Fri. Sep 25th, 2020

BLAM

KEREN

Guru Honorer di Madrasah Negeri; Peluang, Tantangan, dan Respons

7 min read

Sumber Foto: harnas.co

1,826 total views, 4 views today

 Oleh: H.M. Hamdar Arraiyyah (Profesor Riset di Balai Litbang Agama Makassar)

Dewasa ini minat calon siswa untuk belajar di madrasah negeri sangat tinggi. Minat tersebut mengalami peningkatan yang besar dibandingkan tiga atau empat dekade silam. Sebuah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan pada pertengahan tahun 1980-an hanya memiliki satu rombongan belajar (rombel) pada setiap tingkat.

Tak ada kelas paralel. Hanya ada satu jurusan, yaitu Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Pada tahun 2019  murid baru di kelas X yang diterima di madrasah itu (MAN 1 Soppeng) sebanyak 252 orang. Sebagian pelamar ditolak. Penolakan itu, menurut Kepala Madrasah, disebabkan oleh keterbatasan ruang belajar yang tersedia. Keterbatasan lain tentu ada, tetapi tidak diungkapkan.

Peningkatan minat calon siswa masuk MAN disebabkan oleh banyak faktor. Di antaranya, 1) keinginan calon siswa, dan mungkin juga arahan orang tua mereka, untuk belajar agama lebih banyak dibandingkan dengan jumlah jam mata pelajaran Pendidikan Agama di sekolah.

Kebutuhan terhadap pembelajaran agama yang lebih banyak disebabkan oleh kekhawatiran orang tua terhadap gejala-gejala penurunan kualitas moral di kalangan siswa secara umum;

2) Untuk waktu yang lama, banyak tamatan MAN yang berhasil melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi terkemuka dan selanjutnya menunjukkan keberhasilan pada saat memasuki dunia kerja atau menjalani kehidupan sebagai warga masyarakat;

3) Pada waktu sekarang MAN menawarkan pilihan jurusan yang lebih banyak, yakni IPA (Ilmu Pengetahuan Agama), IPS, Bahasa dan Keagamaan; namun penawaran itu tidak sama pada semua madrasah. Pada waktu sekarang sudah ada MAN dengan kejuruan tertentu; dan 4) MAN memiliki jumlah guru yang cukup, baik guru yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS) maupun honorer. Ketersediaan guru yang cukup karena diusahakan dengan segera oleh madrasah agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar.

Keberhasilan MAN dalam membina siswa tidak hanya dilihat dari segi prestasi tamatan secara perorangan, tetapi dapat dilihat sebagai prestasi institusi. Keberhasilan institusi ditunjukkan dengan sangat jelas  di MAN Insan Cendekia (IC) Serpong dan MAN IC Gorontalo.

Indikator utamanya adalah keberhasilan bagian terbesar dari tamatannya memasuki perguruan tinggi terkemuka di Indonesia dan sebagian di luar negeri. Karena keberhasilan itu, model pembinaan siswa di MAN IC diterapkan di berbagai provinsi di Indonesia.

Pendirian MAN IC di sejumlah provinsi berlangsung beberapa tahun terakhir. Kehadiran lembaga pendidikan ini menyebabkan jumlah MAN bertambah. Pendirian institusi ini tampaknya tidak disertai dengan rekrutmen guru dengan status PNS.

Akibatnya, pengangkatan guru honorer untuk memenuhi kebutuhan itu tidak dapat dielakkan. Bagi pihak madrasah, proses pembelajaran harus segera berjalan karena siswa sudah ada.

Minat calon siswa masuk ke madrasah negeri tidak hanya pada tingkat Aliyah, namun pada jenjang dasar, dari MI (Madrasah Ibtidaiyah) dan MTs (Madrasah Tsanawiyah). Pada tahun 2019 keadaan siswa di Gorontalo menunjukkan, MAN: 1.144 murid, MAN IC: 345 murid, MTsN: 1.185 murid, dan MIN: 641 murid (Arsyad, 2019). Keadaan murid di Bone menunjukkan, MAN 1: 1.096 murid, MAN 2: 630 murid, MAN Lappa Riaja: 1.105 murid (Rosdiana, 2019).

Keadaan murid di Kendari menunjukkan,  MAN 1: 834 murid, MTsN 1: 1.025 murid, dan MIN: 521 murid (Israpil, 2019). Angka-angka tersebut menunjukkan preferensi orang tua terhadap madrasah negeri cukup tinggi.

Kebutuhan Guru

Persentase guru honorer di madrasah negeri beragam. Keadaan di Gorontalo menunjukkan, MAN IC: 48 guru, dengan perincian 32 PNS ( 67%) dan 16 Non PNS (33%); MAN: 60 guru, dengan perincian 43 PNS (72%) dan 17 Non PNS (28% ), MTsN: 64 guru, dengan perincian 45 PNS (70%) dan 19 Non PNS (30% ), MIN: 28 guru, dengan perincian 21 PNS (75%) dan 7 Non PNS (25%) (Arsyad, 2019).

Data guru madrasah negeri di Kendari menunjukkan, MAN 1: 70 guru, terdiri dari 44 PNS (63%), 26 Non PNS (37%); MTsN: 65 orang dengan perincian: 44 PNS (68%) dan 21 Non PNS (32%), MIN: 33 orang, dengan perincian 28 PNS (85%) dan 5 Non PNS (15%) (Israpil, 2019).

Kebutuhan guru di MI lebih kecil dan relatif lebih mudah diatasi. Ini disebabkan karena guru MI   menangani satu kelas. Sebutannya guru kelas. Satu guru menghadapi satu kelas untuk jangka waktu tertentu dan memegang semua mata pelajaran.

Pengecualian dalam hal ini adalah mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, Kesenian dan Olah Raga yang diajarkan oleh guru tersendiri. Ini berbeda dari guru MTs dan MA yang seluruhnya memegang mata pelajaran tertentu. Oleh karenanya, kebutuhan jumlah guru di MTs dan MA menjadi lebih besar.

Sebagian MAN menyiapkan asrama bagi sebagian siswa. Statusnya madrasah berasrama. MAN yang menyiapkan asrama bagi semua siswa adalah MAN IC. Siswa yang tinggal di asrama mengikuti kegiatan ekstra kurikuler dalam beberapa bidang.

MAN IC Paser, sebagai misal, menyelenggarakan kegiatan belajar tambahan antara Magrib dan Isya. Tempatnya di kelas. Bahan-bahan yang diajarkan berupa kitab. Di antaranya: Ta’limul Muta’allim, Fathul Qarib, Safinatun Naja’, Aqidatul Awwam, Tafsir Jalalain, Ushul Fiqh, Hadis Arbain, dan al-Qawa’idul Fiqhiyyah. Materi kegiatan lainnya adalah latihan keterampilan ceramah dalam tiga bahasa (Indonesia, Arab, dan Inggris), Tahfiz, dan Tahlil, Maulid Habsyi/ Nasyid. Kegiatan yang disebutkan itu ditangani oleh pembina asrama (Badruzzaman, 2019).

Ciri pembinaan siswa di MAN IC seperti dikemukakan di atas menyebabkan tingkat kebutuhan tenaga pendidik/tenaga kependidikan di MA IC lebih tinggi dari MAN reguler.  Akan tetapi, karena MAN IC  ditangani khusus secara nasional, maka pengelolaan dan pemberdayaan guru (termasuk honorer) ditata lebih rapi.

Rekrutmen guru dilakukan Kementerian Agama Pusat secara nasional kemudian didistribusikan ke MAN IC di berbagai daerah. Kebutuhan guru dalam hal ini direspons dengan baik, yakni melalui seleksi yang ketat dengan beberapa bentuk tes.

Sebenarnya, pada waktu sekarang upaya pemenuhan terhadap kebutuhan guru MTs dan MA relatif lebih mudah diatasi. Ini disebabkan karena banyak alumni perguruan tinggi yang mempunyai latar belakang program studi yang dibutuhkan.

Sebagian di antaranya sudah menyelesaikan pendidikan pada strata dua. Penelitian yang dilakukan di MAN 1 Manado menunjukkan bahwa kebutuhan guru mata pelajaran tertentu harus diatasi dengan pengangkatan guru honorer, karena guru tidak tersedia atau jumlah guru tidak mencukupi.

Guru mata pelajaran yang dimaksud, yaitu IPS, Sosiologi, Sejarah, Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Kimia, dan Bahasa Jepang. Di lain pihak, terdapat jumlah guru yang dirasakan lebih, yakni Matematika (Asnandar, 2019). Sementara itu, penelitian di MAN 2 Samarinda menunjukkan bahwa terdapat beberapa mata pelajaran yang tidak diampu oleh guru PNS. Yakni, 1) Kimia, 2) Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, 3) Geografi, 4) Fikih, dan 5) Antropologi.

Adapun mata pelajaran Al-Qur’an dan Hadis sudah diampu oleh guru PNS, namun tenaga guru honorer masih diperlukan untuk mengatasi jumlah jam pelajaran yang belum terlayani (Badruzzaman, 2019). Temuan itu menunjukkan bahwa guru honorer yang dibutuhkan terdiri dari guru mata pelajaran agama dan umum.

Dilema Guru Honorer

Pengangkatan guru honorer di madrasah merupakan suatu tantangan sekaligus peluang. Dikatakan tantangan, karena pihak madrasah perlu berusaha untuk menyediakan guru mata pelajaran yang dibutuhkan itu dan menyiapkan imbalan jasanya.

Pihak madrasah dapat memasukkan anggaran honorarium bagi guru yang diangkat pada anggaran belanja madrasah, namun jumlahnya relatif kecil. Tingkat penghasilan guru honorer masih belum dapat memenuhi kebutuhan hidup yang minimal yang mereka harapkan.

Meskipun demikian, suatu hal yang menguntungkan, madrasah di sejumlah daerah mendapat bantuan dari pemerintah daerah setempat yang diperuntukkan bagi guru honorer. Hal lain yang sangat menggembirakan, yakni sebagian guru honorer sudah mendapatkan tunjangan sertifikasi profesi guru.

Secara umum, guru honorer di madrasah negeri mempunyai jumlah jam mengajar sesuai standar minimal, yakni 24 jam per minggu. Di MAN 1 Kendari terdapat beberapa orang guru honorer yang mengajar lebih dari 24 jam, yakni sampai 39 jam. Akan tetapi, terdapat pula satu dua guru yang mempunyai jam mengajar di bawah dari 24 jam (Israpil, 2019).

Artinya, secara formal guru honorer yang diangkat di madrasah negeri mempunyai jam kerja yang sesuai ketentuan. Di samping itu, pihak madrasah juga menerapkan langkah-langkah sesuai kondisi setempat dalam menyikapi kelebihan atau kekurangan jam mengajar bagi guru honorer.

Harapan yang umum bagi guru honorer di madrasah ialah agar mereka dapat diangkat menjadi PNS. Sebagian dari mereka tidak menjadikan status honorer sebagai penghalang untuk memberikan dedikasi yang terbaik di madrasah tempat mereka mengajar.

Bahkan sebagian dari mereka rela mengerjakan tugas-tugas tambahan dengan senang hati, melebihi semangat pengabdian sebagian guru dengan status PNS. Harapan ini agaknya perlu diperjuangkan oleh pihak madrasah dan Kementerian Agama.

Hal serupa perlu diperhatikan oleh instansi pemerintah lainnya yang terlibat dalam rekrutmen guru PNS di madrasah. Pengalaman mereka mengajar dan penilaian kinerjanya sebaiknya diperhitungkan dalam proses rekrutmen CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) di madrasah.

Hubungan kerja antara pihak madrasah negeri dan guru honorer belum diikat dalam suatu perjanjian tertulis yang sifatnya ketat dan mengikat. Ini dapat dimaklumi, karena imbalan terhadap pengabdian guru honorer belum dapat diusahakan secara maksimal.

Pemberian tunjangan sertifikasi dan impassing bagi honorer yang telah memenuhi syarat untuk itu sebenarnya sangat membantu dan diapresiasi oleh guru honorer. Meskipun demikian, pihak madrasah tak dapat berbuat banyak jika guru honorer yang potensial, diandalkan, dan  menunjukkan kinerja yang sangat baik, mengundurkan diri karena berbagai sebab.

Satu di antaranya ialah karena guru yang bersangkutan lulus seleksi menjadi PNS dan bertugas di tempat lain. Di satu sisi pihak madrasah kehilangan, di sisi lain pengembangan karier guru perlu didukung. Di satu sisi pihak madrasah atau Kementerian Agama sudah mengeluarkan biaya penguatan dan pemberdayaan, namun di sisi lain negara perlu memberi kesempatan berkembang lebih baik bagi warganya.

Kebutuhan MAN reguler terhadap rekrutmen guru honorer biasanya terjadi sewaktu-waktu. Misalnya, ada guru PNS yang mutasi ke tempat lain atau pensiun, atau sebab lain. Dengan demikian, dapat dimaklumi jika proses pengangkatan selama ini dilakukan secara informal.

Lagi pula, pihak madrasah tidak serta merta mampu menyediakan anggaran bagi tenaga honorer yang mengganti guru PNS yang pensiun atau mutasi ke tempat lain. Meskipun demikian, peluang untuk mengangkat guru honorer perlu direspons oleh kepala madrasah dan pihak terkait lainnya dengan mengangkat guru yang memiliki kompetensi tinggi.

Bila tantangan direspons dengan cara yang terbaik, maka hasil yang terbaik dapat diraih untuk kemajuan madrasah. Ide itu sejalan dengan slogan yang didengung-dengungkan beberapa tahun terakhir. Bunyinya, ‘Madrasah lebih baik. Lebih baik madrasah’. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.