Mon. Jul 13th, 2020

BLAM

KEREN

Ingin Bangun Rumah Baru? Inilah Bulan-Bulan Baik Menurut Naskah Tahsilul Fawaidh

4 min read

Bab 45 halaman 193 Naskah Tahsilul Fawaidh. Foto: Dok.BLAM

50,426 total views, 426 views today

Oleh: Sitti Arafah (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Dalam QS. An-Nahl:80 Allah Swt menjanjikan kenikmatan yang artinya “Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal…”.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah memberikan penjelasan tentang ayat di atas, bahwa: “Allah mengingatkan akan kesempurnaan nikmat yang Dia curahkan kepada para hamba-Nya berupa rumah tinggal yang berfungsi untuk memberikan ketenangan bagi mereka. Mereka bisa berteduh (dari panas dan hujan) dan berlindung (dari segala macam bahaya) di dalamnya. Juga, bisa mendapatkan sekian banyak manfaat” (Susanto Zaid; muslim.or.id, diakses 17 Oktober 2019).

Memiliki tempat tinggal (rumah) yang baik, dijauhkan dari marabahaya, dan senantiasa menjadi tempat berkumpul bersama yang selalu mendatangkan kebahagiaan, serta kegembiraan,  merupakan cita-cita setiap orang. Termasuk pula masyarakat Bugis.

Tulisan Rizka dan Marwati, Pengaruh Adat Terhadap Fasad Rumah Tradisional Bugis Bone, dalam Jurnal Teknosains Volume 10 Nomor 1 2016, menguraikan beberapa wasiat orang Bugis yang mesti diperhatikan saat akan mendirikan rumah baru. Misalnya, menggelar berbagai macam ritual untuk mengetahui pemilihan tempat penentuan arah peletakan batu/tiang, arah menghadapkan rumah, termasuk pemilihan waktu baik (hari maupun bulan).

Sebenarnya, bukan orang Bugis saja yang melaksanakan mendirikan rumah baru. Etnis-etnis lain pun begitu. Bahkan, ritual antara etnis yang satu dengan yang lain, terdapat kemiripan. Hal ini dikemukakan Devit Etika Sari, yang menulis, Adat Bangun Rumah di Jawa: Studi Antropologi di Nganjuk, Jawa Timur, yang dimuat di Jurnal Ekonomi dan Hukum Islam, Volume 8 Nomor 2, 2017. Menurutnya, hampir keseluruhan etnis di Indonesia memiliki bentuk kebudayaan yang mirip satu dengan yang lain.

Masyarakat Jawa, misalnya. Etnis ini punya banyak kebudayaan atau tradisi yang diwariskan secara turun temurun, yang masih dipraktikkan hingga kini. Kalender, misalnya. Kalender bagi orang Jawa merupakan salah satu kekayaan kebudayaan mereka, yang dianggap peninggalan Kesultanan Mataram.

Beberapa peristiwa penting dalam kehidupan mereka dihitung berdasarkan pada perhitungan kalender Jawa, seperti pernikahan, bangun rumah, pekerjaan, dan lainnya. Hitungan Jawa dalam adat Jawa digunakan untuk mengambil keputusan berkaitan hari, pasar, bulan, maupun lainnya.

Pada masyarakat Bugis-Makassar, khususnya masyarakat pedesaan, sebagian besar mempraktikkan juga tradisi dan ritual ketika akan memulai sesuatu yang baru. Beberapa lontarak juga menjelaskan tentang waktu atau bulan baik untuk mendirikan rumah.

Salah satu lontarak yang menjelaskan perihal tersebut adalah Lontarak Bilang, termasuk Lontarak Bola. Demikian halnya Naskah Tahsilul Fawaidh, yang ditulis menggunakan aksara Bugis, pada salah satu babnya (Bab 45), menjelaskan tentang bulan yang dianggap baik mendirikan sebuah rumah. Bab ini juga menguraikan mengenai bulan yang sebaiknya dihindari untuk mendirikan sebuah rumah berdasarkan bulan Hijriah.

Berikut ini isi Naskah Tahsilul Fawaidh Bab 45 halaman 193:

Naiyya bab mappatappuloe lima rilelenna pannesaiengngi uleng iya makessingnge riabbkeng bola  rilelenna ritu, iyarega  dek namakessing riabbukeng bola rilelenna ritu.

  1. Uleng ”Muharram”, dek namakessing riappatettongeng bola rilelenna ritu, tuli nakennai punnae bola roca-roca.
  2. Uleng ”Safar’, makessingi riappatettongeng bola rilelenna ritu, masepmpo dallei punnae bola.
  3. Uleng ”Rabiul awal”, dek namakessing riappatettotengeng bola tuli nakenna sukkara punnae bola.
  4. Uleng ”Rabiul akhir”, makessing riappatettotengeng bola rilelenna ritu sawu ininnawa punnae bola.
  5. Uleng ”Jumadil awal”,  makessing riappatettotengeng bola rilelenna ritu masempo dallei punnae bola.
  6. Uleng ”Jumadil Akhir” majai riappatettongeng bola rilelenna ritu ateddengengngi punnae bola.
  7. Uleng ”Rajab”, dek namakessing riappatettongeng bola rilelenna ritu, amatengengngi punnae bola
  8. Uleng ” Sya’ban” makessing riappatettongeng bola rilelenna ritu masempo dallei punnae bola.
  9. Uleng ”Ramadhan” makessing riappatettotengeng bola masempo dallei punnae bola, mabbarakkai bolana.
  10. Uleng ”Syawal” majai riappatettotengeng bola nanrei api.
  11. Uleng ”Dzulqaiddah” makessing riappatettotengeng bola napolei waramparang maega punnae bola lettu rianak eppona.
  12. Uleng ”Dzulhijjah”, makessing riapptettotengeng bola napoleiwi waramparang punnae bola. Wallahu a’lam”.

Artinya:

Bab empat lima di dalamnya menjelaskan tentang bulan yang dianggap baik maupun bulan yang tidak baik untuk mendirikan sebuah rumah.

  1. Bulan ”Muharram” tidak baik untuk mendirikan rumah, akan selalu terkena pertengkaran/perselisihan bagi pemiliknya.
  2. Bulan ”Safar” baik untuk mendirikan rumah, sang pemilik rumah memiliki kemudahan dalam memperoleh rejeki
  3. Bulan ”Rabiul awal” tidak baik untuk mendirikan rumah, senantiasa mendapat kesusahan/kesukaran bagi pemiliknya.
  4. Bulan ”Rabiul Akhir” baik untuk mendirikan rumah dan senantiasa diliputi perasaan senang dan bahagia bagi pemiliknya.
  5. Bulan ”Jumadil Awal”, baik untuk mendirikan rumah, senantiasa dimudahkan rejeki bagi pemiliknya;
  6. Bulan ”Jumadil akhir” tidak baik untuk mendirikan rumah dan akan sering kehilangan pemiliknya.
  7. Bulan ”Rajab”, tidak baik untuk mendirikan rumah, akan mendapatkan musibah (kematian) bagi pemilik rumah;
  8. Bulan ” Sya’ban” baik untuk mendirikan rumah dan akan dimudahkan rejeki bagi pemiliknya.
  9. Bulan ”Ramadhan” baik untuk mendirikan rumah dan mudah rejeki bagi pemiliknya dan berberkah pula rumahnya.
  10. Bulan ”Syawal” tidak baik untun mendirikan rumah, karena akan termakan api (kebakaran rumahnya).
  11. Bulan ”Dzulqaiddah” baik untuk mendirikan rumah, akan memperoleh harta benda yang banyak bagi pemilikinya hingga anak cucunya.
  12. Bulan ”Dzulhijjah” baik untuk mendirikan rumah, akan memperoleh harta benda yang banyak bagi pemilkinya. ”Wallahu a’alam”. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.