Fri. Sep 25th, 2020

BLAM

KEREN

Rektor IAIN Parepare Gembira Teken MoU Peta Keagamaan Berbasis Kelurahan

3 min read

Peneliti BLAM, Baso Marannu, menjelaskan Peta Keagamaan Berbasis Kelurahan di depan dosen dan mahasiswa di Perpustakaan IAIN Parepare.

1,993 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM – IAIN Parepare menyambut gembira produk yang dihasilkan Balai Litbang Agama Makassar (BLAM) dalam bentuk Peta Keagamaan Berbasis Kelurahan di Kota Parepare, Sulawesi Selatan.

 

Hal ini ditunjukkan dengan adanya kesepakatan penandatanganan nota kesepahaman, atau Memorandum of Understanding (MoU), antara BLAM dengan IAIN Parepare, yang berlangsung di lantai lima Perpustakaan IAIN Parepare, Kota Parepare, Rabu pagi, 9 Oktober 2019.

 

Penandatanganan MoU tersebut dilakukan Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si, dengan Rektor IAIN Parepare, Dr. Ahmad Sultra Rustan, M.Si, yang disaksikan Wakil Rektor I IAIN Parepare, Dr. Sitti Jamilah Amin, dan Kepala Sub Tata Usaha BLAM, Ilham, M.Si.

 

Dengan penandatanganan MoU ini, bertambah lagi jumlah kerjasama BLAM dengan pihak kampus terkait produk riset dan pengembangan. BLAM bahkan akan terus melebarkan sayap untuk terus melakukan kerjasama dengan pihak-pihak kampus di KTI, atau instansi pemerintah lainnya.

 

Sebelumnya, BLAM telah melakukan kerjasama dengan sejumlah kampus di Kawasan Timur Indonesia (KTI), antara lain, Universitas Islam Negeri Makassar, Universitas Haluoleo Kendari, Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, dan STAIN Sorong.

 

Khusus peta keagamaan, BLAM sebenarnya sudah melakukan sebanyak tiga kali. Sebelum di Parepare, BLAM pernah melakukan di Kota Balikpapan dan Kota Kendari. Hanya saja, sampel di setiap daerah berbeda. Di Balikpapan mengambil sampel satu kecamatan, sedangkan di Kendari mengambil sampel Kota Kendari.

 

“Untuk Parepare, kami memilih Kelurahan Lakessi di Parepare. Berdasarkan pengamatan kami, kehidupan masyarakat di kelurahan ini tampak lebih plural dan majemuk dibanding kelurahan-kelurahan yang lain,” kata Saprillah, saat memberi sambutan.

 

Sebelum peta keagamaan berbasis kelurahan dibuat, selama beberapa hari Peneliti Bidang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan BLAM menelusuri data demografis dan geografis di Kantor Kelurahan Lakessi, hingga ke rumah-rumah Kepala RT/RW. Peneliti juga mendata organisasi keagamaan di setiap RT.

 

Saprillah menyatakan, peta keagamaan ini sangat penting untuk melihat dan memahami kondisi sosio-kultural masyarakat, terutama kalangan penyuluh dan Kantor Urusan Agama (KUA) di kementerian agama, serta da’i.

 

“Dari hasil penelitian kami, masih ada da’i yang ketika berdakwah tidak bersikap sosiologis. Padahal, kalau kita membaca sejarah masuknya Islam di nusantara, para ulama yang menyebarkan Islam itu selain paham agama, mereka juga memahami kondisi sosial masyarakat yang didakwahi. Para ulama kita menggunakan pendekatan agama berbasis sosial,” kata Saprillah.

Sebaliknya, kata Saprillah, masih ada beberapa da’i yang berdakwah tanpa memahami kondisi sosial masyarakat yang akan diceramahi. Tentu saja, hal ini bisa melahirkan konflik antara da’i dan warga masyarakat.

 

“Misalkan saja ada perkampungan yang warganya masih melakukan barzanji dan tradisi upacara siklus hidup. Maka, da’i yang berdakwah di situ tidak boleh menghabisi tradisi tersebut dengan melarang warga melakukan tradisi. Kalau ini dilakukan, maka bisa menimbulkan konflik,” kata Saprillah.

 

“Di sinilah pentingnya peta keagamaan yang kami buat. Dengan peta ini, kami berharap para da’i bisa lebih memahami kondisi sosial masyarakat yang akan diceramahi,” sambung Pepi, panggilan akrab Saprillah.

 

Selain penyuluh agama, petugas di KUA, dan da’i, peta keagamaan ini juga ditujukan kepada mahasiswa yang akan melakukan KKN. Nantinya, mahasiswa yang tengah KKN itu yang mengisi, sekaligus melengkapi item-item yang terdapat di dalam peta keagamaan ini.

 

Walikota Parepare

Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kota Parepare, Arifuddin Idris, yang membacakan sambutan tertulis Walikota Parepare sebanyak tujuh halaman, menyatakan, peta keagamaan berbasis kelurahan yang diproduksi oleh BLAM merupakan jawaban atas tuntutan akan proses penyelenggaraan pemerintahan yang bersih, transparan, dan mampu menjawab tuntutan perubahan secara efektif.

 

“Kami tentu berbahagia, karena peta keagamaan berbasis teknologi ini akan memudahkan kami untuk melihat peta lokasi rumah ibadat, peta pendidikan keagamaan, peta organisasi keagamaan, peta problem keagamaan, dan sebagainya,” kata Arifuddin.

 

Dihadiri sejumlah dosen IAIN Parepare, mahasiswa di berbagai perguruan tinggi di Parepare, dan Peneliti BLAM, Walikota Parepare diwakili Plt. Dinas Pendidikan Kota Parepare, Arifuddin Idris, memberikan sambutan sekaligus membuka peluncuran perdana (launching) Peta Keagamaan Berbasis Kelurahan ini.

 

Rektor IAIN Parepare, Dr. Ahmad Sultra Rustan, M.Si, menyambut gembira kerjasama dengan BLAM. Menurutnya, peta keagamaan buatan Peneliti BLAM ini dapat memudahkan pekerjaan mereka sebagai akademisi.

 

“Kami tentu sangat gembira dengan kehadiran peta keagamaan ini. Produk ini sangat bermanfaat bagi kami, dan benar-benar berelevansi dengan kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang akademisi. Kami bahagia dengan kerjasama ini, sehingga kami akan memanfaatkan produk ini untuk melakukan peta keagamaan dan mengambil kebijakan,” kata Ahmad Sultra.

 

Selama tiga jam lebih, Peneliti BLAM, Baso Marannu, mengajarkan peserta untuk mengoperasikan peta keagamaan berbasis kelurahan ini. Semua peserta menyimak dan memerhatikan setiap penjelasan dari Baso Marannu. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.