Sat. Mar 28th, 2020

BLAM

KEREN

Khatib Bisa Menjadi Agen Toleransi

3 min read

Peserta serius mendengarkan pemaparan Peneliti BLAM terkait Khutbah Jumat di Perkotaan. Foto: Risal

356 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM – Kepala Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), H. Saprillah, M.Si, menegaskan, khatib tidak hanya berfungsi menyampaikan pesan-pesan ilahi melalui ceramah yang dibawakan di mimbar. Lebih dari itu. Khatib pun bisa menjadi agen toleransi, terutama di daerah-daerah rawan konflik.

“Khatib sebenarnya bisa menjadi agen toleransi, yang berarti mengajak kepada sifat dan sikap saling menghargai antarsesama pemeluk agama. Toleransi merupakan sikap yang paling sederhana, tetapi mempunyai dampak positif bagi integritas bangsa. Dengan menumbuhkan sikap toleransi, diharapkan tidak akan memicu konflik,” kata Saprillah, di Hotel Claro Makassar, Selasa, 3 September 2019.

Saprillah mengemukakan hal tersebut, saat menjadi narasumber pada Seminar Akhir Penelitian Tahap Kedua BLAM Bidang Lektur Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi, dengan judul “Konten Khutbah Jumat di Perkotaan”.

Menurut Saprillah, dakwah yang disampaikan oleh khatib bisa membawa dampak negatif dan positif kepada para jamaah. Tentunya, yang berdampak negatif itu adalah, sesuatu yang bisa memengaruhi jamaah untuk melakukan tindakan yang sifatnya negatif.

Penelitian mengenai “Konten Jumat di Perkotaan” dilakukan empat peneliti. Mereka adalah Muh. Sadli (Kota Balikpapan dan Kota Samarinda), Syarifuddin (Kota Jayapura), Muh. Nur (Kota Kendari), dan La Mansi (Kota Ambon). Koordinator Penelitian, Muh. Subair, meneliti di Kota Makassar dan Kota Parepare, Sulawesi Selatan.

Subair mengaku, masih banyak menemukan khatib melakukan khutbah Jumat tanpa membaca teks di Kota Makassar dan Kota Parepare. Namun, hal tersebut tidak perlu terlalu dikhawatirkan, lantaran para khatib itu dianggap memiliki pengalaman dan tingkat keilmuan, serta jaminan dari lembaga dakwah yang mengutusnya ke masjid-masjid untuk berkhutbah.

“Meskipun membaca teks pada saat khutbah Jumat bersifat lebih aman dan efektif untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kekeliruan, tetapi masih banyak juga khatib yang saya temukan di lapangan menyampaikan khutbah Jumat tanpa membaca teks,” kata Muh. Subair.

“Namun, meski tanpa teks, lembaga yang mengutus para khatib itu sudah memberikan jaminan, bahwa khatib mereka tidak akan menyampaikan khutbah yang bisa membawa dampak negatif terhadap masyarakat,” lanjut Subair.

Beragam topik disampaikan di dalam khutbah Jumat ditemukan Muh. Sadli di sejumlah masjid di Balikpapan dan Samarinda. Antara lain, bagaimana memperoleh keberkahan hidup di dunia, akidah akhlak, sejarah peradaban Islam.

“Beberapa khatib juga menyampaikan soal pentingnya menjaga kerukunan dan persatuan di antara sesama pemeluk agama,” kata Sadli.

Dr. H. Nurman Said, narasumber penelitian, mengemukakan, kehidupan masyarakat Indonesia yang plural dan majemuk, tentu menjadi tantangan tersendiri bagi khatib. Dengan kondisi masyarakat pluralistik, ditambah lagi masyarakat Indonesia sedang menikmati euforia kebebasan, hal tersebut akan ikut memengaruhi konteks kehidupan bermasyarakat di perkotaan, atau secara umum, di seluruh wilayah indonesia.

“Persoalanya adalah, seberapa jauh orang Islam, khususnya mereka yang memang diharapkan menjadi  mubaligh, khatib, da’i itu, melaksanakan tugas mereka dengan baik, karena tugas mereka itu dibingkai oleh nilai dan norma,” kata Nurman.

Nurman menambahkan, menjadi khatib itu tidak mudah. Setidaknya, jangan menyampaikan sesuai apabila tidak mengetahui dalilnya secara jelas. Bila hal tersebut dilakukan, khatib akan mempertanggungjawabkan perbuatannya itu kepada Allah Swt dan juga bisa berdampak buruk kepada para jamaah.

“Beberapa negara tidak ingin mengambil risiko terkait dakwah, sehingga ada yang namanya standarisasi untuk para khatib. Seperti di Mesir Arab, dan Malaysia, punya aturan ketat tentang itu. Karena itu, perlu ada otoritas dalam Islam, dalam hal ini, lembaga yang secara khusus menunjuk siapa yang  mampu atau mempunyai legitasi khusus sebagai dai, khatib, atau muballigh, sehingga konteks ajaran tidak melenceng dari jalur,” jelas Nurman.

Dr. H. Kadir Massoweang, menyatakan, apa yang dilakukan peneliti telah memenuhi standar penelitian.

“Yang paling penting adalah mengacu kepada rumusan masalah dan topik yang dikaji ini  apakah ada unsur toleransi atau tidak pada isi khutbah Jumat, serta melakukan analisis isi. Karena itu, peneliti sebaiknya memang mendalami isi khutbah Jumat dengan mencatat pesan secara sistimatis, termasuk pesan-pesan toleransi,” kata Peneliti Ahli Utama BLAM, ini. (sal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *