Sun. Nov 29th, 2020

BLAM

KEREN

Bahas Produk BLAM, Saprillah Singgung Roland Barthes

3 min read

Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si, berfoto dengan sebagian peserta workshop, Jumat, 27 September 2019. Foto: Dok. BLAM

2,357 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM – Semua orang diberi kebebasan untuk menafsirkan dan memaknai produk yang dihasilkan oleh Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), yang telah dilepas ke publik. BLAM menerima lapang dada segala macam bentuk tafsiran tersebut, baik berupa pujian maupun kritikan.

Menurut Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si, ketika mereka melakukan launching atas karya atau produk ke publik, pihaknya kemudian berlepas diri dan menyerahkan sepenuhnya penilaian kepada publik. BLAM tidak bisa lagi melakukan pembelaan atas munculnya beragam reaksi, lantaran posisi BLAM saat itu telah “mati”.

“Ketika kita membuat film, buku, modul, cerita bergambar, dan sebagainya, pekerjaan itu tidak akan selesai, dengan selesainya pekerjaan itu. Dalam Istilah Ronald Barthes, The Death of The Author, atau “Matinya Pengarang”. Kita tidak bisa lagi membela diri ketika publik mengeritik karya yang kita lahirkan, karena tidak sesuai kepentingan mereka,” kata Saprillah, sebelum menutup tiga kegiatan pengembangan (workshop) BLAM, di Hotel Novotel Makassar, Jumat pagi, 27 September 2019.

Selama tiga hari, 25 – 27 September 2019, di Hotel Novotel Makassar, BLAM menggelar tiga kegiatan pembahasan draft final pengembangan, yang dilaksanakan tiga bidang penelitian. Ini merupakan kegiatan terakhir pengembangan sebelum dilakukan launching Oktober mendatang. Sejumlah akademisi, penyuluh agama, aktivis LSM, dan peneliti, diundang mengikuti kegiatan ini.

Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan mendedah “Modul Riset Sederhana Bagi Siswa Madrasah di Provinsi Sulawesi Selatan,” Bidang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan mendiskuskan “Model Kampanye Toleransi Agama Bagi Generasi Muda Melalui Media Sosial.” Sementara Bidang Lektur Khazanah Keagamaaan dan Manajamen Organisasi membahas “Penulisan Aksara Lontara di Sulawesi Selatan.”

The Death of The Author atau “Matinya Pengarang” pertama kali digagas oleh Filsuf dan Kritikus Sastra asal Perancis, Roland Gerard Barthes, pada 1968. Istilah ini kemudian menjadi populer di kalangan penulis dan peneliti dunia, termasuk Indonesia.

“Tidak ada otoritas mutlak dalam menafsirkan teks, karena masing-masing orang punya pengetahuan dan pengalaman sendiri-sendiri. Orang-orang bebas secara leluasa mengemukakan tafsiran pribadinya, termasuk memuji dan melakukan kritik,” kata Saprillah.

Pembuatan film bertajuk toleransi agama, yang mengambil lokasi di Kabupaten Toraja, Sulawesi Selatan, yang digarap Peneliti Bidang Bimas, misalnya. Film tersebut dibuat dengan peralatan sederhana, dan jauh dari standar pembuatan perfilman nasional.

“Ketika film kita ini sudah dilempar ke publik, kita tidak bisa lagi membela diri kalau misalnya film ini tidak sesuai dengan ekspektasi khalayak publik. Sebab, orang hanya tahu Anda bikin film, dan tidak ingin tahu bagaimana prosesnya, dan peralatan yang kita gunakan saat bikin film,” katanya.

“Jadi, sekali lagi, publik memiliki kebebasan untuk memaknai, dan menafsirkan sebuah karya sesuai pengetahuan dan pengalaman mereka. Namun, saya selalu mengapresiasi terhadap produk yang dihasilkan peneliti. Apapun yang kita kerjakan dan hasilkan, inilah hasil yang menurut kami terbaik, dan semoga saja bisa bermanfaat,” sambung pria berusia 42, ini.

Pada kesempatan ini, Saprillah menyinggung lagi kepada seluruh peneliti BLAM untuk menghindari plagiarisme atau plagiat, lantara bisa berdampak buruk terhadap lembaga bersangkutan.

Menurutnya, plagiarisme tidak hanya berlaku untuk penulisan karya tulis ilmiah yang akan dimasukkan ke dalam jurnal, tetapi juga ditujukan kepada karya-karya lain, termasuk kegiatan pengembangan (workshop) yang BLAM lakukan.

“Ketika teman-teman melakukan plagiarisme, maka habis kita! Ketika ini (plagiarisme) terjadi, publik tidak lagi melihat kepada person-person yang melakukan tindakan itu, tetapi juga lembaganya. Ini yang semua selalu kita waspadai dan harus kita hindari,” tegasnya. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *