Sat. Mar 28th, 2020

BLAM

KEREN

Resensi Buku: Pola Komunikasi Orang Bugis

4 min read

Buku Pola Komunikasi Orang Bugis: Kompromi antara Islam dan Budaya. Foto: M. Irfan

1,860 total views, 2 views today

Oleh: Sabara (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Judul               : Pola Komunikasi Orang Bugis: Kompromi antara Islam dan Budaya

Pengarang       : Dr. Ahmad Sultra Rustan, M. Si.

Penerbit           : Pustaka Pelajar Yogyakarta

Tahun Terbit    : 2018

Halaman          : 365 + xiii

Faktor kesuksesan orang-orang Bugis melakoni bidang ekonomi, politik, maupun keagamaan, ketika menjadi perantau adalah keberhasilan pola komunikasi yang mereka lakukan. Cappa lila (ujung lidah), merupakan satu variabel yang sangat ditekankan dalam kebudayaan Bugis guna meraih kesuksesan dalam berbagai bidang.

Diplomasi melalui pola komunikasi, baik verbal maupun non verbal, ditekankan dengan didasari pada prinsip-prinsip etik, yang diambil dari nilai kearifan lokal. Nilai kearifan tersebut kemudian mengalami transformasi, setelah penerimaan Islam sebagai agama oleh orang Bugis sejak awal abad 17

Kearifan budaya melalui pesan-pesan moral dan mitologi, serta ajaran Islam, berkolaborasi menjadi pembentuk identitas kebudayaan Bugis, yang secara praksis ditunjukkan pada bentuk-bentuk pola komunikasi yang mereka lakukan.

Buku karya Ahmad Sultra Rustan mengulas secara komprehensif tentang pola-pola komunikasi orang Bugis, dan kaitannya dengan kompromi antara Islam dan budaya Bugis.

Buku ini diberi pengantar oleh Prof. Dr. Hafid Cangara, Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin, yang merekomendasikan buku ini untuk memahami karakter etnik Bugis dengan memahami etika komunikasi yang mereka bangun.

Buku ini terdiri atas 8 bagian yang secara komprehensif menjabarkan Komunikasi dan ade’bicara orang Bugis sebagai sebuah potret (bagian I). Bagian 2 mengurai kerangka teoritik komunikasi antarmanusia sebagai landasan teoritik isi buku ini. Bagian 3 secara informatif mengurai potret wilayah persebaran orang Bugis di Sulawesi Selatan. Bagian 4 mengurai kontestasi mitos dan Islam di kalangan orang Bugis.

Sementara, pada bagian 5, bicara tentang core vaues dan strategi komunikasi orang Bugis yang diurai dalam penjelasan poin-poin  nilaiadat Bugis seperti sipakatau, sipakalebbi dan lain-lain. Bagian 6 mengurai bagian prilaku komunikasi non verbal yang dilakukan orang Bugis dalam kehidupan sosial. Bagian 7 bicara bagaimana kompromi antara Islam dan  budaya dalam prilaku orang Bugis dan bagian 8 adalah catatan penutup.

Sipakatau’ sipakainge’ dan sipakalebbi menjadi prinsip etika sosial orang Bugis yang diimplementasikan dalam laku keseharian dalam interaksi sosial.

Menurut Rustan, orang Bugis pada prinsipnya bersifat terbuka dan selalu menaruh atau menunjukkan harapan positif (madeceng kapang) kepada setiap orang. Bagi orang Bugis, setiap orang dipandang akan membawa suatu kebajikan pada dirinya, dan bukan sebaliknya (hal. 349).

Prinsip sipakatau’ (saling memanusiakan), siammasei (saling menyayangi), siassijingeng (kekeluargaan), lempu (kejujuran), getting (komitmen), warani (berani) dan ada’ tongeng (perkataan yang benar) menjadi core values bagi orang Bugis dalam membangun pola-pola komunikasinya (hal. 202-241).

Core values tersebut diimplementasi dalam strategi komunikasi sosial berupa sipakalebbi (saling menghargai), sipakainge’ (saling menasehati), manini (kehati-hatian), assitinajang (kepatutan), nyameng kininnawa (menyenangkan hati) dan patemmu atauw (pemaknaan positif) (hal. 242-304). Core values dan strategi komunikasi tersebut diimplementasikan dalam prinsip taro ada taro gau’ atau satunya kata dan perbuatan.

Taro ada taro gau’ disebut oleh penulis sebagai abstraksi nilai budaya Bugis dan Islam dalam membangun prilaku komunikasi orang Bugis (hal. 343). Keduanya (budaya dan agama) memiliki kesamaan yang menuntut adanya kejujuran dan perkataan benar dalam berkomunikasi. Kedua sistem nilai ini juga menuntut orang Bugis untuk berprilaku yang relevan antara perbuatan dan perkataan sebagai prinsip etik dalam interaksi sosial.

Kedatangan Islam yang diterima secara massif oleh orang-orang Bugis sejak awal abad 17,  mentransformasi prinsip dan nilai kebudayaan Bugis, serta meneguhkannya sebagai prinsip yang sacral dalam bingkai budaya dan agama.

Islam berkompromi dengan kebudayaan Bugis dengan melengkapi struktur pangngadereng melalui institusi sara’. Keberterimaan Islam meneguhkan semangat etis dalam pola komunikasi orang Bugis yang bertopang pada prinsip budaya dan ajaran syara’.

Kelebihan buku ini

Kelebihan dari buku ini adalah, secara teoretik cukup komprehensif mengintegrasikan tiga fokus pembahasan, yaitu perilaku etnis, religi, dan pola-pola komunikasi.

Secara praktis, buku ini mengulas praktik pola-pola komunikasi orang Bugis yang mengandung nilai-nilai kebaikan sebagai perpaduan antara nilai budaya dan agama, yang diorientasikan pada pembentukan harmoni kehidupan bersama dalam suasana sosial yang guyub.

Meski cukup panjang mengulas pola komunikasi orang Bugis dalam bingkai budaya dan agama, buku ini luput menggambarkan konsep siri’na pesse’, yang merupakan postulat kebudayaan Bugis.

Core vaues dan strategi komunikasi yang dibahas melalui pembahasan idiom-idiom lokal merupakan derivasi teoretis dan praktis dari konsep siri’. Siri’merupakan postulat kebudayaan Bugis yang menjadikan martabat manusia sebagai dasar dalam membangun relasi sosial yang humanis. Sedangkan pesse adalah prinsip solidaritas, di mana sebagai sesama makhluk yang memiliki harkat dan martabat harus saling merasakan kepedihan sesama.

Akhirnya, sebagaimana yang dipaparkan Prof. Dr. Hafid Cangara dalam pengantar, buku ni sangat mudah dipahami karena penyampaiannya dikemas dengan bahasa sederhana, sehingga pembaca dengan mudah dapat menanngkap ide pokok yang disampaikan oleh penulis (hal vii).

Buku ini, meski ditulis dengan sangat akademis, namun tidak hanya recommended untuk kalangan akademisi yang concern dalam disiplin ilmu komunikasi maupun kebudayaan. Buku ini penting juga dibaca oleh semua kalangan dalam rangka menumbuhkan semangat etika komunikasi yang digali dari nilai budaya Bugis yang adiluhung, dan agama Islam yang agung. (*)

More Stories

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *