Fri. Jul 10th, 2020

BLAM

KEREN

Executive Summary: Moderasi Beragama dalam Tradisi Lisan Masyarakat

4 min read

Abu Muslim, Koordinator Penelitian, saat menyajikan temuan lapangan penelitian Moderasi Beragama dalam Tradisi Lisan Masyarakat. Foto: Dok. BLAM

3,273 total views, 4 views today

Oleh: Abu Muslim (Koordinator Penelitian Tahap II Bidang Lektur Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi BLAM)

Pendahuluan

Konsep Moderasi Beragama yang digulirkan Kementerian Agama belakangan menjadi isu penting penguatan kebangsaan dan keindonesiaan, kaitannya dengan kehidupan keagamaan yang menghendaki prinsip-prinsip keseimbangan, atau jalan tengah atas persoalan keagamaan.

Kementerian Agama menjadikan moderasi beragama menjadi arus utama dalam corak keberagamaan masyarakat Indonesia. Karena beragama secara moderat sudah menjadi karakteristik umat beragama di Indonesia, dan lebih cocok untuk kontur masyarakat kita yang majemuk. 

Dalam Tradisi lisan masyarakat Indonesia juga ditemukan ragam pengejawantahan prinsip-prinsip keseimbangan, kedamaian, keadilan, dan harmoni.

Penghargaan atas penganut agama yang berbeda, keselarasan relasi agama dan adat yang senantiasa seiring sejalan, dan anjuran-anjuran untuk selalu mengutamakan persatuan dan kesatuan, menjadi poin penting nilai-nilai moderasi beragama yang tercermin dalam ‘teks’ tradisi lisan masyarakat Indonesia.

Balai Litbang Agama Makassar, melalui Bidang Lektur Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi, melaksanakan penelitian terkait Moderasi Beragama dalam Tradisi Lisan Masyarakat di Kawasan Timur Indonesia, yakni Tradisi Lisan IKO-IKO SIALA TANGANG dalam Masyarakat Suku Bajau, PASAWARI yang merupakan tradisi lisan anak negeri Maluku, Tradisi AKBARUGA pada masyarakat Gantarangkeke di Bantaeng, serta Tradisi Lisan TARSUL masyarakat Kutai Kartanegara.

Penelitian ini mengoperasionalkan metode kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap aspek moderasi agama dalam tradisi lisan masyarakat, dan menggunakannya sebagai bagian penting pengembangan moderasi beragama berbasis kearifan lokal.

Pengejawantahannya dirumuskan dalam tiga bagian: 1) Tradisi Lisan apa saja yang terdapat dalam masyarakat setempat yang berorientasi pada Moderasi Agama? 2) Bagaimana memfungsikan Tradisi Lisan itu dalam membangun iklim Moderasi Agama? 3) Bagaimana strategi pengembangan Tradisi Lisan yang mengandung Unsur Moderasi Agama dapat diimplementasikan dalam Kebijakan?

Temuan

Tradisi Iko-Iko Masyarakat Suku Bajau antara lain menemukan bahwa moderasi agama dapat dilihat dalam salah satu nyanyian tradisional orang Bajau yakni “Iko-Iko Siala Tangang”. Iko-Iko ini bersifat dinamis, sehingga isi lagu yang didendangkan sangat peka sosial, yang memungkinkan terjadi transfer pengetahuan dan ilham antarmasyarakat.

Karena muatan isi Iko-Iko ini sarat nilai moral, hiburan, edukasi, agama, dan sejarah. Iko-Iko ini menganjurkan konsep ‘Siala Tangang’ atau memperjabat-tangankan masyarakat, baik secara adat maupun dalam konteks agama. Selain itu, masyarakat suku Bajau memiliki perangkat adat yang disebut “pammara’ yang berfungsi sebagai bridger (jembatan), yang posisinya selalu berada di tengah-tengah, atas setiap persoalan yang terjadi.

Tradisi Akbaruga adalah tradisi lisan semacam Pesta Adat Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan, yang dilaksanakan setiap bulan Sya’ban. Proses akbaruga terdapat sastra lisan berupa aruk, sumpah, dan tarian.

Posisi moderasi beragama dalam tradisi ini adalah ujaran dalam teks yang mengajak seluruh elemen pesta untuk saling menjalin keutuhan dan kebulatan bersama, namun tetap menjunjung tinggi musyawarah, dalam prinsip kebijaksanaan hidup berdampingan antara warga, raja, dan penganut kepercayaan yang berbeda, untuk senantiasa saling menghargai satu sama lain.

Sementara di Maluku, ada Tradisi upacara “pasawari”. Pasawari pada dasarnya mengandung nilai sejarah, spiritual, moral, serta aturan aturan adat istiadat yang merupakan warisan leluhur, mengatur masyarakat agar hidup tertib, hidup damai dan saling menghargai. Dan, yang tidak kalah penting, bagaimana masyarakat menjaga keseimbangan alam.

Puncak pelaksanaan pasawari ini kemudian dikenal dengan “Pasawari Kunci Negeri”, dimana seluruh anak negeri dari latar belakang agama dan latar sosial yang berbeda, secara bersama-sama menyumbangkan hasil bumi untuk digunakan sebesar-besarnya pada pembangunan rumah ibadah baik masjid, gereja, dan lain-lain.

Terakhir, adalah tradisi Lisan Tarsul yang merupakan Tradisi Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur. Pembacaan Tarsul yang selalu melihat konteks sosial pelaksanaannya mengisyaratkan komunikasi moral dan agama antara penutur dengan para pendengarnya.

Tarsul kemudian dapat berfungsi sebagai sarana penyampaian pesan-pesan moderasi beragama atau hidup berdampingan dalam keseimbangan, disertai penghargaan kepada penganut agama lain.

Keempat tradisi lisan itu mencerminkan Implementasi tradisi lisan masyarakat yang sangat fungsional dalam membangun iklim moderasi beragama di Indonesia. Wujudnya dapat dilihat antara lain dalam penguatan toleransi, baik toleransi sosial, politik, maupun keagamaan. Dengan demikian, toleransi mengacu  pada sikap terbuka, lapang dada, sukarela, dan kelembutan dalam menerima perbedaan.

Temuan Penelitian ini juga menyumbang konsepsi praktik kebudayaan yang akomodatif terhadap keragaman dan budaya lokal masyarakat, sebagai usaha untuk melakukan Penguatan Moderasi Beragama.

Penggalian aspek budaya (tradisi lisan) adalah salah satu yang bisa memperkuat moderasi beragama sebagai karakter beragama bangsa Indonesia. Diharapkan galian-galian semacam ini dapat mendukung misi kemajuan budaya yang mencerminkan kepribadian bangsa. Salah satu Program dalam mewujudkan misi tersebut adalah Restorasi toleransi dan kerukunan sosial.

Meski begitu, terdapat beberapa catatan penting dalam temuan penelitian ini yang perlu diberi perhatian khusus, misalnya dalam hal pewarisan tradisi lisan yang penuturnya sudah sangat terbatas di masyarakat, dimana proses transformasi tradisi lisan yang tidak berjalan baik menjadi salah satu faktor penyebabnya. Di samping itu, literasi tradisi lisan berbasis daerah dan media penyebarannya sangat terbatas.

Rekomendasi

  1. Bahwa Tradisi Lisan yang potensial menyentuh sanubari terdalam Masyarakat karena penggunaan Bahasa lokal, perlu digalakkan pengembangannya khususnya bagi generasi muda. Muatan Lokal Sekolah bisa menjadi alternatif pembelajaran Tradisi Lisan Bermuatan Moderasi Beragama, namun tetap harus dilakukan perluasan akses melalui program Pendidikan non Formal dan Informal.
  2. Tradisi Lisan yang mengandung ajakan Moderasi Beragama perlu disebarluaskan melalui media sosial, dan elektronik berbasis audio visual, dengan tetap memertahankan Bahasa aslinya.
  3. Kementerian Agama perlu menjadikan inti sari moderasi beragama dala tradisi lisan masyarakat lokal sebagai bahan penyusunan buku induk moderasi beragama, sebagai bahan perbandingan dan melengkapi narasi moderasi dari perspektif agama-agama.
  4. Peningkatan perhatian pemerintah setempat, kepada penutur tradisi lisan tidak kalah penting dilakukan dengan memberikan fasilitas kepada mereka untuk mentransformasikan keahliannya kepada generasi muda.
  5. Pengembangan Literasi Masyarakat Lokal, dengan mengadakan festival Tradisi Lisan adalah kerangka pragmatik yang paling mungkin dilakukan untuk memasyarakatkan Tradisi Lisan Bernuansa Moderasi Beragama.
  6. Dakwah Kultural dengan mengutip dan menjadikan kearifan budaya yang potensial mengajak pada iklim moderasi perlu digalakkan. Wujudnya dapat dilakukan misalnya dengan penentuan tema moderasi pada khutbah/ceramah agama.
  7. Kemeterian Agama perlu melakukan sinergi kelembagaan dengan kementerian dan lembaga terkait antara lain Kementerian Pendidikan, Kementerian Pariwisata, Asosiasi Tradisi Lisan Indonesia, dan Perguruan Tinggi, untuk memasyarakatkan Tradisi Lisan bernuansa moderasi Beragama dalam wujud Collaborative Research and Develompent.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *