Fri. Jul 10th, 2020

BLAM

KEREN

Executive Summary: Dinamika Kebangsaan dan Keagamaan pada Masyarakat Perbatasan

3 min read

Koordinator Penelitian, Dr. Sabara (bajumerah), memaparkan executive summary penelitiannya. Foto: M. Irfan

2,607 total views, 2 views today

Oleh: Sabara (Koordinator Penelitian Tahap II Bidang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan BLAM)

Pendahuluan

Kawasan perbatasan dipandang sebagai daerah dengan nasionalismme dan semangat kebangsaan masyarakat karena faktor sosial, budaya, politik ekonomi dan keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika kebangsaan dan kaitannya dengan dinamika keagamaan pada masyarakat perbatasan.

Tujuan penelitian tersebut diturunkan menjadi 3 masalah penelitian, yaitu; gambaran kondisi geo-demografis perbatasan, dinamika kebangsaan pada masyarakat perbatasan dan relasi sumber dayakeagamaan yang berkembang dengan paham kebangsaan masyarakat. Perbatasan dalam penelitian in merujuk pada Pada pasal 1 angka 6 UU Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara.

Perbatasan merupakan bagian dari wilayah negara yang terletak pada sisi dalam sepanjang batas wilayah Indonesia dengan negara lain, dalam hal batas wilayah negara di darat dan berada di kecamatan.

Lokasi penelitian di Kecamatan Sebatik Tengah Kabupaten Nunukan Provinsi Kalimantan Utara yang berbatasan dengan Malaysia, sedangkan Distrik Muara Tami Kota Jayapura Provinsi Papua berbatasan Papua Nugini (PNG). Metode penelitian kualitatif dengan teknik analisis data deskriptif-kritis

Temuan

Geografis wilayah tapal batas di kedua lokasi memungkinkan penduduk kedua negara untuk saling melintas batas-batas administratif kedua negara. Perbedaan lalu-lintas masyarakat diantara kedua Negara. Masyarakat Indonesia di Sebatik Tengah mengalami ketergantungan ekonomi dalam hal pasokan bahan pokok dari Malaysia. Sebaliknya di Papua, masyarakat Papua Nuginilah yang mengalami ketergantungan pasokan bahan pokok dari Indonesia.

Demografis kedua wilayah perbatasan didominasi oleh penduduk pendatang, wilayah Sebatik Tengah pendatang yang dominan berasal dari etnik Bugis dan di Muara Tami pendatang berasal dari Jawa.

Semangat kebangsaan masyarakat Indonesia di perbatasan kedua Negara cukup tinggi ditunjukkan dengan antusiasme pada peringatan hari kemerdekaan dan penghormatan yang tinggi terhadap simbol-simbol negara.

Tingginya semangat kebangsaan masyarakat diperkuat melalui peran-peran sumber daya sosial, politik maupun kultural yang terus berupaya menanamkan semangat nasionalisme serta cinta tanah air kepada masyarakat perbatasan. Meski demikian, semangat kebangsaan pada masyarakat masih menuai beberapa problem.

Di Sebatik Tengah semangat kebangsaan masyarakat berhadapan dengan problem adanya masyarakat yang memiliki identitas kewarganegaraan ganda, penggunaan mata uang ringgit yang lebih dominan, ketergantungan pada produk Malaysia serta sekian lamanya perhatian pemerintah begitu minim bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di perbatasan.

Sedangkan di Muara Tami semangat kebangsaan masyarakat berhadapan dengan problem gerakan separatisme Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan adanya kesenjangan ekonomi antara Orang Asli Papua (OAP) dan pendatang. Kehadiran fisik pemerintah dalam bentuk pelayanan publik pada masyarakat perbatasan masih perlu ditingkatkan.

Umat Islam menjadi agama mayoritas di kedua wilayah perbatasan dengan karakteristik keislaman tradisional yang masih kental dengan kultur keislaman yang berasal dari Sulawesi maupun Jawa.

Kehidupan antarumat beragama berjalan cukup rukun. Hanya saja, untuk kasus Muara Tami kerukunan antarumat beragama sedikit terusik dengan kehadiran Laskar Jihad pimpnan Jafar Umar Thalib serta keberadaan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Sumber daya keagamaan cenderung bergerak secara kultural dalam menguatkan semangat kebangsaan pada masyarakat perbatasan melalui penanaman tradisi keagamaan yang mencirikan identitas keindonesiaan. Kerja-kerja yang bersifat struktural dilakukan melalui kementerian agama terutama penyuluh agama masih cukup minim.

Kementerian agama berperan memfilter pengaruh paham radikalisme agama yang berpotensi menggerus semangat kebangsaan dengan memfilter khatib yang berceramah di masjid. Masjid dan gereja belum dimanfaatkan secara optimal sebagai media pennguatan semangat kebangsaan masyarakat.

Kelompok masyarakat non pemerintahan melakukan kerja-kerja penguatan semangat kebangsaan melalui pendidikan dan pembinaan keagamaan yang berorientasi untuk memfilter pengaruh paham radikalisme agama dan menguatkan rasa cinta tanah air. Kerja-kerja tersebut diwujudkan melalui madrasah/pesantren dan kegiatan keagamaan.

Rekomendasi

  1. Kehadiran pemerintah pusat dan daerah dalam bentuk program penguatan kebangsaan melalui peningkatan kesejahteraan dan pelayanan publik.
  2. KepadaKementerian Agama cq Dirjen Bimas Islam, Kristen dan Katolik untuk memasukkan materi pembinaan kebangsaan pada maeri penyuluhan agama oleh penyuluh kementerian agama.
  3. Pemernitah daerah maupun pusat dan kementerian agama melakukan program untuk penguatan lembaga maupun organisasi keagamaan baik lokal maupun nasional yang berhaluan nasionalis.
  4. Penguatan dan supporting baik oleh pemerintah daerah dan pusat serta kementerian agama bagi sumber daya keagamaan yang giat melakukan pembinaan kebangsaan di perbatasan.
  5. Kepada kementerian agama untuk melakukan program penguatan peran masjid dan gereja dalam meningkatkan wawasan dan semangat kebangsaan masyarakat melalui pintu agama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *