Thu. Nov 26th, 2020

BLAM

KEREN

Fasilitas Manasik Haji Kemenag Kota Jadi Sorotan

3 min read

Narasumber penelitian "Efektivitas Pelayanan Manasik Haji" berfoto dengan para peserta, usai seminar akhir. Foto: Zulfikar

1,527 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM – Fasilitas pelaksanaan manasik haji di lingkungan Kementerian Agama Kota di Kawasan Timur Indonesia menjadi sorotan.

Meski pelayanan bimbingan manasik haji masuk kategori “Sangat Efektif, namun ada beberapa catatan penting yang perlu menjadi perhatian pihak kementerian agama, terutama menyangkut fasilitas calon jamaah haji saat melakukan manasik.

“Memang, dari segi pelayanan secara umum indeksnya sudah sangat bagus, yairu Sangat Efektif. Tapi, beberapa persoalan terkait fasilitas yang dikemukakan penelitinya, saya kira penting juga menjadi perhatian pihak kementerian agama,” kata Dr. H. Muharram, Kepala Pusat Litbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Kementerian Agama, saat menjadi narasumber Seminar Akhir Penelitian Tahap Kedua BLAM, “Efektivitas Pelayanan Bimbingan Manasik Haji pada Kantor Kementerian Agama di KTI”, di Hotel Claro Makassar, Selasa, 3 September 2019.

Hal senada dikemukakan Prof. Dr. H. Kadir Ahmad. Merujuk pada temuan lapangan peneliti, Peneliti Ahli Utama Balai Litbang Agama Makassar (BLAM) ini, juga memberikan catatan terhadap fasilitas manasik haji yang dilakukan oleh kementerian agama kota.

“Masih adanya keluhan sarana dan prasarana menunjukkan bahwa, ternyata fasilitas yang dimiliki kemenag dalam melaksanakan manasik haji dianggap belum memuaskan calon jamaah haji. Ke depannya, masukan ini tentu sangat penting sebagai bahan evaluasi kemenag,” kata Kadir Ahmad.

Penelitian “Efektivitas Pelayanan Bimbingan Manasik Haji pada Kantor Kementerian Agama di KTI”, yang dilakukan Peneliti Bidang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan BLAM terhadap calon jamaah haji yang berangkat pada 2018 ini, memperoleh indeks 3,55, yang berarti “Sangat Efektif”.

Total indeks 3,55 tersebut diperoleh dari hasil keseluruhan indeks pelayanan bimbingan manasik haji yang mencakup empat dimensi, yang diturunkan lagi menjadi indikator, seperti; Pengelola (pelayanan panitia dan pelayanan pembimbing), Pengelolaan (pelayanan perencanaan dan pelayanan pelaksanaan), Program (materi pembimbingan), dan Sarana dan Prasarana.

“Sasaran penelitian kami adalah 14 kota, dan indeks pelayanan bimbingan haji kemenag kota secara keseluruhan masuk kategori “Sangat Efektif,” kata Sitti Arafah, Koordinator Penelitian.

Bersama timnya, Arafah mengedakan sebanyak 900 angket di 14 kota, yaitu Balikpapan dan Tarakan (Arafah), Palopo dan Parepare (Syamsurijal), Ternate dan Tidore (Dahlan), Gorontalo dan Kotamubagu (Burhanuddin), Kendari dan Baubau (Ramlah Hakim), Ambon dan Tual (Aisyah Said), serta Jayapura dan Makassar (Ahmad Sarilla).

Keluhan belum memuaskannya fasilitas yang dimiliki kemenag menyangkut pelaksanaan manasik haji, mendapat tanggapan pihak Kemenag Kota Makassar, yang menjadi peserta seminar akhir ini.

Kemenag Kota Makassar

Muhidin mengakui, Kemenag Kota Makassar memang belum memiliki sarana dan prasarana untuk pelaksanaan manasik haji. Untuk Kota Makassar, kata dia, salah satu tempat yang dianggap layak melaksanakan manasik haji adalah Kantor KUA Biringkanaya. Sementara KUA lain di Makassar, sebagian besar melaksanakan manasik haji di masjid.

“Saya sendiri melihat, kalau pun dilaksanakan di masjid, pesertanya semakin berkurang, karena kebanyakan pesertanya orang tua. Makanya, ketika saya berada di KUA Panakukang, kita mencoba melaksanakan manasik di hotel. Jadi, KUA Panakukang, Manggala, dan Ujung Pandang itu, sudah tiga tahun terakhir melaksanakan bimbingan manasik di hotel,” jelas Muhidin.

Calon jamaah haji juga tidak dipersalahkan apabila memilih manasik haji di KBIH ketimbang KUA. “Mengapa orang lebih tertarik di KBIH dibanding KUA, padahal di KUA gratis? Di KBIH memang dibayar mahal, tetapi sebanding dengan fasilitas yang mereka dapatkan. Jadi, kalau mau fasilitas bagus, kami perlu penambahan biaya lagi,” timpal, peserta dari KUA lagi.

Konsultan penelitian, Prof. Dr. H. Ruslan, mengaku penelitian ini menarik. Itu pula yang menyebabkan peserta yang mengikuti seminar ini tertarik mengajukan pertanyaan, sekaligus mengonfirmasi temuan lapangan peneliti di sejumlah kota dengan kondisi di Makassar.

“Yang menyebabkan banyak pertanyaan adalah waktu pelaksanaannya. Sebab, pada saat mengumpulkan data, responden ini adalah mereka yang sudah melaksanakan ibadah haji. Jadi, dari etika penulisan laporan penelitian, perlu kita tambahkan lagi satu poin, yaitu mengenai keterbatasan penelitian waktu penyelenggaraan atau pengumpulan data responden,” kata Ruslan.

Yang juga menarik, kata Ruslan, adalah KBIH dan KUA. Menurutnya, sasaran penelitian ini adalah KUA, bukan KBIH.

“Ini menarik, dan perlu digarisbawahi keterbatasan itu, karena tujuan penelitian ini adalah KUA, walaupun sebenarnya di dalam responden dan juga orang yang ikut KBIH itu juga penting. Karena kalau tidak mengikutkan informasi itu, itu bisa bias persepsi pembaca,” jelasnya.

“Sebaikya kita melakukan evaluasi di dalam manasik haji. Indikator perlu dikembangkan untuk mengukur kemampuan jamaah haji pada saat manasik haji. Dari sini, kita bisa lihat, indikator-indikator mana saja yang belum dipahami oleh jamaah haji kita. Kedua, mungkin berbeda manasik di kota dan di desa. Kalau di kota sudah banyak pengetahuan-pengetahuan jamaah haji, sedangkan jamaah haji di desa justru sebaliknya,” tambah Dosen Universitas Negeri Makassar, ini. (zul)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *