Fri. Sep 25th, 2020

BLAM

KEREN

Bahas Dinamika Kebangsaan Masyarakat Perbatasan, Nasionalisme Billig dan Renan Mengemuka

3 min read

Narasumber Penelitian "Dinamika Kebangsaan dan Keagamaan Masyarakat Perbatasan", H. Saprillah, M.Si (kanan) dan Dr. Diks Pasandek. Foto: Zulfikar

2,178 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM – Pemaparan Kepala Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), H. Saprillah, M.Si saat menjadi narasumber penelitian “Dinamika Kebangsaan dan Keagamaan pada Masyarakat Perbatasan di Kawasan Timur Indonesia”, akhirnya memancing peserta yang mengikuti seminar akhir penelitian ini, angkat suara.

Nasionalisme Michael Billig (1995) dan Ernes Renan (1882), yang dilontarkan Saprillah,  menjadikan ruangan seolah berubah menjadi “kajian teoritik”. Selain Saprillah, narasumber penelitian ini adalah Dr. Diks Pasandek.

Saprillah menyatakan, apa yang ditemukan peneliti Sabara dan Ali Saputra di Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, serta Muh. Irfan Syuhudi dan Paisal di Muara Tami, Jayapura, sudah cukup bagus.

Selain kaya dengan data lapangan, mereka juga menarasikan temuan lapangan secara menarik. Hanya saja, penelitinya terlihat belum mengombinasikan temuan lapangan mereka dengan teori-teori yang digunakan.

“Untuk penelitian nasionalisme di perbatasan ini, saya mencoba melihat dengan menggunakan pandangan Nasionalisme Banal-nya Michael Billig dan Nasionalisme-nya Ernest Renan, yang kebetulan tidak digunakan oleh penelitinya,” kata Saprillah.

Persoalan nasionalisme cukup menarik bila dilihat dengan perspektif Michael Billig. Dalam pandangan Billig, kata Saprillah, identitas kebangsaan acap kali muncul melalui fenomena sederhana, remeh temeh, dan kadang tak terpikirkan oleh masyarakat kebanyakan, terutama masyarakat yang tidak menetap di wilayah perbatasan. Salah satu contoh pengingat Nasionalisme Banal, menurut Billig, adalah bendera.

Dalam kasus di Sebatik dan Muara Tami, misalnya. Di Sebatik Tengah ada dipasang bendera Merah Putih pada sebuah tugu di perbatasan Indonesia – Malaysia, yang menunjukkan simbol-simbol identitas Indonesia. Belum lagi slogan warga Indonesia di sana yang terkenal, seperti “Garuda di Dadaku, Ringgit di Perutku”, yang menunjukkan, meskipun warga Indonesia mencari nafkah di Malaysia, mereka tetap bangga menjadi Warga Negara Indonesia.

Menurut Saprillah, beberapa simbol penanda identitas, seperti yang tampak pada bendera Merah Putih di tapal batas Sebatik – Malaysia, serta patung Burung Garuda di perbatasan Jayapura -Papua Nugini adalah, salah satu contoh pengingat Nasionalisme Banal.

“Kita terkadang cuek dengan keberadaan bendera, atau simbol-simbol yang menunjukkan identitas kita sebagai bangsa Indonesia. Dalam Nasionalisme Banal, bendera adalah pengingat yang kadang disepelekan dan tak diperhatikan, atau dalam bahasa Billig, Banal Reminders,” ujar Saprillah.

“Keberadaan bendera dan simbol-simbol negara lainnya secara terus menerus di daerah pebatasan, tanpa kita sadari justru menjadi pengingat kalau kita adalah anggota sebuah bangsa. Reproduksi nasionalisme tidak hanya terjadi pada hari-hari tertentu, melainkan juga setiap hari dan terus menerus,” sambung Pepi, sapaan akrab Saprillah.

Sementara nasionalisme menurut pandangan Ernest Renan, kata Saprillah, juga cukup menarik bila mengamati dinamika kebangsaan pada masyarakat perbatasan.

Menurut Saprillah, syarat mutlak adanya bangsa menurut Renan adalah plebisit, yaitu persetujuan bersama yang mengandung hasrat untuk hidup bersama dengan kesediaan memberikan pengorbanan-pengorbanan. Syarat mutlak dan utama adalah adanya kemauan tekad bersama.

“Oleh karena plebisit itu diulangi secara terus menerus, maka bangsa dan rasa kebangsaan tidak dapat dibatasi secara teritorial. Perjalanan dan pengalaman suatu bangsa itu dapat berubah-ubah dan dinamis, dan sesuai dengan sejarah bangsa itu sendiri,” kata Saprillah.

Temuan Lapangan

Dr. Sabara dan Paisal menyajikan temuan lapangan mereka di Hotel Claro Makassar, Rabu, 4 September 2019. Sabara meneliti di Sebatik Tengah bersama Ali Saputra, sedangkan Paisal meneliti di Distrik Muara Tami, Jayapura, bersama Muh. Irfan Syuhudi.

Sabara, yang juga koordinator penelitian, menyatakan, nasionalisme masyarakat di Sebatik Tengah, yang didominasi orang Bugis, cukup tinggi.

Salah satunya dapat dilihat pada perhelatan pertandingan olahraga, di mana bila Tim Indonesia bertemu Tim Malaysia di ajang olahraga, semua masyarakat Indonesia memberikan dukungan penuh buat Indonesia.

Meski begitu, Sabara juga menemukan problematika nasionalisme di sana. Seperti, misalnya, masih ada orang Indonesia yang memiliki kewarganegaraan ganda, atau mengantongi KTP Indonesia dan Malaysia. Kedua, ketergantungan pasokan kebutuhan pokok dari Malaysia,

“Problematika ketiga dan keempat adalah penggunaan uang Ringgit Malaysia yang masif, dan kurangnya perhatian pemerintah Indonesia menyangkut masalah infrastruktur,” jelas Sabara.

Sama seperti temuan Sabara, paham kebangsaan masyarakat di Distrik Muara Tami, perbatasan Indonesia – Papua Nugini, juga tampak bagus. Menurut Paisal, masyarakat di sana berjiwa nasionalis, dan bangga menjadi bagian dari Negara Indonesia. Penduduk yang bermukim di Muara Tami adalah, migran non Papua, dan orang asli Papua.

Problematika kebangsaan terdapat juga di Muara Tami. Problematika kebangsaan dapat dilihat pada masih tumbuhnya ingatan kolektif OAP tentang perjuangan Organisasi Papua Merdeka, dan kesenjangan ekonomi antara migran dengan OAP.

“Masyarakat Muara Tami cukup terbuka terhadap kelompok keagamaan yang masuk ke wilayahnya. Dengan catatan, kelompok keagamaan itu tidak mengganggu ketentraman dan kerukunan umat beragama,” kata Paisal. (ir) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *