Sat. Mar 28th, 2020

BLAM

KEREN

Waktu dan Makna Kelahiran dalam Naskah “Tahsilul Fawaid”

4 min read

Digitalisasi Naskah Tahsilul Fawaid. Foto: Dok. BLAM

2,901 total views, 10 views today

Oleh: Sitti Arafah (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Masyarakat Sulawesi Selatan memberikan kedudukan tersendiri terhadap naskah-naskah kuno yang dikenal dengan nama lontara, dan mereka mempunyai sikap dan pandangan terhadap naskah-naskah tersebut. B.F. Matthes pernah menemukan orang membacakan Surek I La Galigo kepada orang sakit cacar, dengan harapan orang yang menderita sakit itu sembuh dari sakitnya (Rahman, 1996).

Naskah kuno tidak hanya memuat catatan peristiwa sejarah, tetapi menjadi sumber informasi sosial budaya, khususnya catatan mengenai kehidupan sosial budaya masyarakatnya, di mana naskah-naskah itu lahir dan mendapat dukungan (Pananrangi, dan Titiek, 1992/1993). Salah satu naskah kuno itu adalah lontara, sebagaimana dikenal masyarakat Bugis.

Tipologi lontara dalam kehidupan masyarakat Bugis beraneka ragam. Menurut Ilyas (2011), bila dipandang dari segi isinya, lontara dapat dibagi ke dalam beberapa jenis, antara lain: Pase’ng (amanat-amanat atau nasihat-nasihat), Pau-pau ri kodong (naskah berisi lagenda dan berbagai peristiwa dengan cerita fantastis), Sureq baweng (cerita roman), dan Sureq Eja, (mengenai syair-syair).

 Juga, Elong (nyanyian yang dinyanyikan pada upacara-upacara tertentu), Pappangaja (kumpulan nasihat atau pedoman hidup), Ulu ada (perjanjian atau kesepakatan antarnegara), Sureq bicara Attoriolong (kumpulan undang-undang atau peraturan yang disepakati), Pau-pau Kutika (kumpulan catatan mengenai waktu-waktu baik), Lontaraq pabbura (pengobatan).

Salah satu naskah atau lontara hasil digital Balai Litbang Agama Makassar yang memuat pengobatan terhadap berbagai penyakit ditemukan dalam lontara “Tahsilul Fawaid”. “Tahsilul Fawaid” adalah naskah yang terdiri atas empat puluh pasal, terdiri atas beragam tema, dan salah satunya pasal yang menjelaskan makna setiap hari kelahiran.

Naskah bersampul karton tebal ditulis menggunakan tinta berwarna hitam. Berdasarkan kolofon, naskah tulisan Abd. Rasyid bin Ali, yang menjadi Qadhi di Mandar, dan judul naskah berdasarkan dari mukaddimah atau pendahuluan naskah.

Naskah ini ditulis pada kertas Eropa berukuran 15,5x 21 centimeter, menggunakan aksara Hijaiyyah, dan lontara menggunakan bahasa Arab dan Bugis sebanyak 184 halaman. Setiap halaman terdapat 9 baris, kondisi fisik naskah dapat terbaca jelas, walaupun sebagian telah mengalami kerusakan kecil.

Naskah ini merupakan koleksi Nasaruddin Rajab, beralamat di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Naskah ini dicatat dan didigitalkan oleh Peneliti Ahli Utama Balai Litbang Agama Makassar, Dr. H. Abd. Kadir M dan Dr. H. Idham, 1 Agustus 2009. Naskah ini diwariskan secara turun temurun dan disimpan sebagai benda pusaka leluhur.

Salah satu isi dari naskah, yakni pada Bab Tiga Puluh Lima, menjelaskan, makna hari kelahiran. Berikut penjelasannya:

 Naiya bab mattelupuloe lima rilalenna pannesaigenngi wettu riemmanakenna ri indo’na. Makkedai Abu Ma’syari Kalafii”

  1. nigi-nigi riemmanakeng ri wettu subue nalolongengi haja’na, ri lampe’na maega gauna, marajai pakkana, maegatoi warangparanna.
  2. nigi-nigi riemmanakeng ri iwettu mompo’ni essoe engkai pattutui rilalenna maegae natutue.
  3. nigi-nigi riemmanakeng ri wettu loroe mattarei pakkutana,
  4. nigi-nigi riemmanakeng ri wettu assarae engkai to rialitutui.
  5. nigi-nigi riemmanakeng ri wettu mangaribie engkai masiga riona masiga toi cai’na,
  6. nigi-nigi riemmanakeng ri wettu isyae engkai malabo na manini’.
  7. nigi-nigi riemmanakeng ri wettu cappa wettue engkai ritarima doangna matturu-turu’ makkasiwiyang ri Allah ta’ala.

 Pada Bab Tiga Puluh Lima di dalamnya menjelaskan tentang waktu seorang anak yang dilahirkan ibunya. Berkata Abu Ma’syari al-Falaki:

  1. Barang siapa yang dilahirkan pada waktu subuh maka akan terpenuhi hajatnya, berguna dan bermanfaat dalam kehidupannya, memiliki kekuasaan yang besar, dan memiliki kekayaan (harta benda) yang banyak;
  2. Barang siapa yang dilahirkan pada saat munculnya matahari (di pagi hari) maka akan senantiasa berada dalam kehatian-hatian terhadap sesuatu yang perlu dihindari;
  3. Barang siapa yang dilahirkan pada waktu dhuhur maka memiliki sikap banyak bicara;
  4. Barang siapa yang dilahirkan pada sore hari maka akan senantiasa dipelihara/dijaga;
  5. Barang siapa yang dilahirkan pada waktu magrib maka akan cepat merasa gembira dan cepat pula marah;
  6. Barang siapa yang dilahirkan pada waktu isya memiliki sikap pemurah dan lebih berhati-hati dari segala sesuatu;
  7. Barang siapa yang dilahirkan diakhir waktu (penghabisan waktu) atau lail maka akan diterima doanya selama dia beribadah kepada Allah Swt.

Bab Tiga Puluh Lima merupakan salah satu bab dalam naskah “Tahsilul Fawaid”, yang menjelaskan makna waktu seorang anak yang dilahirkan ibunya. Sebagaimana dikatakan Abu Ma’syari al Falaki”, yang kemudian ditulis ke dalam bahasa Bugis oleh seorang Qadi Mandar di masa lalu, yang sarat dengan nilai-nilai keagamaan.

Waktu adalah ciptaan Allah SWT, yang dipersembahkan kepada segenap ciptaannya. Begitu banyak sumpah Allah dalam Al-Qur’an tentang waktu.  Di antaranya waktu Fajar (QS. Al-Fajar: 1-4), waktu Subuh (Al-Mudatsir: 34 dan At-Takwir: 18), waktu Dhuha (Qs. Ad-Duha), waktu Siang (Qs. Asy-Syams: 3 dan Al-Lail: 2), waktu Ashar (Al-Ashr: 1), waktu Malam (Qs. Al-Lail: 2, Al-Insyiqaq: 17 dan Al-Mudatsir: 33-34).

Setiap waktu memiliki keistimewaan tersendiri. Demikian pula waktu-waktu saat melahirkan, tentu memiliki pengaruh terhadap si anak, terutama dalam membentuk sikap dan karakter maupun yang lainnya. Dalam Ilmu Astrologi, walaupun bukan sesuatu yang mesti diyakini kebenarannya, namun setidaknya, dapat menjadi dasar untuk melihat kecenderungan watak dan sikap seorang anak.

Waktu lahir antara subuh hingga pagi (pukul 05.00 – 07.00) cenderung menjadi anak yang lembut, dan bersikap peramah dan rendah hati, serta senang membantu orang lain.  Lahir pada pukul 07.00 – 09.00, seorang anak memiliki cita-cita yang tinggi, komitmen yang kuat, jujur dan harga diri tinggi.

Lahir pada pukul 09.00 – 11.00 menunjukkan sikap tenang, ceria, pintar, dan bijak. Pukul 12.00 -13.00, memiliki rasa tanggungjawab dan energik. Pukul 12.00 – 15.00 petang, memiliki sikap tenang, sopan dan lembut, serta membenci kekerasan. Lahir pada pukul 15.00 -19.00 malam, memiliki sikap kurang sabar, cepat beradaptasi dengan sekelilingnya, dan memiliki dedikasi tinggi.

Sedangkan lahir pada pukul 19.00 – 20.00 malam (Isya), cenderung memiliki rasa empati,  tulus serta ceria dan tabah. Lahir pukul 20.00 – 24.00, cenderung memiliki kepercayaan diri dan semangat tinggi. Pukul 24.00 – 02.00 dinihari, memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan senang berkawan, sementara yang lahir pukul 02.00 – 04.00 dinihari, cenderung mahir berkomunuikasi (the asianparent.com). (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *