Thu. Nov 26th, 2020

BLAM

KEREN

Anrongta; Pesan-pesan Kesetaraan Gender dalam Pasanga ri Kajang

5 min read

Perempuan Komunitas Tana Toa Kajang melakukan abborong-borong. Foto: Syamsurijal

4,565 total views, 2 views today

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar dan Pemerhati Komunitas Adat Sulawesi Selatan)

Ketika para tamu khusus dan para galla (pengurus adat) telah duduk melingkar, mantra-mantra pun menguar ke langit. Guru Patuntung (guru spiritual) memandu orang-orang yang hadir merapal doa-doa permohonan. Hening…! Angin seakan berhenti bertiup. Hewan malam senyap menyimak. Pepohonan tegak terpaku.

Bayangan hitam pepohonan di malam hari, bagai penjaga kegelapan. Pelan tetapi pasti, rembulan menyembul dari balik awan. Sinarnya yang terang benderang menyapu Borong Karama (Hutan Keramat).

Kilatannya menyusup di sela-sela pohon, lalu berpendar di satu dataran luas tempat para galla dan orang-orang duduk melingkar. Tetapi, jika diperhatikan seksama, cahaya rembulan yang berkilau-kilau itu, seakan-akan jatuh persis ke satu titik, menyorot langsung ke Amma Lolo (Bapak Yang Muda). Dialah yang bakal menjadi Amma Toa (Bapak Yang Dituakan).

Namun, Amma Lolo belumlah ditabalkan sebagai Amma Toa yang sah. Persis ketika Anrongta ri Pangi (Sang Ibu Yang Berdiam di Pangi) datang mengalungkan tope (sarung hitam khas Kajang), disusul suguhan sirih dan pinang dari Anrongta ri Bongki (Sang Ibu Yang Berdiam di Bongki), barulah Amma Lolo tadi sah menjadi Amma Toa.

Maka, di saat itulah, Sang Amma Toa bangkit dari duduknya, kemudian dengan suara yang terang di tengah senyapnya malam dan di bawah siraman cahaya rembulan, ia kemudian bertitah:

“Kunni-kunni aklaklang ngase mako ri nakke, nasaba inakke najokjo pangngellae ri to rie akra’na, nakuanjari ngasenmo nipa’lalangngi.”

“Sekarang ini Anda sekalian berlindung di bawah naungan saya,  karena saya telah mendapat rahmat dari To Rie akra’na menjadi tempat segenap handai tolan untuk bernaung.”

Demikianlah, salah satu versi pemilihan Amma Toa, sang Pemimpin Adat di Komunitas Tanah Toa Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Sebelum ritual penabalan tadi, terlebih dahulu ada masa persiapan. Dalam masa persiapan itu, ada beberapa proses yang dilakukan. Salah satunya, ritual melepas kerbau. Ritual ini dilakukan untuk menemukan calon Amma Toa. Di kolong rumah yang dimasuki kerbau tersebutlah, yang menjadi cikal-bakal Amma Toa.  Pada saat itulah, ia disebut Amma Lolo

Untuk sampai pada ritual penabalan di Borong Karama, Amma Lolo yang sudah terpilih harus diseleksi oleh alam. Masyarakat Tanah Toa akan melihat, apakah saat Amma Lolo sudah terpilih, alam bersahabat dengan komunitas ini? Apakah negeri ini menjadi subur-gemah ripah loh jenawi? Dalam Pasanga ri Kajang disebutkan:

“Naparanakkang juku, napaloloiki raung kaju,

nahambangiki allo, naturungiki bosi

nabattuiki lorang tua nakajariangki tinannang” 

“Ikan bersibak, pohon-pohon bersemai,

  matahari bersinar, hujan turun,

  air tuak menetes, tanaman  menjadi”

Namun, ujung dari keseluruhan rangkaian pemilihan Amma Toa adalah, pemasangan tope serta suguhan siri dan pinang dari dua orang perempuan, yang disebut Anrongta (Sang Ibu) tadi. Dengan demikian, dari seluruh rangkaian itu, Anrongtalah  yang menjadi salah satu koencinya. Dialah yang menentukan Amma Lolo sudah ditabalkan menjadi  Amma Toa atau belum.

Amma Toa

Sepanjang sejarah dan sependek yang saya pahami, yang memangku Amma Toa di Tanah Toa Kajang, selamanya memang laki-laki. Kendati demikian, bukan berarti komunitas ini tidak memberikan tempat yang tinggi terhadap perempuan.

Buktinya, yang menabalkan Amma Toa adalah dua Anrong (Ibu) tadi. Dua Anrong inilah yang menjadi penentu, apakah seseorang memang sah menjadi Amma Toa atau tidak.

Konon, jika kedua Anrong itu berbeda dalam menentukan Amma Toa, misalnya, Anrongta ri Pangi mengalungkan tope ke Si- A, tetapi sebaliknya, Anrongta ri Bongki menyuguhkan sirih dan pinang ke-B, maka siapa Amma Toanya menjadi taksa. Peristiwa semacam itu bisa berujung pada dualisme Amma Toa.

Hal ini menunjukkan, betapa pentingnya posisi seorang Anrong  dalam komunitas Tanah Toa Kajang. Akan halnya Anrong ini disebutkan dalam Pasang ri Kajang (Pesan-pesan di Tanah Toa Kajang; Sumber Pedoman Hidup Masyarakat Tanah Toa Kajang berupa tradisi lisan);

“Appa battu ri Anrong ; rara, asi, gaha-gaha,ota

Appa battu ri Amma; bulu-bulu, bukkule, kanuku, buku.” (Puto Beceng, 2007) 

“Empat dari ibu; darah, daging, urat-urat dan otak

 Empat dari ayah; bulu, kulit, kuku dan tulang.”

Pasang ri Kajang di atas bercerita tentang kejadian manusia. Kendati kedua jenis kelamin ikut berperan dalam membentuk jasad manusia, tetapi jika dicermati lebih seksama, Anrong adalah faktor yang menentukan inti dari kehidupan seorang manusia.

Pasanga ri Kajang ini, secara tersirat menunjukkan keutamaan seorang perempuan. Hal itu ditandai dengan disebutnya; darah, daging, urat, dan otak berasal dari Anrong.

Sementara dari Amma, hanya; bulu, kulit, kuku dan tulang. Pentingnya Anrong dalam pasanga tadi lebih dipertegas dengan disebutnya Anrong (ibu) terlebih dahulu, baru kemudian Amma (bapak).  Struktur kalimat semacam ini tak lazim dalam manuskrip lokal di Sulsel yang patriarkat.

Selanjutnya, dalam bagian pasang yang lain, prinsip perkawinan monogami juga, samar-samar terlihat:

“Ammuko, ammembara, nuparua-ruangi,

Petta kalennu, kamaseang kulantu’nu”

“Esok lusa engkau menduakan istri

 Kasihanilah dirimu sendiri, sayangilah lututmu”

Pasang ini dengan gaya sedikit sarkastis, mengejek orang yang akan memadu istrinya. Seolah-olah bait dalam pasang itu sedang bertanya: “Apakah dirimu sanggup? Tidakkah kau sayang dengan tubuhmu? Tidakkah engkau mau memeliharalah lututmu?” Dalam kepercayaan masyarakat lokal, keseringan berhubungan suami istri akan berpengaruh pada lutut. Karena itu, parafrase, “sayangi lututmu” adalah sindiran kepada mereka yang masih ingin menambah istri lagi.

Demikian halnya dalam Pasang ri Kajang diajarkan bagaimana menghargai seorang perempuan dalam rumah tangga dan tidak boleh melakukan kekerasan;

“Ako Laroi punna mata kanrea

Anu mata nipallu

Mutungi kanu api ritujunna

Peca’i kanu nilau ere”

“Jangan marah jika nasi (yang dimasak istri) mentah,

karena bahannya memang mentah.

Begitupun jika hangus, karena ada api yang menyala di bawahnya.

Juga tidak boleh marah jika nasinya lembek, sebab saat dimasak dicampur dengan air”

“Jako Parenta Bilasangi bahinenu

Bilasannga jintu, nipeppepi na rie erena

Jako parenta bilasngi bahinennu

Deppo a jintu nituddupi na haji”

“Jangan memerintah istri laksana menyadap aren,

Karena hanya aren yang nanti dipukul mayangnya baru keluar niranya.

Jangan pula diperintah seperti menginjak tanggul,

Sebab hanya tanggul yang diinjak baru baik.”

Camille Paglia

Keseluruhan pesan-pesan yang terdapat dalam Pasang ri Kajang tadi menunjukkan, posisi perempuan dalam komunitas ini sangat terhormat. Dengan kata lain, Pasanga ri Kajang ini mengandung pesan-pesan kesetaraan gender.

Meskipun jika dicermati kesetaraan perempuan yang dimunculkan dalam beberapa bait pasang di atas, mendudukkan perempuan sebagai makhluk yang perlu dilindungi. Ini yang disebut Camille Paglia (1992) sebagai kesetaraan gender yang masih membutuhkan perlindungan dari hukum (norma), bahkan dari kaum lelaki itu sendiri. 

Paglia, aktivis feminis yang kontroversial ini mengusulkan bahwa kesetaraan perempuan, harusnya dilihat dalam hubungan kuasa masing-masing pihak, bukan menciptakan norma atau aturan yang spesifik melindungi perempuan.

Maka, demikian Paglia, yang perlu adalah menyiapkan perempuannya sendiri dalam relasi-relasi tersebut, bukan sibuk mengurusi norma dan aturannya.

Kesetaraan gender di Tanah Toa Kajang ini, tidak semata-mata disematkan dalam norma (Pasanga ri Kajang).  Mereka sejatinya telah menjadikan ruang adat sebagai medan pertarungan gender. Setiap jenis kelamin, masing-masing sudah siap dengan bekalnya, ketika memasuki arena tersebut.

Itulah sebabnya, kendati perempuan tidak bisa menjadi Amma Toa, tetapi mereka menyiapkan dirinya bertarung dengan laki-laki dalam adat-istiadatnya dalam posisi mereka sebagai Anrong.  Karena itu, mereka tidak pernah menggugat aturan adat atau norma; “Bahwa pemimpin adat di Tanah Toa selalu disebut Amma dan tidak pernah menjadi Anrong.”

Bagi perempuan Tanah Toa Kajang, menggugat itu tidaklah penting. Sebab, justru bisa mengacaukan ikatan dan aturan adat mereka. Yang penting bagi mereka adalah, menyiapkan ke-anrong-an (status sebagai ibu) untuk terlibat dalam percaturan adat dan tradisi di Tanah Toa. Boleh jadi, cara-cara yang terakhir inilah yang diusulkan Cammile Paglia dalam gerakan feminisme multikultural. Entahlah! (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *