Mon. Jul 13th, 2020

BLAM

KEREN

Nasionalisme Kaum Santri  

3 min read

Sumber Foto: Tirto.id

2,265 total views, 2 views today

Oleh : Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Dalam waktu yang berimpitan tiga peristiwa penting berlangsung.  22 Oktober  diperingati sebagai hari santri, tanggal 28 Oktober  perayaan sumpah pemuda, sementara pada 10 November  tak lain adalah peringatan hari pahlawan.

Dua peristiwa terakhir sudah sering kali kita peringati, sehingga amat lekat dalam pikiran. Sementara peristiwa yang terjadi pada 22 Oktober baru saja ditetapkan sebagai hari santri oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 15 oktober 2015 melalui Keputusan Presiden No.22/2015.

Kendati baru ditetapkan sebagai hari santri, tetapi momentum itu punya keterkaitan dengan dua peristiwa lainnya. Tiga momentum bersejarah yang diperingati dalam waktu berdekatan tersebut, dengan demikian, jelas memberi makna, bahwa ketiganya memiliki sejarah yang menentukan perjalanan bangsa ini.

Tanggal 22 Oktober yang diperingati sebagai hari santri itu memang tidak bisa disisihkan dari Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945, yang kelak diperingati sebagai hari pahlawan.  Pada tanggal 22 Oktober 1945 itulah Deklarasi Resolusi Jihad dimaklumatkan oleh KH Hasyim Asyari.

Sebelum keluarnya Resolusi Jihad itu, Soekarno mengirim utusan meminta fatwa keagamaan terkait dengan agresi Belanda membonceng sekutu  yang ingin merebut kembali Indonesia. Soekarno menitip pertanyaan pada utusannya; “Apakah hukumnya membela tanah air, bukan membela Allah, membela Islam atau membela Alquran.

Sekali lagi membela tanah air?” Pertanyaan itu dijawab dengan dimaklumatkannya Resolusi Jihad yang antara lain berisi; “Membela tanah air sebagai fardu ain bagi kaum muslim yang mampu  serta gugur dalam membela tanah air adalah kematian yang syahid.”

Isi dari Resolusi Jihad itu membakar semangat patriotism para pemuda dan kaum santri  melawan Pasukan Sekutu di Surabaya. Resolusi jihad juga adalah pupuk yang menyuburkan cinta tanah air  para pejuang dan santri saat itu. Maka ketika arek-arek Surabaya yang terdiri dari pemuda dan para santri turun ke medan laga pada tanggal 10 November 1945, mereka seperti banteng-banteng republik yang tidak takut mati.

Sekutu kewalahan menghadapi semangat juang yang tinggi dari para pejuang di Surabaya, bahkan mereka harus kehilangan dua jenderalnya dalam waktu yang berdekatan. Keduanya adalah Brigjen Mallaby dan Brigjen Robert Guy Loder Symonds.

Sementara itu, jauh sebelum peristiwa heroik tadi, tanggal 28 Oktober 1928, para pemuda melaksanakan kongres pemuda yang melahirkan nasionalisme Indonesia dengan lahirnya Sumpah Pemuda.

Patut diingat bahwa dalam peristiwa sumpah pemuda itu santri-santri turut serta, mereka tergabung dalam Jong Islamieten Bon (JIB). Pada saat itu dua tokoh santri Hasyim Asyary dan Wahab Hasbullah turut hadir, meski datang belum atas nama organisasi tertentu.

Sebelum itu, kalangan ulama bersama santri dalam muktamar NU pada tahun 1927 telah melakukan perlawanan kebudayaan terhadap identitas budaya kolonial. Mereka menolak cara berpakaian kolonial yang dianggapnya sebagai budaya kafir dan mendorong masyarakat untuk kembali ke identitas pakaian nasional.  Salah satu model pakaian nasional itu adalah dengan mengenakan peci.

Belakangan deklarasi nasionalisme yang diikrarkan pada tanggal 28 Oktober 1928 itu dikukuhkan oleh ulama-ulama dan para santri.   KH Hasyim Asyari, Rais Aam NU menyatakan;  “Agama dan Nasionalisme adalah dua kutub yang tidak berseberangan.

Nasionalisme adalah bagian dari agama dan keduanya saling menguatkan.” Di lain kesempatan, KH Wahab Hasbullah juga menandaskan “Nasionalisme Yang Ditambah Bismillah Itulah Islam. Orang Islam Yang Melaksanakan Agamanya Secara Benar Akan Menjadi Nasionalis…”.

Mengapa ulama di Indonesia bisa menyandingkan antara nasionalisme dan Islam? Tak lain karena mereka meyakini bahwa nasionalisme adalah bagian dari ajaran Islam. Rasulullah Muhammad SAW menunjukkan nasionalismenya terhadap dua tanah air tempat Ia pernah tinggal. Hal ini tergambar dalam dua hadis berikut :

Alangkah indahnya engkau wahai Mekkah sebagai negeri, engkaulah tanah yang paling aku cintai. Seandainya kaumku tidak mengusirku niscaya aku tidak akan tinggal di negeri selainmu.” (Hadis Ibn Hibban dari Ibn Abbas).

Allahuma habbib ilayna al-madinata kahubbina makkata aw asyadda (Ya Allah jadikanlah kami mencintai Madinah, sebagaimana kami mencintai Mekkah, atau bahkan melebihinya)” [HR Bukhari].

Nasionalisme yang diikrarkan pada tanggal 28 Oktober 1928 ternyata ditanamkan oleh ulama-ulama di Nusantara ini.  Itulah yang menyebabkan mengapa rasa nasionalisme itu menghunjam kuat di sanubari para santri hingga hari ini.

Karena itu tak perlu tercengang, manakala sementara kalangan masih memperhadap-hadapkan antara Islam dengan nasionalisme, kaum santri malah tumpah ruah merayakan hari santri dengan semangat nasionalisme yang berdentum-dentum.

Para santri di Indonesia merayakan hari santri dengan tema Cinta Tanah Air, Indonesia Damai dan tema-tema nasionalisme lainnya. Dalam peringatan hari santri tersebut yang berkibar di angkasa adalah merah putih sebagai tanda bahwa merah putih berada di dada tiap-tiap santri tersebut.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.