Mon. Jul 13th, 2020

BLAM

KEREN

Executive Summary: Kajian Konten Khutbah Jumat pada Masyarakat Perkotaan

4 min read

Koordinator Penelitian, Muh. Subair (kiri),menyajikan makalah pada seminar akhir. Foto: Dok. BLAM

854 total views, 4 views today

Executive Summary Penelitian Tahap II Bidang Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi BLAM 2019

“Kajian Konten Khutbah Jumat Pada Masjid Perkotaan di Sulsel, Sultra, Kaltim, Papua, dan Maluku”

Oleh: Muh. Subair (Koordinator Penelitian)

Pendahuluan

Khutbah Jumat adalah dakwah atau pesan takwa yang disampaikan dengan cara bilhikmah. Istilah takwa mencakup segala perintah dan larangan berdsarkan Alquran dan hadis. Sedangkan bilhikmah mencakup pendidikan dan pemahaman akan takwa serta cara penyampaiannya kepada sasaran dakwah. Jadi khutbah Jumat merupakan pesan-pesan kebaikan yang disampaikan dengan cara yang baik pula.

Namun, faktanya, khutbah Jumat yang hadir dalam era kekinian ada yang berisi pesan-pesan yang tidak sejalan dengan pesan takwa, yaitu pesan-pesan yang bernada mencela, mencaci-maki dan menyalahkan kelompok lain.

Berdasarkan kenyataan tersebut, tulisan ini memfokuskan kajiannya terhadap konten/isi teks khutbah Jumat dan aspek-aspek yang melingkupinya dengan pertanyaan penelitian sebagai berikut: Bagaimanakah bentuk penyampaian khutbah Jumat oleh para khatib di masjid perkotaan, dan topik-topik apa saja yang muncul dalam teks khutbah Jumat tersebut?

Penelitian ini dilaksanakan pada lima provinsi di Kawasan Timur Indonesia yaitu; Sulawesi Selatan (Sulsel), Sulawesi Tenggara (Sultra), Kalimantan Timur (Kaltim), Papua dan Maluku. Kualitatif konten analisis adalah pendekatan yang dipilih untuk menggambarkan topik-topik yang terkandung dalam khutbah Jumat, dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan perekaman.

Adapun penentuan teks khutbah dipilih dengan membuat kategorisasi yang ditentukan berdasarkan hasil penelusuran terhadap Lembaga Dakwah, organisasi keagamaan, pengurus masjid, dan latar belakang khatib.           

Temuan

Pelaksanaan khutbah Jumat ada yang didukung oleh Lembaga Dakwah dan ada yang didukung oleh instansi pemerintah. Dukungan tersebut antara lain berbentuk pengaturan jadwal khatib dan kontrol terhadap tema atau topik kutbah Jumat.

Peran Lembaga Dakwah tampak aktif di kota-kota besar seperti di Makassar Sulsel, Kendari Sultra, Samarinda dan Balikpapan Kaltim. Sementara peran Instansi Kemenag lebih aktif dan terkontrol di Parepare Sulsel, Jayapura Papua dan Ambon Maluku.

Uniknya, di Ambon, pengaturan jadwal khatib juga dilakukan oleh Kodam Bintaldan 16 Pattimura, yang awalnya berfungsi untuk memberi pengamanan kepada para khatib pasca kerusuhan Tahun 1999, dan kemudian berlanjut mengatur jadwal para khatib hingga saat ini.

Adapun kontrol Kemenag dalam pelaksanaan khutbah Jumat cenderung melemah di kota-kota besar, mereka masih ada yang tidak berkoordinasi dengan Kemenag dalam hal penyampain jumlah anggota, tidak memiliki mekanisme penerimaan angota, tidak melakukan klasifikasi terhadap kualifikasi anggota, tidak memiliki kontrol terhadap tema-tema khutbah, tidak aktif melakukan pembinaan anggota, kekurangan jumlah anggota untuk pergantian atau naib, dan ada yang hanya berfungsi untuk membagi-bagi jadwal khatib.  

Bentuk penyampaian khutbah Jumat mayoritas dilakukan tanpa membaca teks. Meskipun ada juga masjid yang mewajibkan penggunaan teks sebelum khatib tampil di atas mimbar.

Pembacaan teks juga terkadang dilakukan pada moment tertentu, misalnya berdasarkan edaran Pemerintah Daerah yang memberikan khutbah seragam terkait kesehatan.

Namun, khutbah seragam ini, sulit diterapkan bagi masjid yang masih mempertahankan penggunaan bahasa daerah di tempatnya, sementara khutbah seragam senantiasa dibuat dalam bahasa Indonesia.

Hal ini juga terkait dengan budaya keagamaan yang mengitari pelaksanaan Jumatan, ada masjid yang mementingkan performa pakaian dan menghendaki penggunaan pakain islami bagi para khatib, misalnya keharusan mengenakan surban, sarung, dan baju koko berbalut jas. Ada juga yang mengharuskan penggunaan mimbar bukan podium dan dilengkapi dengan penggunaan tongkat pada saat khatib naik mimbar.

Tema-tema khutbah yang menjadi temuan dalam penelitian ini kebanyakan seputar iman, ibadah dan sedikit tentang mualamah. Tema tersebut dijabarkan dalam topik-topik akidah, fikih, golongan orang kafir, haji, umrah, qurban, infaq, sadaqah, zakat, hikmah-hikmah ibadah, kisah-kisah nabi, kemaslahatan umat, persatuan umat, memberi rasa aman kepada sesama manusia dan akhlak sesama muslim.

Di samping itu, para khatib sering menyesuaikan momen atau peristiwa yang lagi viral untuk dijadikan sebagai tema khutbah. Tema muamalah yang masih kurang disentuh oleh para khatib adalah berkaitan dengan akhlak kepada sesama manusia, bertoleransi kepada non muslim, dan kearifan lokal serta isu-isu lokal yang hangat. 

Rekomendasi

Berdasarkan temuan dalam penelitian yang telah dibahas, maka berikut ini beberapa hal yang perlu ditindak lanjuti dalam bentuk kebijakan:

  1. Dalam rangka pengutana fungsi Lembaga Dakwah, maka diperlukan suatu lembaga dibawa kontrol Kemenag untuk menghimpun seluruh Lembaga Dakwah yang ada, dan selanjutnya diharapkan berfungsi untuk;
  1. Menjalin koordinasi dan kerjasama dengan Lembaga Dakwah dan Pengurus Masjid.
  2. Memperbaiki sistem rekrutmen dan evaluasi anggota lembaga dakwah,
  3. Mengontrol, mengevaluasi dan mengendalikan tema-tema dan konten khutbah Jumat,
  4. Memberikan pembinaan dan pembimbingan kepada khatib yang membutuhkan,
  5. Mengadakan pendidikan dan pelatihan khusus untuk melahirkan khatib yang moderat, toleran dan peka kultur,
  6. Mengadakan pertemuan rutin yang membahas mengenai strategi dakwah dan kesesuainnya dengan perkembangan situasi dan kondisi jamaah,
  7. Melakukan pemetaan terkait distribusi khatib, tema-tema dakwah, karakteristik kelompok keagamaan masyarakat sebagai objek dakwah agar dakwah yang disampaikan tidak mengesankan dakwah yang provokatif hanya karena berbeda paham keagamaan.
  • Diperlukan penyusunan buku almanak khutbah Jumat untuk dibagikan kepada setiap masjid yang membutuhkan, khususnya sebagai pedoman bagi para naib atau imam tetap. Buku tersebut, selain bermuatan pesan-pesan takwa, hendanya juga mencakup topik-topik;
  • Kearifan lokal yang disesuaikan dengan karakter budaya dan bahasa masing-masing daerah,
  • Pentingnya toleransi antara kelompok organisasi dan faham keagamaan dan antara penganut agama dan kepercayaan lainnya,
  • Pentingnya menjaga persatuan dalam bingkai negara kesatuan Republik Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *