Thu. Nov 26th, 2020

BLAM

KEREN

Peneliti Adu Argumentasi Menentukan Tema Riset BLAM 2020

3 min read

Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si, saat memimpin kegiatan KAK dan ToR untuk 2020. Foto: Ari

508 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM – Suasana diskusi pembahasan Kerangka Acuan Kerja (KAK) dan Term of Reference (ToR) Program Kelitbangan tahun Anggaran 2020 Balai Litbang Agama Makassar (BLAM) pada hari pertama, berlangsung menarik. Hal ini tampak pada adu argumentasi gagasan di kalangan peneliti untuk memantapkan tema-tema riset dan kegiatan pengembangan (workshop) untuk tahun 2020.

Kegiatan yang menghadirkan sejumlah peneliti BLAM ini dilaksanakan selama dua hari, Kamis – Jumat, 5 – 6 September 2019, di Hotel Claro Makassar.

Pada hari pertama, Kamis, 5 September 2019, Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si, melakukan curah pendapat atau brainstorming dengan tiga bidang penelitian, yaitu Bidang Lektur Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi, Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan, dan Bidang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan.

Pada sesi brainstorming ini, orang nomor satu BLAM ini ingin mendengarkan masukan maupun kritikan para peneliti, termasuk merefleksikan tema-tema riset dan pengembangan (workshop) yang telah dilakukan pada 2019, dan tahun mendatang (2020).

“Kami butuh masukan supaya hasil riset kita mempunyai dentuman, market dan kemanfaatan yang jelas, serta BLAM menjadi pilot project. Pada kegiatan ini, kami akan mereflesikan ulang judul-judul riset 2020 dan pengembangan untuk persiapan RKA-KL (Rencana Kerja Anggaran-Kementerian Lembaga),” kata Saprillah di sela-sela sambutannya.

Peneliti Ahli Utama BLAM, Prof. Dr. H. Hamdar Arraiyyah, menyatakan, tema-tema kearifan lokal diakui cukup bagus dilanjutkan kembali pada tahun mendatang. Kearifan lokal secara fungsional bisa digunakan oleh masyarakat tempatan untuk menangani ketegangan sosial dan konflik di daerah tersebut.

“Budaya itu harus dirawat, dilestarikan, dan bagaimana warisan budaya lokal itu diteruskan oleh generasi berikutnya. Kalau melupakan kearian lokalnya, mereka akan mudah tersulut konflik. Di sinilah pentingnya kearifan lokal,” kata Hamdar.

Menurut Hamdar, para peneliti juga mesti jeli dan selektif memilih tema-tema untuk dijadikan kegiatan pengembangan. Di Bidang Pendidikan, misalnya, ia melihat hasil riset yang menemukan minimnya jumlah peserta didik di beberapa madrasah yang dijadikan lokasi penelitian.

“Contohnya, ada madrasah yang jumlah siswanya sangat minim. Seperti ini yang kita jadikan bahan pengembangan, mengapa jumlah muridnya bisa sedikit, dan kita mendiskusikan hasil riset kita dengan mengundang guru atau kepala madrasah tersebut,” jelas Hamdar.

Prof Dr. H. Kadir Ahmad, berkata sama. Peneliti Ahli Utama BLAM ini juga sepakat untuk mengevaluasi kegiatan pengembangan yang telah dilakukan sebelumnya. Hanya saja, kata dia, kegiatan pengembangan itu diharapkan tidak menjadi beban tambahan peneliti, melainkan kerja untuk dilanjutkan.

Pengembangan sumber daya manusia (SDM) peneliti dan narasumber dari luar, juga ikut mengemuka. Arifuddin Ismail, misalnya, mengusulkan pihak BLAM perlu juga memikirkan untuk melakukan pengembangan SDM peneliti.

“Pengembangan dan peningkatan SDM peneliti itu sangat penting. Selain menambah pengetahuan peneliti sendiri, juga untuk menyeragamkan hasil analisis riset mereka,” jelas Arifuddin, yang juga Peneliti Ahli Utama BLAM, ini.

Sementara Kadir Massoweang meminta kepada pihak BLAM untuk lebih memaksimalkan fungsi narasumber internal, terutama Peneliti Ahli Utama BLAM, untuk kegiatan penelitian dan pengembangan. Dalam hal riset dan metodologi, Peneliti Ahli Utama juga cukup berpengalaman. Terutama, semua peneliti utama itu sudah menyandang minimal gelar doktoral.

“Mengapa sebagian peneliti lebih memilih memerhatikan saran dari narasumber luar dibanding peneliti Ahli Utama. Kita kayaknya tergantung sekali dengan narasumber dan peserta dari luar. Padahal, mereka itu hanyalah mitra kerja, dan tugas mereka adalah membantu kita untuk bersama-sama berpikir mengenai riset dan kegiata pengembangan,” kata Kadir Massoweang.

“Dalam hal riset dan kegiatan pengembangan, kitalah yang lebih mengetahui dan memahami. Kita harus yakin seyakin-yakinnya bahwa apa yang kita lakukan itu benar,” lanjut Hamdar.

Pembahasan tema-tema riset pada tiga bidang penelitian untuk proyeksi 2020, juga berlangsung seru. Selain penentuan judul, peneliti juga mendiskusikan sasaran penelitian, termasuk metodologi penelitian yang akan digunakan. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *