Mon. Jul 13th, 2020

BLAM

KEREN

Tradisi Mandi Safar dalam Budaya Islam Nusantara

4 min read

Sumber Foto: Radar Sampit-Prokal.co

2,608 total views, 16 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Di antara karakteristik masyarakat Muslim Nusantara adalah perhatian yang kuat terhadap waktu-waktu tertentu yang dianggap sebagai “waktu/hari baik” atau “waktu/hari naas”. Wujud perhatian terhadap waktu-waktu tersebut diimplementasikan dalam bentuk ritual dan tradisi yang semarak.

Bulan Rabiul Awal, Rajab, Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah adalah bulan dengan aneka tradisi kegembiraan demi menyambut  dan mengambil berkah keistimewaan dan kebaikan yang diyakini hadir pada bulan-bulan tersebut.

Selain bulan-bulan gembira ada juga keyakinan dan tradisi tentang bulan duka dan naas. Muharram diyakini sebagai bulan duka yang diwujudkan dengan beragam pantangan dan diekspresikan melalui beragam tradisi demi menggambarkan rasa duka lara.

Safar adalah bulan yang diyakini penuh dengan bala yang akan menimpa manusia. Oleh karenanya pada bulan Safar dilakukan beberapa ritual untuk mengambil hikmah dari pengalaman masa lalu sekaligus untuk menghindar diri dari datangnya bala. Salah satu ritual tersebut ialah mandi safar yang bermakna pembersihan diri dan menolak bala.

Mandi safar ditetapkan pada rabu terakhir bulan safar, tepatnya di minggu keempat bulan Safar. Banyak masyarakat Muslim Nusantara percaya bahwa tradisi mandi safar dilakukan untuk menolak bala atau malapetaka karena pada minggu keempat bulan Safar yang jatuh setiap hari Rabu atau hari terakhir, dianggap sebagai hari naas sehingga tidak baik untuk melakukan perjalanan atau untuk  memulai sebuah usaha.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak baik tersebut, maka pada hari itu, masyarakat membaca doa dan mandi baik di laut maupun di sungai. Pada rabu terakhir tersebut juga disebut rabu capuk atau rabu yang meninggalkan bekas, rebo kasan, rebo naas dan berbagai istilah lain yang menggambarkan bahwa hari tersebut adalah hari turunnya banyak bala.

Selain untuk menolak bala, ritual mandi safar adalah suatu upaya (laku) spiritual sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah yang dilakukan oleh sebagian masyarakat muslim di beberapa wilayah di Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, bahkan hingga masyarakat Muslim di wilayah Papua Barat.

Mengingat tradisi ini jamak dijumpai pada banyak komunitas Muslim di wilayah Nusantara, maka dapat dikatakan, tradisi mandi Safar merupakan salah satu bentuk tradisi Islam (di) Nusantara. Bulan Safar yang diyakini sebagai bulan naas, dengan demikian menjadi intropeksi bagi manusia untuk memohon ampun dan membersihkan diri guna terhindar dari bala yang diturunkan Allah.

Keyakinan bahwa bulan Safar adalah bulan naas didasarkan pada pandangan bahwa Allah SWT menurunkan 320.000 bala pada setiap tahunnya dan sebagian besar dari bala tersebut diturunkan pada hari rabu terakhir bulan safar.

Di antara pelaksanaan ritual mandi Safar pada satu daerah dengan daerah lainnya terdapat sedikit perbedaan dalam hal-hal yang bersifat teknis pelaksanaan maupun perlengkapan ritual. Namun, secara umum terdapat kesamaan terkait pelaksanaan ritual atau tradsi mandi tersebut.

Ritual mandi Safar merupakan ritual yang dilakukan secara berjamaah dalam jumlah peserta yang massif. Ratusan bahkan ribuan warga masyarakat, laki-laki maupun perempuan, orang tua maupun orang muda berkumpul baik di sungai maupun di pantai untuk bersama melakukan ritual tersebut yang dipimpin oleh seorang tokoh agama.

Tokoh agama yang memimpin prosesi bertugas membacakan doa demi keselamatan bersama bagi masyarakat yang hadir pada acara tersebut.  Tradisi Mandi Safar adalah ritual doa untuk menghindar dari bala dan memperoleh keselamatan yang diwujudkan dalam praktek tradisional, seperti minum dan mandi dengan air yang telah didoakan.

Doa mandi Safar biasanya berisikan tujuh ayat Alquran yang semuanya diawali dengan kata “salamun“, bertujuan untuk memohon keselamatan. Doa mandi Safar sebagian ada yang ditulis sebagian ada yang langsung dibaca.

Hal tersebut bertujuan untuk memohon syafaat, memohon dengan penuh harapan akan pengampunan, keberkahan dan keselamatan, dalam bahasa agama dikenal dengan istilah “tafa’ul“. Mandi dan minum dengan ayat diyakini sebagai perantara atau washilah, dan yakini memberi kesembuhan, keberkahan dan keselamatan hanyalahAllah SWT.

Terkait dengan eksistensi ritual mandi Safar ini terjadi pro dan kontra di kalangan masyarakat Musim sendiri. Di satu sisi ada yang menganggapnya sebagai tindakan bid’ah yang tidak boleh dilakukan karena bertentangan dengan ajaran Islam, bahkan dipandang dalam tradisi tersebut mengandung takhayul dan khurafal serta mengandung unsur syirik.

Namun di sisi lain ada yang berpandangan, ritual mandi Safar hanyalah sekadar tradisi leluhur yang bernafaskan Islam yang perlu dipelihara kelestariannya.

Kenapa tradisi mandi Safar tetap perlu dilestarikan, karena oleh para pengamalnya diyakini dalam tradisi mandi Safar terdapat benyak pesan-pesan kebaikan, untuk kita selaku manusia senantiasa introspeksi diri atas semua kesalahan yang telah dilakukan.

Oleh karenanya, perlu memohon ampun dan berdoa untuk mendapatkan keselamatan dan menghindarkan diri dan masyarakat dari bala bencana yang Allah turunkan.Terlepas dari apakah tradisi mandi Safar memiliki landasan dalil atau tidak, tradisi mandi Safar adalah sebuah budaya yang baik karena mengandung banyak kebaikan.

Masyarakat yang mengamalkan tradisi mandi Safar itu sendiri pastinya tidak menganggap tradisi tersebut sebagai bagian dari ibadah yang telah ditentukan secara syariat sebagaimana ibadah salat atau puasa. Mandi Safar hanyalah sebuah tradisi yang bernafaskan keagamaan sebagai bentuk ekspresi budaya keagamaan masyarakat Muslim Nusantara yang memegang teguh nilai-nilai agama dan mengintegrasikannya dalam laku tradisi kebudayaan.

Sebagai tradisi budaya keagamaan, melalui tradisi mandi Safar, umat Islam diingatkan untuk selalu mawas diri terhadap bala yang diturunkanAllah sebagai akibat dari dosa-dosa yang dilakukan.

Sehingga sebagai insan yang tak luput dari kesalahan perlu kiranya memohon ampun atas semua dosa dan kesalahan, sehingga masyarakat dapat selamat dari bala yang tuhan turunkan. Secara sosiologis, mandi Safar dapat berfugsi sebagai perekat kebersamaan dalam bingkai budaya yang bernafaskan agama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.