Fri. Sep 25th, 2020

BLAM

KEREN

Riset Moderasi Beragama dalam Tradisi Lisan Perlu Diberi Pemaknaan

2 min read

Moderasi Beragama dalam Tradisi Lisan perlu dilestarikan oleh generasi muda. Foto: Risal

585 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM – Temuan riset lapangan “Moderasi Beragama dalam Tradisi Lisan di Masyarakat”, sudah cukup bagus. Namun, masih perlu ada keseragaman dalam penulisan laporan, serta merumuskan rekomendasi penelitian.

Demikian dikatakan konsultan internal penelitian serta narasumber penelitian, Prof. Dr. Kadir Ahmad dan Dr. Halilintar Latief, saat memberikan masukan pada Seminar Akhir Penelitian Tahap Kedua, yang dilakukan Peneliti Bidang Lektur Khazanah Keagamaan dan Organisasi Manajemen Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), di Hotel Claro, Rabu, 3 September 2019.

Kadir Ahmad, menyatakan, keseragaman penulisan laporan dan membuat format rekomendasi dari apa yang ditemukan di lapangan, itu sangat penting. Laporan dan rekomendasi penelitian adalah dua hal yang tidak terpisahkan dari sebuah penelitian kebijakan.

“Saya melihat sudah ada yang judulnya spesifik pada tradisi lisan. Namun, kalau bisa langsung dalam bentuk tradisi dan bagaimana aspek penelitian antropologinya. Seperti kapan ditampilkan tradisi lisannya, siapa pelakunya, dan seterusnya,” kata Kadir Ahmad.

Kadir juga menanyakan mengapa pelaku tradisi lisan semakin kurang diminati, terutama oleh generasi muda. Padahal, tradisi lisan itu merupakan salah satu bentuk kearifan lokal, yang juga berfungsi sebagai keseimbangan sosial.

“Tugas kita adalah bagaimana mewariskan tradisi lisan ini kepada anak-anak muda, supaya tradisi ini bisa tetap lestari selamanya. Dalam penelitian ini, penting juga ditampilkan tradisi yang menjadi kekuatan moderasi beragama. Seperti di Ambon, seberapa sering orang-orang di Ambon melakukan tradisi itu? Dan, kalaupun tradisi ini berfungsi, mengapa terjadi konflik di Ambon,” kata Peneliti Ahli Utama BLAM, ini.

Halilintar Latief, mengemukakan, tradisi lisan berkaitan moderasi beragama yang ditemukan peneliti diakui sudah bagus. Hanya saja, mereka belum tepat mendeskripsikan temuan lapangan, sehingga terkesan terburu-buru dan tidak fokus.

“Perlu ada perbaikan lagi dalam penulisan laporan, termasuk saya lihat masih banyak kesalahan teknis penulisan ilmiah. Mungkin saja, para penelitinya ini menulis terburu-buru, sehingga terkesan tidak fokus,” kata Antropolog Universitas Negeri Makassar, ini.

Halilintar juga menyarankan kepada peneliti untuk memberi pemaknaan terhadap tradisi lisan yang mereka temukan.

“Ada beberapa tradisi lisan yang perlu dimaknai. Masalah terjemahan dan intonasi bisa saja berbeda jika salah memaknainya, kemudian transliterasi dan pemaknaan banyak yang salah dan itu berafiliasi pada kesimpulan. Banyak hal pemaknaan yang masih perlu diperbaiki,” katanya.

Ada empat peneliti yang melakukan riset ini, yaitu Abu Muslim, yang meneliti di Wakatobi, Wardiah (Ambon), Faisal (Tenggarong), dan Husnul Fahimah (Bantaeng). (sal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *