Fri. Sep 25th, 2020

BLAM

KEREN

Memotong Jarak Ilmiah dan Fiksi

5 min read

Salah satu buku yang menulis dengan gaya sastrawi. Sumber foto: amazon.co.uk

1,820 total views, 2 views today

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Masih ingat polemik pidato Prabowo soal Indonesia Bubar tahun 2030? Konon, pidatonya itu didasarkan pada buku fiksi ilmiah karangan PW Singer dan August Cole. Buku yang berjudul ‘Ghost Fleet’ itu adalah sebuah novel, tetapi membuat prediksi-prediksi tentang masa depan dunia. Prediksi itu tentu dengan basis-basis data yang dimiliki sang penulis.

Saya tidak akan balik ke belakang soal polemik pidato tersebut. Tidak juga berkepentingan dengan benar tidaknya ramalan itu. Dalam kasus ini, yang penting bagi saya adalah, sejauh mana jarak antara fiksi dan ilmiah itu? Kalau misalnya Ghost Fleet membuktikan yang fiksi dan ilmiah itu tidak berjarak, atau kalau berjarak hanya sesilir bawang saja, maka mungkinkah tulisan ilmiah (laporan penelitian, disertasi, jurnal) ditulis dengan memadukan antara fiksi dan ilmiah?

Setidaknya, tulisan ilmiah yang bergaya sastrawi.  Kalau saya yang ditanya, saya akan mengatakan bukan hanya mungkin, tapi penting. Bukankah selama ini betapa banyak karya-karya ilmiah yang bertumpuk di perpustakaan, lapuk, dan dimakan rayap tanpa pernah disentuh oleh pembaca? Bahkan dengan guyon Gusdur pernah bilang;

Andaikan makalah-makalah dan karya ilmiah dikumpul dan disusun, mungkin sudah sundul langit dan Anda bisa ke bulan hanya dengan menitinya saja”.

Karya ilmiah yang tidak bisa diterapkan dan mungkin tidak menarik bagi pembaca,  nasibnya akan seperti kata Gusdur itu.  Ya….! Anda boleh bilang, biang keroknya karena tradisi literasi  masyarakat Indonesia yang sangat rendah, tapi saya juga bisa bilang, karena sajian dari karya ilmiah itu terlalu cengkar, kering, dan gersang.

Demi untuk kebutuhan dianggap ilmiah, tulisan bertema karya ilmiah itu biasanya tabu untuk memasukkan hal-hal bersifat sastrawi. Misalnya, puisi atau cerita-cerita fiksi. Jadilah tulisan tersebut hanya dipenuhi kutipan teori dan bahasa canggih (karena banyak memilih diksi asing).

Semakin banyak teori atau kutipan, dan semakin banyak diksi asingnya, maka semakin dianggap ilmiahlah tulisan tersebut. Beberapa jurnal bahkan mensyaratkan batas minimal yang harus dikutip. Maka, jangan coba-coba menulis ilmiah dengan gaya sastrawi, Anda bisa diceramahi apa itu karya ilmiah dan yang mana karya sastra (fiksi), serta distingsi  antara keduanya.

Benarkah masih harus dibedakan antara karya ilmiah dan karya sastra (yang dianggap fiksi) secara tegas? Benarkah pula bahwa yang ilmiah itu harus selalu mengutip teori dan dipenuhi dengan diksi asing?

Kita jawab dulu yang kedua. Ilmiah sebenarnya bukan soal banyaknya kutip-mengutip teori, apalagi soal menyajikan kata-kata yang banyak leksikon asingnya. Ilmiah ya….aktivitas mengumpulkan data dengan metode yang jelas serta kemampuan memerikan  data dengan argumentasi yang logis.

Bisa juga ditambah, karya semakin ilmiah, jika semakin bermanfaat bagi masyarakat. Soal nanti cara menulisnya sastrawi, misalnya mengambil cerita fiksi atau bahkan menyelipkan puisi, bukanlah menjadi ukuran tulisan itu dianggap tidak ilmiah. Yang penting, itu tadi, data jelas dan argumentasi masuk akal.

Kalau kita cermati penulis ilmiah ternama, semacam Amartya Sen, yang pernah mendapat Nobel atas karya-karya ilmiahnya itu, dengan santai menyelap-selipkan puisi atau cerita-cerita fiksi dalam karya ilmiahnya. Tengoklah! Kalau tidak percaya, karyanya Identity and Violence, prolognya dimulai dengan mengambil syair dari Mathew Arnold, ‘Dover Beach’:

And We Are Here as on a darkling plain

Swept with confused alarms of struggle and flight,

Where ignorant armies clash by night.

Bukan hanya sampai di situ. Saat Sen ingin menguar soal mengapa Kekerasan/Kebencian Bisa Merebak, lagi-lagi Ia mengutip sebait puisi Ogden Nash dalam “A Plea for Less Melice Toward None” :  “Any kiddie in school can love like a fool, but hating, my boy, is an art”.  Sekali waktu, ia bercerita dengan gaya fiksi. Misalnya, ia mengutip cerita kala ia melancong ke wilayah Karibia tahun 1961.

