Sat. Sep 19th, 2020

BLAM

KEREN

Kepala BLAM: Pengetahuan Tanpa Dialog Berbahaya

3 min read

Peneliti dengan peserta penyusunan draft akhir Modul Pencegahan Radikalisme di Sekolah Umum di Balikpapan. Foto: Asnandar

1,849 total views, 2 views today

BALIKPAPAN, BLAM – Kepala Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), H. Saprillah, M.Si, mengingatkan, pentingnya pengetahuan dimiliki oleh setiap orang. Dalam memahami dan menyikapi persoalan radikalisme saja, cara pandang negara maupun masyarakat sipil kerap kali menuai perbedaan.

“Dari sudut pandang negara, kata radikalisme adalah sebuah usaha menyelamatkan anak bangsa dari rayuan-rayuan kelompok tertentu yang tidak ingin ada kedamaian di negara ini. Faktanya memang ada, seperti pada awal 2000-an, ada beberapa peristiwa sosial yang melibatkan kelompok dari agama Islam yang melakukan tindakan destruktif, yang kemudian mengilhami pergeseran kata radikalisme, yang semula di tahun 90-an merupakan gerakan sosial, kemudian di tahun 2000-an menjadi gerakan peyoratif atau gerakan bernuansa kekerasan,” kata Saprillah.

Saprillah menyampaikan hal tersebut, ketika memberi sambutan pada pembahasan Draf Akhir “Modul Pencegahan Radikalisme di Sekolah Umum”, di Hotel Aston Balikpapan, 10-12 September 2019.

Kegiatan pembahasan draf akhir ini merupakan lanjutan dari pembahasan draf awal yang telah dilaksanakan sebelumnya oleh Peneliti Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan BLAM, di tempat yang sama.

Selain Peneliti Bidang Pendidikan, ada juga guru agama SMA Kota Balikpapan, jajaran Kementerian Agama Kota Balikpapan, dan Pengurus Jaringan Gusdurian Kota Balikpapan.

Sementara itu, dari sudut pandang sipil, ketika kelompok yang disebut radikal ini kemudian ditangkapi, dipenjara, dan kemudian dieksekusi, kalimat ini ternyata masih dipakai oleh masyarakat sipil yang dianggap bagian dari pengekangan kelompok tertentu.

“Kita harus satu frekuensi memandang istilah radikalisme, supaya apa yang negara dan sipil inginkan bisa ketemu, sehingga apa yang disebut pengekangan terhadap warga sipil tidak terjadi. Sebaliknya, yang kita inginkan adalah perlindungan terhadap anak-anak supaya bergerak sesuai level konstitusi yang disepakati. Itu basis filosofisnya, mengapa kita menggunakan kata radikalisme,” jelas Saprillah.

Media sosial

Pengetahuan dan dialog yang sebelumnya dikelola di perguruan tinggi, sekolah, majelis taklim, kelompok halaqah, dan sebagainya, kini mulai bergeser. Saat ini, di era menjamurnya media sosial, diskusi bisa terjadi di semua lini. Parahnya, kata Saprillah, banyak orang yang tiba-tiba menjadi pakar, meski tidak memiliki ilmu pengetahuan memadai.

“Di ruang media sosial yang terbuka, seorang yang tidak pakar sekalipun akan kelihatan lebih pakar dari seorang pakar. Dalam teori psikologi, ini disebut efek Dunning-Kruger, yaitu seseorang yang merasa benar dengan pengetahuan yang keliru. Sedangkan bagi Tom Nichols, ia menyebutnya, The Death of Expertice, atau Kematian Kepakaran,” kata Saprillah.

Saprillah lalu mencontohkan, pakar tafsir terkemuka Indonesia, Qurais Shihab, seringkali juga tuding negatif oleh sejumlah kalangan, disebabkan pendapat yang dikemukakan penulis produktif itu, berbeda dengan pendapat kelompok lain.

“Padahal, Qurais Shihab menyusunnya berdasarkan kerangka akademis. Tetapi, karena kesimpulannya di luar pengetahuan publik, publik yang sudah punya pengetahuan dasar tentang sesuatu dengan serta merta menyalahkan. Kita pun juga semua tahu kalau Qurais Shihab adalah seorang pakar (expert), sedangkan orang yang menyalahkan, bukanlah seorang yang expert,” jelas Pepi.

Menurut Saprillah, pengetahuan sangat penting untuk melihat dan memahami sebuah peristiwa. Ia lalu mengutip pernyataan Hegel dalam teori dialektikanya, yaitu ada tesa, antitesa, kemudian melahirkan sintesa.

“Pengetahuan lahir dari sudut pandang. Ketika sebuah pengetahuan lahir dengan sendirinya, maka akan mengalami gagap bila ketemu realitas sesungguhnya, dan pengetahuan akan kerdil, karena memandang yang lain salah. Karena itu, pengetahuan tanpa dialog akan berbahaya,” imbuh Pepi, sapaan akrab Saprillah. (dal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *