Thu. Nov 26th, 2020

BLAM

KEREN

Publik Toraja Antusias Nonton Film Tondok Marampa

3 min read

Foto bareng usai nonton film Tondok Marampa. Foto: Arie

1,687 total views, 2 views today

RANTEPAO, BLAM – Pemutaran film perdana “Tondok Marampa” mendapat sambutan antusias masyarakat di Kabupaten Toraja, Sulawesi Selatan.

Seusai nonton bareng film “Tondok Marampa” di Toraja Heritage Hotel, Rantepao, Toraja Utara, Kamis pagi, 24 Oktober 2019, mereka langsung memberikan apresiasi positif terhadap film yang mengambil lokasi syuting di Rantepao dan Makale, Kabupaten Toraja, ini.

Pemutaran film dihadiri kalangan akademisi dan mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKN) Toraja, Kepala Kementerian Agama Toraja Utara, serta beberapa tokoh agama, dan tokoh adat Toraja.

Kepala Kementerian Agama Toraja Utara, Pretty Lamban Gason, MTh, M.Adm, dalam sambutannya, mengaku gembira atas pembuatan film yang diproduksi oleh Peneliti Bidang Bimas Agama dan Layanan Balai Litbang Agama Makassar (BLAM) ini.

“Kami tentu saja sangat bergembira dengan film yang dibikin oleh Peneliti BLAM ini. Apalagi, film ini mengangkat soal kehidupan toleransi dan kerukunan umat beragama di Toraja,” kata Pretty.

Menurut Pretty, Toraja sejauh ini dikenal dengan masyarakatnya yang cinta damai. Meskipun masyarakat di Toraja heterogen dari segi agama dan etnis, sudah puluhan tahun tidak pernah terjadi konflik yang mengatasnamakan agama maupun etnis di daerah ini.

Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si, sebelum membuka peluncuran perdana film “Tondok Marampa”, menyatakan, pembuatan film ini merupakan salah satu upaya BLAM menghadapi era disrupsi, yang dikenal dengan Revolusi Industri 4.0.

“Film ini merupakan kegiatan pengembangan, bukan penelitian. Peneliti BLAM, sudah sangat sering melakukan penelitian mengenai kerukunan umat beragama di Kawasan Timur Indonesia, termasuk di Toraja,” kata Saprillah.

Pembuatan film ini termasuk produk pertama BLAM pada kegiatan pengembangan. Peluncuran film ini juga merupakan salah satu rangkaian tahap akhir kegiatan pengembangan (pengujian draf final) bertema “Model Kampanye Toleransi Beragama bagi Generasi Muda Melalui Media Sosial.”

Menurut Saprillah, sasaran film ini adalah generasi muda atau generasi milenial. Selain mengangkat tema kerukunan, BLAM juga hendak menggugah nasionalisme di kalangan generasi milenial, yang kerap dituding mulai menurun rasa nasionalismenya.

“Sasaran produk kita adalah bagaimana kita menyadarkan kembali anak muda mengenai identitas kebangsaan kita, yaitu identitas Indonesia. Dengan identitas Indonesia itu, kita sepakat untuk meredam identitas lokal kita, seperti tidak menjadi Toraja atau tidak menjadi Bugis, misalnya, tetapi kita bersepakat dengan identitas tunggal, yaitu Indonesia. Tentunya, dengan tidak meredam identitas lokal,” jelas Pepi, sapaan akrab Saprillah.

“Begitu bersepakat dengan itu, maka kita menerima Pancasila. Ketika agama-agama mereflesikan makna Pancasila, maka semua agama mengakui bahwa, Pancaila adalah bagian dari agamanya,” sambung Pepi.

Menurut Pepi, nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila merupakan bagian dari ajaran semua agama. Misalnya, tentang ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, bekerjasama dalam permusyawaratan, dan tentang keadilan.

“Semua nilai-nilai yang terdapat pada Pancasila itu ada pada semua agama. Semua agama di Indonesia mempunya nilai dari lima sila ini. Maka, kita kemudian bersepakat, menggunakan Pancasila sebagai basis kebangsaan kita,” jelas mantan aktivis PMII ini.

Seusai pemutaran film, Saprillah kemudian memberikan cinderamata berupa poster film “Tondok Marumpa” kepada Ketua STAKN, Dr. Joni Tapingku, M.Th. Cinderamata diberikan sebagai bentuk ucapan terima kasih BLAM atas segala bantuan yang diberikan STAKN selama pembuatan film. Dosen STAKN juga disibukkan mencarikan pemain, lokasi syuting, narasumber, hingga ikut menjadi pemain film.

“Kami sangat senang bisa membantu BLAM. Kami juga senang ikut dilibatkan dalam pembuatan film ini,” kata Dr. Rannu, Dosen STAKN, yang di film memerankan seorang pendeta.  Setelah pemberian cinderamata, acara lalu dilanjutkan dengan berdiskusi mengenai seputar film.

Kisah Tondok Marampa

Film “Tondok Marampa” yang berdurasi 40 menit, mengangkat kisah tentang kerukunan antarumat beragama di Toraja.

Cerita diawali dengan kedatangan Ijal (Syamsurijal), seorang Peneliti BLAM, ke Toraja. Ijal sebelumnya sudah pernah menginjakkan kaki di daerah yang terkenal dengan “Tedong Bonga” ini. Kali ini, kedatangan Ijal adalah untuk merasakan kembali kedamaian dan indahnya kerukunan antarpemeluk agama di Toraja.

Di Toraja, Ijal bertemu Desi (diperankan mahasiswa STAKN), yang memeluk agama Kristen. Nantinya, Desi memperkenalkan Ijal dengan sejumlah tokoh agama dan tokoh adat di Toraja, sekaligus berdiskusi mengenai mengapa kerukunan antarumat beragama bisa tetap terjaga hingga hari ini.

Dalam kehidupan keseharian, Desi mempunyai saudara kandung beragama Islam (diperankan Sitti Arafah, Peneliti BLAM). Perbedaan agama, atau dalam satu rumah tangga terdapat dua agama di Toraja, merupakan pemandangan yang umum terjadi di Toraja.

Setidaknya, masih ada beberapa keluarga yang mempunyai keluarga atau saudara berbeda agama. Ini pula yang menjadi salah satu penyebab terciptanya kerukunan antarumat beragama di daerah yang dikenal dengan rumah adat Tongkonan ini.

Selain Peneliti Bidang Bimas, film yang disutradarai Peneliti BLAM, Baso Marannu (Basmar Academy) ini, juga diperankan oleh mahasiswi STAKN, tokoh agama Islam dan Kristen, dan tokoh adat Toraja. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.