Penulis hebat lainnya yang dengan santai memasukkan puisi, syair atau cerita dalam tulisannya adalah Rudyard Kipling. Ia bahkan menulis sendiri puisinya dalam “The Ballad of East and West”, untuk menjelaskan pertarungan peradaban barat dan timur atau dalam bahasa Huntington sebagai Clash of Civilizations. Ia berpuisi begini   :

“Oh…. east is east, and west is west

And never the twain shall meet

Till earth and sky stand presently at

God’s great judgement seat

But there is neither east nor west, border, nor breed, nor birth,

When two strong men stand face to face though they come from the ends of   earth”

 Tulisan antropolog yang bertebaran, termasuk tentang Indonesia,  juga selalu bernuansa sastrawi. Tulisan Geertz tentang Sabung Ayam di Bali, yang dianggap sebagai salah satu karya etnografi yang bagus, bertutur renyah dan lincah laiknya karya sastra fiksi. Kita hampir tidak bisa membedakan lagi dalam alur tulisan tersebut yang mana fiksi dan ilmiah.

Sebagian malah menganggap Geertz dalam tulisannya itu, sedang menulis biografi tentang dirinya. Pengalaman dekat dia (emik) dalam bersentuhan dengan masyarakat Bali. Untuk kita ketahui biografi sesungguhnya cabang dari ilmu sastra, sementara sastra sendiri dianggap kental dengan fiksinya.

Begitu pun tulisan Anna Tsing mengenai masyarakat Dayak. Ia dengan bagus menampilkan syair tentang anak muda yang digambarkan sebagai serdadu. Begini syairnya :

Hai anak serdadu

Kemana engkau Pergi?

Belikan Aku Cerutu

Namanya Dubian Baru

Jelaslah, menulis karya ilmiah secara sastrawi, dalam arti bukan sekadar tulisannya yang mendayu-dayu, tetapi memasukkan unsur sastra misalnya syair, puisi, dongeng dan cerita bukanlah menjadi soal.

Yang paling penting digarisbawahi dalam menulis karya ilmiah sastrawi adalah untuk apa meletakkan unsur sastra dalam tulisan tersebut. Sejauh mana pentingnya dan dalam rangka apa? Sejauh hal itu tidak out of context, apalagi jika mendukung tulisan, maka justru keberadaannya menjadi penting.

Selain itu, menulis ilmiah sastrawi tidak berarti harus memasukkan kalimat-kalimat sastra dalam tulisan. Tidak harus selalu ada puisi. Tidak juga setiap saat memasukkan syair. Menulis sastrawi ilmiah tidak lain adalah, menulis satu hal yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, dengan cara menarik.

Tulisan bergaya sastrawi adalah, sebuah tulisan yang mendalam dan menggambarkan peristiwa secara detail, dengan gaya tulisan memikat dan mudah dimengerti. Membacanya seakan kita membaca sebuah cerita, dan peristiwanya terpampang jelas di depan mata kita.

Post Modernisme

Terakhir, saya akan menjawab pertanyaan pertama di atas, soal apakah yang ilmiah dan fiksi harus dibedakan secara tajam ?

Dalam era zaman now ini (baca; post-modernisme atau post-strukturalisme), tak ada distingsi yang tegas lagi antara fiksi dan ilmiah. Dalam Works and Lives: The Anthropologist as Authors, Geertz secara jelas menyatakan;  fakta dan fiksi memiliki kesamaan, sekaligus ia tegaskan, seorang antropolog yang menyusun karya etnografi (juga berlaku untuk para penulis ilmiah lainnya) ternyata sama saja dengan seorang pengarang sastra (novel, cerpen dan puisi).

Fiksi dan fakta adalah dua hal yang tak bisa direngkah secara tegas. Sementara seorang etnografer sama saja dengan seorang pengarang novel (author). Begitu kira-kira kesimpulan Geertz.

Memang, bagaimana pun juga,  apa yang Anda pertahankan mati-matian sebagai sesuatu yang ilmiah dengan segenap teori dan data, tidak ada yang bisa menjaminnya bahwa tidak mengandung fiksi. Sebaliknya juga demikian.

Singkatnya.., Menulislah tulisan Ilmiah, dan jangan ragu menggabungkannya dengan unsur-unsur sastra yang fiksi di dalamnya! Percayalah, keilmiahan tulisan Anda diukur dari sejauh mana ia dibaca, dirujuk, dan digunakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagaimana karya Kyai Ihsan Jampes,  Irsyad al-Ikhwan fi Bayan al-Hukm al-qahwah wa al-dukhan, murni syair bermatra rajaz, namun banyak dijadikan rujukan ketika ingin memahami hukum merokok dan minum kopi, bahkan oleh orang Arab sekalipun. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *