdar, ada tiga masjid di Sungai Nyamuk, dan kesemuanya dibangun oleh migran Bugis.

“Pada awalnya, para pembimbing di bidang agama ini melalui lembaga pendidikan non formal. Mereka bagian dari migran yang datang ke daerah ini secara sukarela, karena ingin mencari penghidupan lebih baik. Selain itu, ada juga ditugasi organisasi keagamaan di Sulawesi, seperti As’adiyah dan  al-Khairat untuk melakukan kegiatan dakwah di daerah ini,” kata Hamdar.

Abd. Kadir M, yang menampilkan judul “Sebatik Menuju Pulau Santri” menguraikan, munculnya lembaga pendidikan formal yang didirikan pemerintah mendorong sejumlah tokoh masyarakat dan kelompok pemerhati pendidikan membangun lembaga pendidikan keagamaan formal dan nonformal.

“Seperti Madrasah As’adiyah di Sengkang, Wajo, Sulawesi Selatan dan Madrasah al-Khairat sebagai cabang dari al-Khairat di Palu, Sulawesi Tengah. Para tokoh pendiri lembaga keagamaan ini memeroleh pendidikan dan pengetahuan agama di pesantren terkenal di Sulawesi dan Jawa, dan masih terikat dengan jaringan organisasi keagamaan sebagai pengurus dan simpatisan,” kata Kadir.

Idham, yang memberi judul makalahnya, “Religous Education Portrait in The Indonesia-Malaysia Border Area (Case of Sungai Limau Village, Central Sebatik District, Nunukan Regency, North Kalimantan),” mengemukakan, masih banyak anak-anak tenaga kerja Indonesia yang belum tahu baca-tulis Al-Quran. Anak-anak ini lebih membantu orang tua bekerja ketimbang bersekolah.

“Orang tua mereka juga tampak kurang peduli dengan pendidikan keagamaan anak-anak mereka, sehingga masih banyak yang belum tahu membaca, menulis, dan mengenal huruf Al-Quran,” kata Idham.

Sementara Arifuddin Ismail, yang menulis “Mempersiapkan Generasi Religious: Menyusuri Pernik-pernik Keagamaan di Tapal Batas,” menguraikan beberapa problem sosial keagamaan di daerah perbatasan Malaysia.

Menurut Arifuddin, problem sosial keagamaan di wilayah tersebut adalah penyebaran narkoba dan zat adiktif lainnya, perdagangan barang antarnegara tidak terkontrol, dan administrasi perkawinan tidak berjalan normal.

“Problem lainnya adalah pendidikan anak-anak TKI tidak terurus secara baik, penataan kependudukan yang sangat longgar, dan keterbatasa sumber daya manusia yang handal,” kata Arifuddin.

Abd. Kadir Ahmad, yang mengulas “Pendidikan Keagamaan pada Masyarakat Perbatasan; Memperkuat Tradisi Keagamaan sebagai Kekuatan Pemersatu di Kalangan Muslim Sebatik,” memberikan tiga rekomendasi pada laporan penelitiannya.

Rekomendasi pertama, kata Kadir, pengembangan pendidikan agama dan keagamaan harus diarahkan sebagai instrumen untuk memerkuat tradisi keagamaan di Sebatik. Kedua;  Moderasi beragama harus diperkuat melalui jangkauan jajaran kementerian agama dalam bidang pembinaan umat secara struktural maupun fungsional.

“Sedangkan rekomendasi ketiga adalah, pendekatan keamanan di Sebatik harus diintegrasikan ke dalam pendekatan kesejahteraan sebagai konsekuensi dari posisinya sebagai daerah perbatasan, yang secara ekonomi relatif tertinggal dari Malaysia,” kata Kadir Ahmad.

Peserta dan Narasumber

Pemaparan temuan lapangan PAU ini, mendapat tanggapan beragam peserta. Menariknya, beberapa peserta pernah menetap lama di Sebatik, sehingga memahami kondisi sosial keagamaan masyarakat di sana. Yang pasti, masukan peserta ini bisa juga dijadikan tambahan amunisi data bagi para peneliti.

Dua narasumber, Prof. Dr. Rafi Tang dan Prof. Azhar Arsyad, memberikan apresiasi positif terhadap temuan lapangan para PAU. Hanya saja, Rafi Tang, memberikan catatan seperti para peneliti fokus terhadap “tumpukan” data yang diperoleh.

“Dua aspek yang masih memerlukan analisis mendalam adalah tentang lembaga pendidikan keagamaan formal dan nonformal, sehingga rekomendasinya harus kuat untuk mencari solusi terkait pendidikan keagamaaan di sana,” kata Dosen Universitas Negeri Makassar, ini.

Azhar Arsyad, yang pernah menjabat Rektor Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, membahas mengenai pendekatan, desain, dan metodologi penelitian, seperti apa itu epistemologi, perspektif teoritik, metodologi, dan metode.

Kepala BLAM

Sementara itu, Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si, sebelum membuka seminar penelitian, menyatakan, para penyaji adalah orang yang berpengalaman melakukan penelitian. Mereka tidak hanya sudah merasakan puluhan tahun meneliti, tetapi juga mereka saat ini sudah mencapai gelar akademik tertinggi, yaitu doktor dan profesor.

“Dengan pengamalan penelitian, ditambah pencapaian beliau di bidang akademik, kita yang menjadi peserta saat ini seperti akan mendengarkan orasi ilmiah dari para Peneliti Ahli Utama BLAM. Beliau berlima adalah pengendali mutu atau Pemuka BLAM, yang menentukan kualitas hasil penelitian BLAM,” kata Saprillah. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *