Sat. Mar 28th, 2020

BLAM

KEREN

Dari Istilah ‘Radikalisme (Ber)Agama’ Menjadi ‘Hororisme (Ber)Agama’

4 min read

sumber foto: Amanat.id

3,205 total views, 16 views today

Oleh :Syamsurijal

Setelah penyerangan Menkopolhukam, Wiranto, isu radikalisme meruak kembali menjadi perbincangan publik, setidaknya begitulah yang tercermin di Media Sosial. Seperti biasa, diskusi  soal radikalisme selalu gaduh.  Penyebabnya tak lain, karena ada sementara kalangan yang masih berkeyakinan bahwa isu itu hanya desain atau proses stigmatisasi pada kelompok atau agama tertentu.

Media Barat, Pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat dianggap berperan dalam membangun, meminjam bahasa Bourdeu, ‘doxa’ radikalisme. Sesuatu yang dikonstruksi sedemikian rupa, sehingga diterima menjadi kebenaran di tengah masyarakat.

Tidak bisa dimungkiri, istilah radikalisme (ber)agama memang dipopulerkan oleh media-media Barat, termasuk sarjana-sarjana Barat yang meneliti Dunia Timur. Kendati istilah radikalisme (ber)agama itu muncul dari media dan peneliti Barat, tidak berarti bahwa fakta tentang radikalisme (ber)agama itu tidak ada.

Dengan kata lain, istilah ini bukanlah semata-mata bikinan media dan sarjana Barat untuk mendiskreditkan agama tertentu. Peristiwa kekerasan, penyerangan dan teror yang mengatas namakan agama, jamak tampil di berbagai belahan dunia, tak terkecuali di Indonesia.

Apakah kemudian fakta-fakta kekerasan, intimidasi terhadap agama yang berbeda, perusakan rumah ibadah dan aksi teror tidak cukup untuk membuktikan bahwa radikalisme (ber)agama itu hadir di tengah-tengah kita? Apakah sekian penelitian yang dilakukan sungguh-sungguh soal  radikalisme beragama,  bukan satu data?

Boleh jadi memang ada ketidaktepatan menggunakan istilah radikalisme.  Bukankah sejarah munculnya istilah radikalisme ini adalah sesuatu yang berenergi positif? Semua yang membaca tentang makna dan sejarah munculnya istilah radikalisme ini, pasti miris, dengan makna radikalisme yang saat ini semakin miring ke arah negatif.

Penggunaan kata ‘radikalisme’ secara serampangan dan terus menerus atas berbagai tindakan kekerasan dan terorisme yang mengatas namakan agama, akan menjauhkan  radikalisme dari maknanya yang agung. Bukankah radikalisme adalah gerakan politik yang ingin melakukan perubahan sosial dengan sungguh-sungguh, menyeluruh dan mendasar.

Gerakan radikal yang demikian itu telah melahirkan tokoh-tokoh sekelas Soekarno , Marthin Luther ataupun Malcom X. Gerakan radikal itu juga telah memberikan sumbangan besar atas lahirnya teologi pembebasan di Amerika Latin.

Tetapi kurang tepatnya penggunaan istilah itu, tidak berarti bahwa kekerasan dan aksi terorisme yang mengatas namakan agama tidak ada.  Kelompok ini nyata dan ada di mana-mana menjalankan aksinya. Demikian halnya, mereka yang secara ekslusif memaknai teks-teks agama hanya sebatas yang mereka pahami dan  menganggap di luar kelompoknya kafir, murtad, musyrik atau pelaku bid’ah. Kelompok itu juga jelas ada umatnya. Marty secara terang menunjukkan kriteria kelompok ini sebagai berikut;

Pertama; Pemaknaan literal-monolitik & tertutup terhadap teks kitab suci. Bagi kalangan ini memaknai teks kitab suci secara kontekstual akan merusak makna transendental dari teks itu. Karena itu teks suci harus dimaknai sesuai dengan arti literalnya dan menolak semua pemaknaan yang berasal dari luar, sekalipun kelompok lain itu juga memaknai secara literal.

Kedua;  sikap fanatisme buta, eksklusivisme, intoleran, dan sering membolehkan kekerasan dan teror demi tercapainya cita-cita yang diharapkan.

Ketiga; Gerakan ini senantiasa berupaya membersihkan dan berjuang memurnikan agama dari modernisme. Paham modern bagi mereka tidak ubahnya kotoran bagi keyakinan, debu-debu keimanan dan penggoda yang memikat namun menjerumuskan.

Keempat; Kaum ini memonopoli kebenaran atas tafsir agama dan karenanya menolak pluralitas pemaknaan kebenaran agama. Implikasi dari pemahaman ini adalah mudahnya mereka menuduh yang lain jahiliah, sesat, bid’ah  bahkan kafir. Persoalannya boleh jadi sepele, mungkin karena berbeda tafsir terhadap satu kata, stigma sesat bisa dilekatkan.

Kelima; Kelompok ini menolak segala paham yang menghargai keragaman, misalnya paham pluralisme.

Keenam, kelompok ini juga biasanya berintensi mengubah tatanan bernegara di satu wilayah, apalagi jika menganggap bahwa bentuk negara di wilayah tersebut tidak berdasarkan agama, menurut versi mereka.

Ciri-ciri yang dikemukakan oleh E. Marty dengan gamblang kita bisa saksikan saat ini di Indonesia. Belum lagi beberapa hasil penelitian yang menunjukkan gejala-gejala itu sudah menghinggapi beberapa kelompok masyarakat.

Salah satunya penelitian Wahid Foundation yang menyebut 49% Muslim Indonesia rentang terpapar intoleransi dan penelitian Setara Institute yang menunjukkan semakin tingginya kalangan muda terpapar sikap intoleransi ini.  Kasus-kasus pengeboman, penyerangan kepada aparat keamanan dan kalangan pemerintahan serta ancaman pembunuhan terhadap beberapa tokoh adalah berita yang kerap hadir di depan kita.

Dengan berbagai gejala tersebut, masihkah kita menganggap tidak ada persoalan yang kemudian disebut dengan radikalisme (ber)agama ini? Salahkan kalau kemudian dilakukan beberapa tindakan pencegahan atau bahkan sikap melawan tindakan semacam itu?  Masihkah kita akan berdebat soal istilah?

Semua pemeluk agama tentu yakin, tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan apalagi terorisme. Tetapi di saat yang sama kita pun harus membuka mata bahwa beberapa kalangan penganut agama, melakukan tindakan kekerasan ataupun teror dengan mengatas namakan agama.

Tentu saja bukan agamanya yang salah dan karena itu gerakan yang dilakukan adalah menyadarkan kembali umat beragama pada pemahaman keagamaan yang lebih santun, damai dan menghargai perbedaan.

Karena itu jika saat ini digunakan istilah radikalisme, maka konteks penempatannya secara sosiologis tidak sama lagi dengan istilah radikalisme pada masa awal munculnya istilah ini. Istilah radikalisme saat ini, dengan demikian, harus dilihat dalam konteks yang berbeda.

Cuma memang penggunaan istilah ini tidak boleh hanya asal ‘menembak’ orang atau kelompok tertentu. Orang yang hanya bersikap kritis atau berseberangan dengan pemerintah misalnya, tidak boleh disebut radikalis, kecuali kalau makna radikal ini dikembalikan seperti semula.

Ruwet ya…? Agar tidak ruwet, bagaimana kalau orang atau kelompok yang hobi menyebar kebencian, senang kekerasan dan teror atas nama agama serta sulit menerima perbedaan, kita ganti dengan istilah lain; “Hororisme (Ber)Agama.”

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.