Mon. Jul 13th, 2020

BLAM

KEREN

Huma Betang: Modal Kultural Membangun Moderasi Beragama dari Kalimantan Tengah  

4 min read

Penulis, Dr. Sabara, berbicara pada kuliah umum di Kampus STAKN Palangkaraya. Foto: Dok. Pribadi

2,135 total views, 10 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Sabtu, 26 Oktober 2019, penulis selaku peneliti Balai Litbang Agama Makassar diundang Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKN) Palangkaraya untuk memberikan kuliah umum pada Program Sarjana di kampus tersebut.

Kuliah umum tersebut mengangkat tema “Moderasi Beragama Membawa Indoensia Maju”,  dengan sub tema “Relasi Kearifan Lokal Dayak dan Moderasi Beragam, Upaya Kontekstual Menangkal Salah Paham, Gagal Paham, dan Paham Salah.”

Kuliah umum tersebut juga menghadirkan Tiwi Etika, Ph.D, Dekan Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya, Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Tampung Penyang Palangkaraya. Tulisan ini merupakan catatan penulis tentang diskusi tersebut.

Pada kuliah umum tersebut, penulis mengangkat soal Kearifan Lokal Huma Betang Dayak Kalimantan Tengah dan Kontekstualisasinya dalam Membangun Semangat Moderasi Beragama. Kearifan lokal secara fungsional cukup efektif dalam menciptakan situasi lingkungan sosial yang harmonis dan rukun.

Tradisi lokal tersebut memiliki nilai penting, di antaranya sebagai acuan tingkah laku termasuk sebagai pedoman dalam berinteraksi dengan orang lain yang berbeda agama. Kearifan lokal menyediakan aspek kohesif berupa elemen perekat lintas kelompok, agama, dan kepercayaan.

 Huma Betang adalah istilah bagi Suku Dayak yang mengacu pada rumah besar sebagai tempat tinggal bersama masyarakat Suku Dayak.  Huma Betang berupa rumah panggung dan berbentuk memanjang. Panjang Huma Betang antara 30-150 meter, lebarnya sekitar 10-30 meter, dan memiliki tiang yang tingginya sekitar 3-5 meter. Setiap Huma Betang dihuni sekitar 100-150 jiwa.

Huma Betang dapat dikatakan rumah suku. Selain di dalamnya terdapat satu keluarga besar yang menjadikan penghuninya masyarakat yang tinggal di situ. Huma Betang dipimpin seorang kepala suku.

Bagi masyarakat Dayak, Huma Betang bukan sekadar rumah tempat tinggal, tetapi sebuah warisan budaya lokal yang sarat dengan kearifan dan sangat dihayati sebagai way of life oleh masyarakat Suku Dayak.

Meski kini sebagian masyarakat Dayak sudah tidak tinggal bersama lagi dalam Huma Betang, namun filosofi Huma Betang tersebut menjadi nilai kearifan lokal yang masih sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Dayak. Khususnya, masyarakat Suku Dayak Ngaju dan Manyan di Kalimantan Tengah.

Profesor Usop, dalam bukunya, Kearifan Lokal dalam Arsitektur Kalimantan Tengah (2011), menjelaskan, filosofi Huma Betang merupakan nilai-nilai yang selalu melekat pada diri setiap masyarakat Dayak Kalimantan.

Dalam artian, nilai-nilai di dalam Huma Betang tersebut bukan hanya sekadar warisan yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya, tetapi dihayati dan dikelola oleh masyarakat Dayak sebagai panduan menjalani hidup dalam kebersamaan, meski terdiri atas beragam perbedaan.

 Huma Betang mencerminkan kearifan hidup masyarakat Dayak yang damai dan toleransi dalam perbedaan. Menurut Profesor Usop, dalam Huma Betang terdapat empat pilar falsafah hidup utama, yaitu kejujuran, kesetaraan, kebersamaan, dan taat aturan atau disebut “Belom Bahadat.” Artinya, hidup bertata krama dan “Belom Penyang Hinje Simpe” hidup dalam kesetaraan, kedamaian, toleransi, dan kebersamaan.

Melalui empat pilar tersebut, muncul semangat persatuan yang menjunjung tinggi kebersamaan dalam menyikapi perbedaan secara jujur, terbuka, dan toleran, sehingga tidak akan menjadi jurang yang memisahkan ikatan kebersamaan.

 Huma Betang adalah sebuah simbol dan filosofi kehidupan masyarakat Dayak, khususnya Kalimantan Tengah yang menyiratkan nilai kebersamaan dalam keragaman, yang diikat oleh rasa kekeluargaan dan diimplementasikan melalui semangat gotong-royong demi menciptakan suasana damai dan harmonis. Pun, jika terjadi perselisihan, diselesaikan dengan dasar kemaslahatan bersama melalui pendekatan dialog secara kekeluargaan.

Makna filosofi Huma Betang sejalan dengan prinsip moderasi beragama yang saat ini menjadi arah kebijakan Kementerian Agama.

Menteri Agama, Lukman Hakim Syaifuddin, dalam sambutannya pada buku Moderasi Beragama yang disusun oleh Kementerian Agama, menyatakan, moderasi harus dipahami sebagai komitmen bersama untuk menjaga keseimbangan yang paripurna, di mana setiap warga masyarakat, apa pun suku, etnis, budaya, agama, dan pilihan politiknya harus mau saling mendengarkan satu sama lain, serta saling belajar melatih kemampuan mengelola dan mengatasi perbedaan di antara mereka.

Dengan demikian, moderasi beragama sangat erat terkait dengan menjaga kebersamaan dengan memiliki sikap tenggang rasa. Sebuah warisan leluhur yang mengajarkan kita untuk saling memahami dan ikut merasakan.

Dalam buku Moderasi Beragama tersebut dikatakan ada empat indikator moderasi beragama, yaitu; komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan dan akomodatif terhadap kebudayaan lokal. Demi membangun semangat moderasi beragama menjadikan kearifan lokal sebagai media sekaligus modal kultural dalam membentuk semangat keberagamaan masyarakat yang moderat.

Dalam kontkes masyarakat Dayak, Huma Betang merupakan modal kutural membangun moderasi beragama. Hal ini didasarkan pada semangat tingginya rasa kekerabatan, karena adanya rasa persaudaraan yang tinggi serta tidak saling menyalahkan satu sama lain. Ikatan kebersamaan begitu kuat dalam implementasi nilai Huma Betang, sehingga setiap adanya perbedaan diterima dengan terbuka dan disikapi secara toleran.

Huma Betang menggambarkan keterbukaan budaya masyarakat Dayak yang menerima setiap orang yang datang untuk tanpa memandang latar belakang etnik maupun agama untuk tinggal bersama mereka. Kaitannya dengan kerukunan umat beragama, sikap penerimaan dan penghargaan yang tinggi kepada agama dan kepercayaan yang berbeda dari warga Huma Betang.

Perbedaan agama dan kepercayaan merupakan hal yang biasa di antara penghuni Huma Betang. Bahkan, sangat biasa terjadi perbedaan agama di dalam keluarga seperti antara anak dengan orang tua, kakak dan adik.

Toleransi yang dipraktikkan tidak memandang perbedaan agama dan kepercayaan yang dianut oleh warga yang tinggal di dalam Huma Betang tersebut. Kebersamaan dalam perbedaan dilandasi dengan semangat penuh tenggang rasa dan tolong menolong tanpa memandang perbedaan, termasuk agama. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.