Fri. Sep 25th, 2020

BLAM

KEREN

Sennung-sennungeng Uleng Muharrang

5 min read

Sebagian orang Bugis-Makassar masih mempertahankan tradisi berbelanja menyambut Tahun Baru Hijriyah. Sumber foto: tribunnews.com

4,142 total views, 2 views today

Oleh: Muh. Subair (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Memasuki Tahun Baru Hijriah 1441 tanggal 01 Muharram, Hajjah Nursin (63), terlihat cukup sibuk menghadapi Hari Asyura pada tanggal 10 di bulan suci. Usianya yang semakin senja, membuat dia bergantung kepada anaknya untuk melaksanakan hajatan tahunan tersebut.

Untungnya, tanggal 1 Muharram jatuh hari Minggu, 1 September 2019, sehingga anaknya yang sementara libur bekerja, menemani ibunya mengantar membeli berbagai macam peralatan dapur. Hajjah Nursin selalu melakukan tradisi seperti ini setiap tahun.

Yang dibeli pun, bukan sembarang alat dapur. Barang yang dibeli haruslah berupa wadah yang bisa menampung air, yang memang dibutuhkan di dapur. Dahulu, sewaktu masih di Kampung Pajekko Bone, Sulawesi Selatan, ketika fisiknya masih bugar, ia tak harus ditemani untuk melakukan semua itu.

Kala itu, peralatan yang dibeli setiap tahun selalu berupa passero (gayung) dan panteng (ember), karena menurut dia, usia setahun membuat ember dan gayung di rumah mulai banyak tempelan bocor, atau pecah akibat pemakaian berat untuk mengangkut air dari sumur ke rumah. Dia berbelanja passero dan panteng (timba air), sebagai bentuk doa semoga berkah berlimpah di rumahnya, sebagaimana sifat air yang senantiasa mengalir.

Tradisi berbelanja pada 1 Muharram merupakan kebiasaan dari pihak bapak Hajjah Nursin, yang berasal dari Bakke Bone, Sulawesi Selatan. Pada tahap ini, dia tidak langsung membeli semua keperluan yang dibutuhkan. Sebab, pada tanggal 10, dia masih harus berbelanja lagi untuk mengikuti tradisi ibunya.

Menjelang Hari Asyura, bukan hanya belanja yang menjadi agenda penting, tetapi ada juga persiapan untuk membuat bella pitung rupa (sejenis masakan bubur kacang hijau). Ada tujuh buah yang harus dipersiapkan untuk membuat bella pitung rupa, dan ketujuhnya harus lengkap, dan tidak boleh kurang.

Syarat buah-buahan tersebut adalah, yang penting ia tumbuh di atas tanah atas usaha manusia. Buah-buahan tersebut adalah; 1) beras ketan hitam, 2) kacang hijau, 3) gula merah, 4) pisang raja, 5) labu kuning, 6) nangka, dan 7) kelapa (santan). Jika ada buah yang sulit didapatkan karena bukan musimnya, buah tersebut bisa saja diganti dengan yang sejenis seperti; beras ketan putih, jagung, durian, dan sukun.

Dahulu, semasa masih di kampung, bella pitung rupa itu dibuat dengan porsi yang lebih banyak. Pada waktu Magrib malam tanggal 10 Asyura, bella pitung rupa, itu sudah diantarkan ke masjid, bergabung dengan masyarakat lain, yang juga membawa masakan serupa.

Selepas Salat Magrib, Imam Kampung bertugas memimpin zikir-zikir, yang antara lain, dengan membaca selawat dan Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maulaa wa nikman nashir, yang artinya: “Cukuplah Allah menjadi penolong bagi kami, Dia sebaik-baik pelindung, serta sebaik-baiknya penolong.”

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ ,وَلَاحَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

Setelah zikir, para jamaah dipersilakan menyantap bella pitung rupa secara bersama-sama. Tak ada kain pemisah antara jamaah laki-laki dan perempuan. Sementara baris (shaf) paling depan berbalik menghadap kepada shaf yang kedua, shaf ketiga berbalik menghadap kepada shaf keempat, dan begitu seterusnya.

Mereka bersantap sambil bercengkerama dengan bersuka cita atas segala nikmat yang mereka peroleh. Tugas Imam Kampung tidak selesai sampai di situ. Keesokan harinya, dia masih harus mendatangi rumah-rumah warga yang tidak sempat membawa bella pitung rupa ke masjid. Warga tersebut lalu memanggil imam kampung, atau pabbaca kampung lainnya, untuk melaksanakan ritual doa. Lagi-lagi dengan menyiapkan bella pitung rupa di rumahnya.

Mereka yang berkemampuan secara ekonomi merasa tidak afdal kalau tidak melakukan ritual doa di rumah dengan bella pitung rupa. Meskipun doa-doa itu sudah dilakukan secara berjamaah di masjid, namun secara pribadi dan kekeluargaan, ada doa-doa khusus yang ingin mereka panjatkan melalui simbol makanan yang mereka sajikan.

Pemaknaan Simbol

Penggunaan simbol-simbol dalam masyarakat merupakan salah satu cara untuk berkomunikasi. Dalam tradisi masyarakat, seringkali dijumpai penggunaan simbol atau tanda yang digunakan untuk menyampaikan suatu pesan.

Simbol adalah tanda atau representamen atas sesuatu, yang berarti seseorang atau sesuatu dalam beberapa hal atau kapasitas bisa diwakilkan dengan membuat atau menciptakan tanda yang setara dengan seseorang atau sesuatu tersebut. Tanda yang dibuat itu disebut penafsir dari tanda pertama. Tanda itu singkatan dari sesuatu, objeknya. Objek itu tidak berdiri untuk semua hal, tetapi mengacu pada ide pendek, yang kadang-kadang disebut Peirce sebagai dasar representamen (Peirce, 1960).

Tanda-tanda yang direpresentasikan dengan buah-buahan yang ada dalam bella pitung rupa, adalah sesuatu yang disetarakan dengan kapasitasnya. Kapasitasnya itulah yang kemudian menjadi perwakilan atau singkatan atas harapan doa yang diinginkan.

Beras ketan hitam dipilih berdasarkan kapasitasnya sebagai bahan makanan pokok, yang dalam bahasa Bugis disebut bere atau were, makna lain bere, berarti padat berisi atau berat, dan were serupa dengan kata dalle, yang berarti rezki. Kapasitas beras inilah yang disodorkan sebagai harapan bagi masyarakat Bugis, supaya rezeki yang mereka peroleh menjadi lebih padat berisi,  dan selalu menjadi pemenuhan kebutuhan pokok sebagaimana kapasitas yang dimiliki oleh beras.

Nangka atau panasa mengandung arti minasa deceng, yaitu harapan yang baik. Lewat masakan ini dititipkan sebuah pesan agar segala rencana-rencana yang baik dapat terwujud seiring usaha-usaha yang dilakukan untuknya.

Kacang hijau yang dalam bahasa Bugis disebut bue dipilih dalam kapasitasnya sebagai kata yang bermakna sebelum waktu pagi, dengan harapan semoga rezki selalu datang lebih cepat sebelum datangnya pagi.

Pisang raja yang berarti utti atau loka dipilih dalam kapasitasnya sebagai buah dalam bentuk bertandang dengan istilah mattunrung mattakke, yaitu pohon yang berbuah hanya sekali, namun hasilnya bertandang atau bertingkat-tingkat. Buah ini dimaknai sebagai harapan agar keluarga hidup harmonis, beranak pinak dan senantiasa berkecukupan rezki.

Labu kuning berarti lawo, yaitu dipilih karena kapasitas bentuk tumbuhnya yang menjalar. Hal ini diharapkan sebagai pengingat atas kesuksesan atau rezki yang diperoleh agar dapat dibagi kepada orang-orang sekitar.

Gula merah atau golla cella dipilih dalam kapasisnya sebagai pemanis yang mengandung harapan agar kiranya semua harta yang diperoleh senantiasa dapat dinikmati sebagaimana manisnya gula. Harapan tersebut menutup kemungkinan adanya harta yang berbuah pahit bagi pemiliknya, apakah karena dicuri atau dirampok atau karena bencana lainnya.

Kelapa (santan) yang berarti lunrakna kalukue, yaitu dipilih atas kapasitasnya sebagai buah yang memilki rasa enak dan gurih. Serupa dengan harapan yang terkandung dalam gula merah, agar harta yang diperoleh senantiasa dapat dinikmati dengan rasa yang enak dan gurih.

Harapan dan doa melalui simbol-simbol tersebut di atas adalah bentuk sennung-sennungeng dalam istilah masyarakat Bugis. Sennung-sennungeng atau sennureng dalam Kamus Bahasa Bugis berarti ettok ati mamminasa ri decengnge, rigauk engkana maddafang rafangeng (Pannamo, 2015: 688). Yaitu, kata hati tentang segala harapan yang baik, sambil bermunajat semoga segalanya dapat terwujud menjadi kenyataan.

Jadi, jika orang Bugis berkata “I sennurengngi yarega yammenasai”, berarti mereka berharap segala kebaikan dapat terwujud. Pemilihan buah-buahan dalam suatu bentuk makanan sebagai objek sennung-sennungeng atau sennureng, merupakan upaya cerdas untuk meringkas berbagai macam harapan baik dalam satu bentuk sajian makanan.

Hal ini bersesuaian dengan makna tafa’ul yang di dalam Kamus Mahmud Yunus diartikan sebagai tanda akan kebaikan, atau menenungi tanda akan baik, optimis (Yunus, 2010). Kemudian dalam Idris Marbawi mengartikan fa’l dengan sempena. Tafa’ul berarti mengambil sempena (Bahasa Melayu) artinya tanda baik (Marbawi, 1991).

Imam Mawardi, dalam Majalah Langitan, menjelaskan, konsep tafa’ul sebagai bentuk lapang dada seorang mukmin, husnud dzon kepada Allah, dan usaha untuk menempatkan diri dalam kebaikan. Tafa’ul adalah penguat terhadap niat, pendorong untuk melakukan kebajikan, dan penolong agar memperoleh kemenangan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *