Fri. Sep 25th, 2020

BLAM

KEREN

Karnaval Asyura dan Kejanggalan Surat Edaran Walikota Makassar

4 min read

Perayaan Tabuik di Sumatera Barat untuk memperingati Hari Asyura. Sumber foto: nusantara.news

3,396 total views, 2 views today

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar dan Ketua Lembaga Ta’lif wa Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN-NU Sulawesi Selatan)   Di Jawa, orang menyebutnya perayaan Suro atau Asuro. Dirayakan semarak dengan menghadirkan tumpeng yang seringkali diarak di tengah kampung. Umat Islam lalu berebutan mengambilnya. Tentu, yang utama dari situ, mereka sedang berebut berkah, bukan sekadar berebut tumpeng. Di Sumatera Barat dan Bengkulu, disebut Tabuik (Tabut).  Disebut demikian, karena perayaan itu dilakukan dengan mengarak tabut (peti yang dibuat dari bambu atau burung-burung burak dari kayu). Sementara di Aceh, digelar dengan nama peringatan Hasan-Husin. Adapun di Sulawesi selatan, lazim disebut perayaan mappeca sure. Perayaan di Sulawesi selatan ini dilakukan di rumah-rumah ataupun masjid. Biasanya, perayaan Asyura di Sulsel selalu dilengkapi bubur tujuh rupa. Seluruh karnaval keagamaan yang disebutkan di atas adalah bagian dari tradisi masyarakat Nusantara memeringati hari Asyura. Setiap tahun, pada 10 Muharram (kadang ada pula yang sesudahnya), masyarakat muslim di seluruh penjuru Nusantara memperingati Hari Asyura ini. Sejak dari dulu, peringatan Asyura telah digelar oleh Muslim Nusantara. Dilakukan oleh muslim Nusantara, yang sebagian besarnya berpaham Suni dan bermazhab Syafii. Dalam Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah, satu manuskrip Melayu, disebutkan, peringatan Asyura telah dimulai sejak awal Islam berkembang di Nusantara, yaitu sekitar abad 13-15 M. Seringkali perayaan Asyura diwarnai tradisi lokal di masing-masing tempat. Di masyarakat Segeri dan Pangkajene Kepulauan (Pangkep) pada umumnya, perayaan Asyura ini biasanya dirangkaikan dengan ritual masongka bala. Ritual yang terakhir adalah tradisi para Bissu dan masyarakat lokal di Segeri memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk dihindarkan dari malapetaka. Seturut penjelasan Bissu Saidi, masongka bala dirangkaikan dengan Asyura, karena pada 10 Muharram itu, beberapa Nabi diselamatkan dari malapetaka. Tetapi, di saat yang sama, pada titimangsa itu merupakan hari yang paling menyedihkan pula, di mana Husein cucu nabi dibantai di padang Karbala. Masongka bala digelar, agar terhindar dari malapetaka dan justru mendapatkan keberkahan Hari Asyura. Penjelasan Saidi ini memang tidak salah. Sebab, Asyura (10 Muharram) ini  masyhur di kalangan umat Islam, karena beberapa peristiwa penting yang terjadi di titimangsa tersebut. Di antara peristiwa penting yang terjadi pada sepuluh Muharram tersebut, antara lain; Pada hari itu Nabi Adam As bertobat, Nabi Yunus As keluar dari perut ikan Hiu, Nabi Ayyub As disembuhkan dari penyakit, Nabi Musa As selamat dari kejaran Firaun di laut merah, berlabuhnya kapal nabi Nuh As setelah dilanda Banjir, dan selamatnya Nabi Ibrahim As dari api, serta lepasnya Nabi Yusuf As dari penjara. Selain beberapa kejadian di atas, salah satu peristiwa yang paling membekas dalam ingatan umat Islam adalah pembantaian Imam Husein, cucu Rasulullah, pada 10 Muharram. Imam Husein dibantai bersama keluarganya di Padang Karbala oleh lawan politiknya dari sesama muslim, karena persoalan khilafah. Peristiwa tersebut adalah peristiwa yang paling kelam dalam sejarah kekhalifahan Yazid bin Muawiyah. Perayaan Asyura di Nusantara ini tak lain adalah peringatan dari gabungan beberapa peristiwa di atas, termasuk memperingati terbunuhnya Imam Husein. Maka, keliru jika ada yang beranggapan, bahwa muslim Suni, khususnya di Nusantara tidak ada yang memeringati matinya Imam Husein dalam peringatan 10 Muharram. Lebih keliru lagi, jika menganggap, peringatan Asyura ini baru lahir belakangan setelah Syiah berkembang di Indonesia, atau setelah Revolusi Iran. Seperti disebutkan sebelumnya, dalam Manuskrip Hikayat Melayu Muhammad Ali Hanifiyah, karya Fadhly Hussin, tercatat, tradisi Asyura dengan berbagai namanya telah marak pada awal berkembangnya Islam di Nusantara. Selain itu, manuskrip ini secara terang menyebutkan, peringatan Asyura di Nusantara adalah peringatan atas syahidnya Imam Husein di Padang Karbala (h.186). Mengenai keberadaan manuskrip ini, dapat dilacak di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, nomor ML 446. Akan hal memeringati kesyahidan Imam Husein ini, dibuktikan pula dengan bentuk-bentuk perayaan Hari Asyura di beberapa tempat. Di Aceh, misalnya, perayaan Asyura langsung disebut Perayaan Hasan-Husin. Nama itu jelas merujuk pada cucu Nabi, Hasan dan Husein. Sementara dalam perayaan Hasan-Husin itu sendiri dibacakan hikayat tentang tragedi Karbala. Sementara perayaan tabuik dengan mengarak tabuk di Sumatera Barat dan Bengkulu, tak lain juga adalah simbol perayaan syahidnya Imam Husein yang kepalanya, konon, diarak oleh pasukan Yazid. Dalam masa kiwari ini, ada sementara kalangan dari umat Islam yang mulai melarang perayaan Hari Asyura. Jelaslah, kalangan ini tidak membaca sejarah Islam di Nusantara, atau memang bermaksud menggantikannya dengan pemahaman Islam yang mereka anut. Menganggap bahwa, Asyura hanyalah semata-mata perayaan kaum Syiah, jelas mengingkari tradisi Asyura yang sudah menghunjam kokoh dalam tradisi keberagamaan kaum Sunni di Nusantara. Pemkot Makassar Tetapi, yang lebih janggal lagi ketika pemerintah yang justru meminta mewaspadai perayaan Asyura ini. Seperti yang dilakukan belum lama ini oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar. Sekretaris Daerah Makassar atas nama Walikota Makassar telah mengedarkan surat edaran kepada Kepala Kecamatan se Kota Makassar. Isinya, antara lain; Meminta kepada masyarakat agar tidak terpengaruh dengan paham Syiah, khususnya dalam memperingati Asyura, tidak memberikan peluang pada penyebaran Syiah, serta bertindak tegas dalam menangani aliran menyimpang. Salah satu bagian dari surat edaran tersebut, seakan-akan menganggap, perayaan Asyura identik dengan Syiah, sehingga perlu pengawasan bahkan pelarangan. Pandangan ini jelas saja silap, sebab sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, peringatan Asyura (termasuk memeringati syahidnya Husein dalam peringatan itu) adalah tradisi muslim Nusantara sejak dari zaman dahulu. Umat muslim Nusantara, yang sebagian besar Sunni itu, senantiasa merayakannya setiap tahun, tanpa pernah dipermasalahkan oleh pemerintah. Bahkan, di masa Orde Baru, yang dikenal sangat ketat dalam mengatur dan mengawasi keberagamaan masyarakat, perayaan Asyura tetap berlangsung aman Sentosa. Tidak pernah ada tuduhan, yang merayakan itu adalah Syiah. Lagi pula, jika pun satu perayaan keagamaan dilakukan hanya oleh kelompok atau aliran tertentu, pemerintah, apalagi yang ada di daerah, tidak boleh serta merta mencap aliran tersebut menyimpang ataupun sesat. Menyimpang tidaknya satu aliran, ditentukan oleh fatwa Lembaga Agama yang berkompeten dan diputuskan oleh pengadilan. Kita berharap pemerintah tidak terlalu jauh mencampuri urusan keberagamaan masyarakat. Campur tangan yang berlebihan dalam soal keyakinan, bukan hanya membatasi masyarakat dalam soal berkeyakinan, tetapi juga seringkali menjadi pemantik kekerasan beragama. Banyak kerja-kerja lain yang kita harapkan, khususnya pelayanan publik yang semakin baik. Jika yang terakhir ini dilakukan pemerintah daerah, yang dituai adalah apresiasi, bukan kontroversi. (*) [/pl_text] [/pl_col] [/pl_row]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *