Sat. Sep 19th, 2020

BLAM

KEREN

Kapus Litbang Penda Apresiasi Penelitian Pengangkatan Guru Agama

3 min read

Para peneliti BLAM menyajikan temuan lapangan pada seminar akhir. Foto: Fauzan

775 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM — Balai Litbang dan Agama Makassar (BLAM) melaksanakan Seminar Akhir Penelitian Tahap Kedua berjudul “Implementasi Pengangkatan Guru Agama di Sekolah Umum,” di Hotel Claro Makassar, Selasa, 3 September 2019.

Penelitian ini melibatkan empat Peneliti Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan BLAM, yaitu Dr. Hj. Mujizatullah, sekaligus koordinator penelitian,  yang meneliti di Kota Samarinda, Amiruddin di Kota Manado, Dr. M. Rais (Kota Gorontalo), dan Baso Marannu (Kota Kendari).

Peserta yang hadir pada kegiatan ini berasal dari tenaga pendidik SMA di Kota Makassar, perwakilan dari Dinas Pendidikan Kota Makassar, Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, Perwakilan Badan Kepegawaian Daerah Kota Makassar, dan Perwakilan Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan.

Diundang juga Kepala KTU Kantor Kementerian Agama Kota Makassar, Perwakilan Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, beberapa dosen perguruan tinggi, serta perwakilan widyaiswara dari Balai Diklat Keagamaan Makassar.

Mujizatullah menyatakan, penelitian yang mereka lakukan merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 11 tahun 2017, Permenpan Nomor 36 tahun 2018,  dan PMA Nomor 16 tahun 2010.

Ada tiga narasumber yang memberikan tanggapan pada seminar akhir ini. Mereka adalah Prof. Dr. Amsal Bahtiar, MA (Kepala Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Kemenag RI), Prof. Dr. H. Arifuddin Ismail, M.Pd (Peneliti Ahli Utama BLAM), dan Dr. Muhammad Yaumi, MA (Dosen Universitas Islam Negeri Makassar).

Prof. Amsal memberikan apresiasi pada hasil temuan peneliti dan mengapresiasi respon peserta yang terlihat antusias memberikan masukan. Menurutnya, penelitian itu mesti diuji publik supaya hasilnya kuat. Semakin digugat publik, maka temuan penelitian semakin kuat.

“Suatu teori kalau digugat akan semakin kuat. Tetapi, kalau dikalahkan teori berikutnya, ia akan amburadul, dan penelitian itu tidak berlaku lagi. Dalam sains dikatakan bumi itu datar, tetapi dikatakan juga kalau bumi ini bundar. Hasilnya, teori lama menjadi gagal, dan yang berlaku adalah teori baru. Tidak perlu kita terlalu mempertahankan suatu kebenaran, tetapi yang terpenting adalah mencari yang paling benar,” ujarnya.

Menurut Dr. Muhammad Yaumi, kebijakan pengangkatan guru pendidikan agama di sekolah umum, ternyata bermasalah pada tataran implementasi. Hasil penelitian ini, kata dia, juga telah membangun kesadaran baru untuk merefleksikan jalur koordinasi, komunikasi, birokrasi, dan sistem perekrutan sumber daya guru, khususnya guru pendidikan agama Islam.

“Perlu adanya rekomendasi bersama selain dari rekomendasi khusus pada setiap daerah. Identifikasi dan rumuskan keunggulan penelitian sebagai dasar untuk publikasi ilmiah melalui jurnal bereputasi,” kata Yaumi.

Yang menarik, dari hasil pembacaan makalah peneliti, Yaumi kemudian mengusulkan judul kepada masing-masing peneliti untuk dijadikan bahan pertimbangan.

Untuk laporan penelitian Mujizatullah, Yaumi mengusulkan judul “Sistem Komunikasi Kebijakan Perekrutan Tenaga Pendidik: Studi Kasus Guru Pendidkan Agama di Kalimatan Timur”, penelitian Dr. M. Rais, ditawarkan judul “Model Baru Perekrutan Sumber Daya  Pendidikan Agama di Gorontalo”.

Sementara Amiruddin diberikan judul “Investigasi Kecenderungan Implementasi Kebijakan Perekrutan Guru Agama di Manado”, sedangkan Baso Marannu disarankan menggunakan judul “Pelaksanaan Kebijakan Perekrutan Guru Agama: Analisis Terhadap Alur Birokrasi, Koordinasi, dan Peran Pengawas dan MGMP.”

Lain halnya Prof. Arifuddin. Ia menjelaskan, paradigma yang dibangun BLAM adalah penelitian kebijakan, sehingga peneliti wajib menyumbangkan pokok pikiran terhadap para pembuat kebijakan.

“Penelitian kualitatif membangun teori dari fakta empirik. Pada penelitian ini, adakah komunikasi yang dibangun pihak pemda dengan kemenag? Instrumen pada penelitian kualitatif adalah peneliti itu sendiri, sehingga yang dibutuhkan adalah bagaimana kepekaan peneliti dalam mengungkap fakta, sehingga menghasilkan rekomendasi yang bisa digunakan oleh negara,” kata Arifuddin.  (zan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *