Mon. Jul 13th, 2020

BLAM

KEREN

BLAM Tuntaskan Riset Sederhana, Kampanye Toleransi Agama, dan Penulisan Aksara Lontara

3 min read

Peserta pembahasan draft final kegiatan pengembangan BLAM, di Hotel Novotel Makassar. Foto: Risma

2,250 total views, 6 views today

MAKASSAR, BLAM – Kepala Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), H. Saprillah, M.Si, menegaskan, lembaga yang dipimpinnya tak ingin diidentikan sebagai “menara gading”, yang hanya bekerja sendiri dan menghasilkan suatu karya sendiri.

Karena itu, BLAM kerap mengundang dan melibatkan instansi pemerintah maupun lembaga non pemerintah untuk mengerjakan kegiatan workshop atau pengembangan.

“Litbang tidak hanya bekerja di “menara gading”, tetapi juga bermain di wilayah yang dibutuhkan publik. Kami pun bukan super hero yang tahu banyak hal, dan karenanya, kami selalu mengajak pihak-pihak lain untuk terlibat dalam kegiatan pengembangan kami, termasuk penandatanganan MoU,” kata Saprillah, sebelum membuka tiga kegiatan workshop BLAM, di Hotel Novotel Makassar, Rabu malam, 25 September 2019.

Menurut Saprillah, kerjasama dengan berbagai pihak diakui sangat penting. Sebab, kata dia, sebuah pengetahuan tidak akan pernah bisa berdiri sendiri. Kalau pengetahuan diproduksi sendiri, ia akan merasa benar sendiri, dan ujung-ujungnya, akan merasa mengetahui banyak hal sendiri.

“Saya sering mengulangi ini pada beberapa kali kesempatan, bahwa di sinilah pentingnya bekerjasama dan mendialogkan pengetahuan. Pengetahuan memang harus dikerja bersama. Yang paling parah apabila merasa benar dengan pengetahuan yang keliru, sehingga yang terjadi adalah ia merasa benar dengan pengetahuan yang salah. Mengapa? Karena pengetahuannya tidak pernah didialogkan,” katanya.   

Sejauh ini, pihak kampus di kawasan Timur Indonesia, telah banyak menggunakan dan mengadopsi hasil penelitian dan pengembangan BLAM. Bentuk kerjasama itu ditandandai dengan penandantanganan MoU.

Konteks kelitbangan sendiri tidak melulu bergerak di bidang teori, melainkan juga riset yang sifatnya praktis. BLAM menyadari, telah terjadi pergeseran ruang sosial, di mana masyarakat sekarang ini lebih menyenangi bermain di ruang virtual.

“Hampir pasti, aktualisasi diri kita ada di ruang virtual itu. Bahkan mungkin, dunia hiperrealitas ke depan akan menjadi true reality,” katanya.

Selama tiga hari, 25 – 27 September 2019, di Hotel Novotel Makassar, BLAM menggelar kegiatan pembahasan draft final pengembangan, yang dilaksanakan tiga Bidang Peneliti BLAM. Ini juga sekaligus menuntaskan pembahasan kegiatan pengembangan untuk tahun 2019.

Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan membahas “Modul Riset Sederhana Bagi Siswa Madrasah di Provinsi Sulawesi Selatan,” Bidang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan membahas “Model Kampanye Toleransi Agama Bagi Generasi Muda Melalui Media Sosial.” Sementara Bidang Lektur Khazanah Keagamaaan dan Manajamen Organisasi menggodok “Penulisan Aksara Lontara di Sulawesi Selatan.”

Sejumlah akademisi, penyuluh agama, aktivis LSM, dan peneliti, diundang mengikuti kegiatan ini. Sebelum launching Oktober mendatang, peneliti BLAM yang terlibat di dalamnya kegiatan pengembangan ini, akan “merapikan” lagi pekerjaannya.

Dari tiga kegiatan pengembangan, dua di antaranya bergelut di dunia virtual, yaitu teknologi internet (media sosial) dengan menyasar kalangan generasi muda.

Bidang Bimas Agama, misalnya, membuat film pendek berjudul “Tondok Solata: Kampung Persahabatan”, yang mengisahkan kehidupan toleransi antarumat beragama di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Sedangkan Bidang Lektur membuat cerita bergambar berbahasa Bugis-Makassar, dan ditulis menggunakan bahasa lontara.

Ada dua misi yang ditawarkan peneliti Bidang Lektur dalam pembuatan cerita bergambar, yang ditujukan buat anak-anak SD itu. Yaitu, konservasi nilai lokal dan moderasi beragama.

Misi pertama mengenai konservasi nilai-nilai lokal, dianggap Saprillah, penting sebagai penyambung sejarah masa silam ke masa kini. Anak-anak di era sekarang ini, seperti kehilangan dengan akarnya sendiri. Tak banyak lagi generasi sekarang yang mengerti tulisan lontara, sehingga dikhawatirkan bisa menimbulkan kehilangan basis historis.

“Padahal, dalam teori identitas, salah satu penguat identitas adalah bila kita tersambung dengan historis kita. Salah satu hal yang bisa menyambung manusia masa lalu dengan manusia sekarang adalah nilai lokal yang disepakati bersama-sama melalui kebudayaan yang sifatnya artifisial, yang dalam hal ini adalah huruf-huruf lontara,” kata Saprillah.

“Cerita bergambar yang diarahkan kepada anak-anak SD itu tujuannya untuk mengkonservasi nilai-nilai huruf lokal, sekaligus menyambung anak-anak muda yang lahir pada generasi terkini dengan lokalitasnya, sehingga menjadi tidak terputus,” sambung Pepi, sapaan akrab Saprillah.

Sementara misi kedua dari cerita bergambar adalah moderasi beragama, yang ingin menyampaikan pesan, bahwa semua nilai-nilai agama mengajarkan tentang moderasi beragama.

Nah, cerita bergambar ini akan memuat nilai-nilai tentang modersi beragama, khususnya pergaulan antaridentitas agama Islam dan Kristen, serta beberapa suku yang berbeda. Kita harus bermain di mana suasana publik berada di situ,” jelas Pepi. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *