Mon. Jul 13th, 2020

BLAM

KEREN

Dakwah Berbasis Peta Keagamaan

6 min read

Para dai sebaiknya melakukan dakwah berbasis peta keagamaan. Sumber foto: apahabar.com 

2,591 total views, 4 views today

Oleh: H.M. Hamdar Arraiyyah (Profesor Riset Bidang Agama dan Tradisi Keagamaan Balai Litbang Agama Makassar)

Dakwah merupakan upaya untuk menyampaikan ajaran agama Islam kepada umat dan pihak-pihak yang berminat untuk mengetahuinya agar mereka memahami, menghayati dan menerapkannya sehingga menimbulkan pengaruh yang baik pada individu-individu yang menjadi sasaran dakwah dan lingkungan terkait.

Dengan kata lain, di dalam aktivitas dakwah terdapat materi yang akan disampaikan, individu atau kumpulan individu yang menjadi sasaran dakwah, cara menyampaikan dan tujuan yang akan dicapai.

Dengan demikian, pada suatu kegiatan dakwah, terutama dalam bentuk ceramah dan bimbingan lisan, terdapat unsur-unsur pokok yang harus diperhatikan agar kegiatan itu efektif.

Jika dielaborasi lebih lanjut, maka pada aktivitas dakwah terdapat pelaku yang harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang materi yang akan disampaikan. Pengetahuan tersebut diperoleh melalui proses belajar yang panjang dan sungguh-sungguh.

Dalam kaitan ini, pelaku dakwah harus memilih materi dan metode menyampaikannya untuk suatu kegiatan atau serangkaian kegiatan yang berkelanjutan. Pemilihan materi dan metode ini membutuhkan pengetahuan tentang individu dan masyarakat yang akan dihadapi.

Seorang dai yang akan menyampaikan dakwah dalam bentuk ceramah kepada audiens perlu memeroleh informasi sekilas tentang audiens tersebut.

Informasi tersebut mencakup, antara lain, tingkatan usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan gambaran pemahaman agama yang sudah dimiliki, tingkat ketaatan dalam menjalankan ibadah, hal-hal yang mereka sukai dan tidak sukai dari segi budaya lokal, latarbelakang pekerjaan, paham keagamaan yang dianut oleh bagian terbesar dari audiens, aktivitas keagamaan yang menonjol di kalangan mereka, lingkungan sosial di sekitar tempat ceramah diadakan seperti homogenitas atau heterogenitas warga, tingkat kepatuhan masyarakat pada hukum, jenis-jenis kenakalan remaja, dsb.

Informasi dasar seperti itu penting agar seorang pembicara bisa mendekatkan dirinya dengan audiens sedekat mungkin sehingga apa yang disampaikan itu bisa dicerna dan diresapi.

Dai yang menjalankan tugas dakwah sebagai profesi perlu memiliki pengetahuan yang lebih detail tentang sasaran dakwah. Mereka yang menyandang predikat sebagai penyuluh agama Islam dapat membuat sendiri peta keagamaan di wilayah tugasnya. Ini sesungguhnya merupakan salah satu tugas bagi penyuluh agama yang berstatus sebagai Aparatur Sipil Negara maupun honorer.

Tuntutan serupa sesungguhnya dapat diusahakan oleh organisasi keagamaan yang bergerak di bidang dakwah. Juga, hal itu dapat disediakan oleh lembaga pendidikan tinggi keagamaan yang memiliki potensi sumber daya manusia yang banyak, yakni dosen dan mahasiswa. Akan tetapi, menyiapkan peta keagamaan bukan perkara mudah sehingga kewajiban menyiapkan peta keagamaan yang ideal sering diabaikan atau sulit diwujudkan.

Kesulitan membuat peta keagamaan, atau lebih khusus lagi peta dakwah, disebabkan oleh berbagai faktor. Di antaranya, penentuan luas wilayah yang dipetakan. Sejumlah organisasi keagamaan pernah mencoba membuat peta dakwah, namun hasilnya kurang memuaskan. Peta yang direncanakan tak kunjung tuntas.

Salah satu penyebabnya adalah cakupan wilayahnya terlalu luas, yakni satu provinsi. Idealnya, peta dakwah itu dibuat berdasarkan  satuan wilayah administrasi pemerintahan yang kecil. Upaya membuat peta dakwah berbasis kecamatan pernah dilakukan, namun ini pun masih dirasakan tidak mudah.

Karenanya, pembuatan peta dakwah yang ideal sebaiknya berbasis desa/kelurahan. Ini agaknya lebih mudah dikerjakan dan dapat dijadikan landasan untuk menyediakan informasi tentang peta dakwah secara menyeluruh di suatu kecamatan. Demikian seterusnya pada satuan wilayah yang lebih luas hingga dapat disiapkan peta dakwah secara nasional.

Kesulitan lainnya terkait dengan jenis data atau informasi yang akan disediakan dalam peta. Ini membutuhkan pertimbangan yang matang dari segi penggunaan konsep dan penyediaan data atau informasi terkait. Tidaklah mudah untuk menyiapkan data atau informasi yang berkenaan dengan paham keagamaan yang dianut umat di suatu wilayah tertentu.

Kategori paham keagamaan bisa menggunakan perspektif aliran teologi, mazhab fikih, penggolongan paham yang digunakan oleh warga setempat seperti kaum tua untuk penganut paham tradisional dan kaum muda untuk penganut paham pemurnian, atau kaum modernis.

Demikian seterusnya. Walaupun tidak mudah, namun penyediaan data dan informasi tentang paham keagamaan dapat disiapkan dengan menggunakan pertimbangan tertentu.

 Data Keagamaan

Salah satu isi penting dari peta keagamaan untuk keperluan dakwah adalah data keagamaan. Ragam data keagamaan banyak sekali. Akan tetapi, unsur-unsur yang diperlukan dapat dibatasi berdasarkan prioritas kebutuhan dan kesanggupan untuk menyediakannya.

Di antaranya, jumlah dan persentase pemeluk agama di satu wilayah tertentu; jumlah dan penyebaran rumah ibadah; data organsisasi keagamaan; lembaga pendidikan umum berciri keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan, jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan, latarbelakang suku bangsa, latar belakang pekerjaan, data pernikahan dan perceraian, jumlah anggota IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia), petugas pemulasaran jenazah, dsb.

Beberapa jenis data perlu disepakati oleh semua pihak yang terlibat dalam pembuatan peta sehingga melalui kegiatan pemetaan berbasis kelurahan/desa ini dapat dibuat peta dakwah secara nasional.

Di samping ada satuan data berupa angka-angka yang dapat direkapitulasi secara nasional, peta keagamaan dapat pula dikembangkan dengan karakteristik tertentu di suatu wilayah kelurahan/desa.

Dengan kata lain, ada peta yang isinya standar, namun ada pula peta yang sifatnya pengembangan di suatu wilayah. Jenis kesenian di suatu daerah, sebagai contoh, bisa jadi berbeda dari daerah lain.

Kesenian kecapi yang biasanya punya tema ceritera tertentu di daerah Bugis, mungkin tidak sama atau berbeda dari apa yang terdapat di daerah lain. Penuturan ceritera dalam kesenian kecapi sarat dengan pesan-pesan yang bisa jadi mendukung atau berseberangan dengan misi dakwah. Seni dapat dijadikan media dakwah. Karenanya, kelompok kesenian menjadi penting untuk dimasukkan dalam peta dakwah.

Peta dakwah itu dinamis. Sebagai misal, jumlah pemeluk agama mengalami perubahan karena ada warga yang lahir atau mati, datang atau pergi, atau mengalami konversi agama.

Dengan demikian, data pemeluk agama perlu di-update secara periodik. Paling tidak, data di-update pada akhir tahun dan dapat diakses oleh masyarakat luas. Untuk mengantisipasi perubahan itu, proses pemutakhiran data dilakukan oleh penyedia data secara bertahap mulai dari awal tahun. Proses ini membantu pemutakhiran data secara akurat, terhindar dari kekeliruan.

Data pemeluk agama di suatu daerah, seperti tingkat kabupaten, disediakan oleh beberapa instansi pemerintah. Di antaranya, Kantor BPS (Badan Pusat Statistik) setempat, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, dan Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota. Data pemeluk agama yang ditampilkan instansi itu sering berbeda satu sama lain.

Di sinilah perlunya organisasi keagamaan dan lembaga pendidikan tinggi untuk mengambil bagian. Lembaga pendidikan tinggi keagamaan dengan jumlah mahasiswa yang banyak dapat mengumpulkan data dari tingkat RT (Rukun Tetangga) dan melakukan verifikasi langsung pada pengurus RT.

Melalui program KKN (Kuliah Kerja Nyata), misalnya, mahasiswa dapat membantu menyiapkan data keagamaan yang dimamaksud dengan tingkat akurasi yang tinggi.

 Isi Peta Dakwah

Peta, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia online, berarti gambar atau lukisan pada kertas dan sebagainya yang menunjukkan letak tanah, laut, sungai, gunung, dan sebagainya; representasi melalui gambar dari suatu daerah yang menyatakan sifat, seperti batas daerah, sifat permukaan; denah (26/08/2019).

Pengertian ini kurang lebih sama dengan arti map dalam sebuah kamus bahasa Inggris online. Kata map diartikan dengan a diagrammatic representation of an area of land or sea showing physical features, cities, roads, etc. (26/08/2019).

Dengan bantuan sebuah peta dapat diketahui batas suatu wilayah darat atau laut. Dengan bantuan peta dapat diketahui letak dan jumlah masjid di suatu wilayah. Dengan menggunakan simbol seperti bulan sabit, sebuah peta menunjukkan letak masjid dan penyebarannya. Hal seperti ini lazim digunakan.

Dengan demikian, simbol dapat menjadi salah satu instrumen pada pembuatan peta keagamaan terkait dengan data dan informasi tertentu.

Penggunaan ragam warna juga sudah lama digunakan dalam pembuatan peta. Peta penyebaran dan persentase umat Islam di berbagai negara di seluruh dunia sudah dibuat puluhan tahun silam.

Model itu dapat dikembangkan untuk memberi informasi yang lebih khusus tentang pemeluk Islam, seperti paham keagamaan. Dengan demikian, banyak hal yang dapat diinformasikan dalam peta keagamaan dengan memainkan warna.

Peta keagamaan dalam bentuk deskripsi panjang tentang suatu tema sudah pernah dibuat oleh Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama. Salah satunya adalah peta kerukunan umat beragama di semua provinsi di Indonesia. Peta ini memuat data umat beragama dan deskripsi tentang relasi di antara umat di setiap provinsi.

Relasi itu menggambarkan interaksi yang terjalin di antara umat dalam satu agama dan interaksi di antara umat dari berbagai agama. Interaksi itu pada umumnya rukun, namun tidak luput dari peristiwa yang menimbulkan ketegangan dan gesekan di antara umat.

Melalui deskripsi yang panjang dapat diketahui gambaran umum tentang tingkat kerukunan umat beragama di daerah yang bersangkutan. Idealnya memang demikian, ada bagian dari peta dakwah yang memberikan gambaran sekilas tentang suatu isu melalui deskripsi singkat.

Satu lagi isi peta dakwah yang tidak kalah pentingnya adalah data yang dituangkan dalam bentuk tabel atau diagram. Tampilan tersebut memudahkan pembaca untuk mendapatkan gambaran tentang arti yang dikandungnya.

Selain itu, penyajian data menjadi lebih menarik. Hanya saja, data yang disampaikan itu perlu dijaga kesahihannya dan pencantuman persentase dilakukan dengan benar sesuai kaidah dalam bidang ilmu terkait.

Peta dakwah menyajikan data dan informasi awal. Kandungan peta itu menjadi bermkna jika dianalisis.

Lebih baik lagi bila proses analisis melibatkan pihak-pihak yang dipandang mengetahui dan mampu memberi penjelasan. Sebab-sebab terciptanya suatu keadaan yang diharapkan maupun tidak diharapkan dalam kehidupan beragama perlu diketahui dengan cermat.

Selanjutnya, langkah-langkah untuk mengatasi kelemahan, mempertahankan dan meningkatkan kondisi yang sudah baik dapat dirumuskan dengan baik.

Lebih baik lagi, jika para pelaku dakwah dapat melakukan langkah-langkah antisipatif terhadap suatu ancaman yang mungkin terjadi atau program-program yang responsif terhadap kebutuhan, potensi dan peluang baik yang tersedia. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.