Sat. Mar 28th, 2020

BLAM

KEREN

Saprillah Berharap Peneliti BLAM Tidak Terjangkiti Post Truth

2 min read

Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si, saat memberikan sambutan pada Seminar Akhir Penelitian Tahap Kedua. Foto: Zulfikar

580 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM – Kepala Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), H. Saprillah, M.Si, berharap para peneliti di lingkungan BLAM tidak terjangkiti dengan pemikiran post truth, atau pemikiran pasca kebenaran.

“Sekarang ini, terutama sejak era media sosial, ada gejala munculnya masyarakat yang kita sebut era post truth. Masyarakat seperti ini hanya percaya terhadap apa yang disukainya saja, dan tidak percaya dengan sesuatu yang tidak disukainya. Nah, kalau peneliti berada pada posisi seperti ini, agak berat kalau dia tidak mengelola penelitiannya dengan baik,” kata Saprillah, saat memberi sambutan pada Seminar Akhir Penelitian Tahap Kedua BLAM, di Hotel Claro Makassar, Selasa, 3 September 2019.

Selama dua hari, 3-4 September 2019, BLAM menggelar Seminar Akhir penelitian tahap kedua. Pada hajatan puncak penelitian peneliti ini, masing-masing bidang peneliti menampilkan dua judul penelitian berbeda.

Bidang Lektur Khasanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi, misalnya, akan mempresentasikan penelitian “Konten Khutbah Jumat di Perkotaan” dan “Moderasi Beragama dalam Tradisi Lisan di Kawasan Timur Indonesia”.

Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan akan menyajikan “Implementasi Pengangkatan Guru Agama di Sekolah Umum” dan “Pengelolaan dan Pemberdayaan Guru Non ASN di Madrasah di Kawasan Timur Indonesia”.

Sementara Bidang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan akan mempresentasikan “Efektivitas Pelayanan Haji pada Kementerian Agama di Kawasan Timur Indonesia” dan “Dinamika Kebangsaan dan Paham Keagamaan pada Masyarakat Perbatasan”.

Wacana post truth mulai kencang bergulir sejak 2016. Saat itu, banyak sekali berseliweran berita-berita atau informasi di media sosial yang sulit lagi dibedakan antara kebohongan (hoax) atau kebenaran. Fakta objektif mulai dikaburkan, di-framming sedemikian rupa, sehingga menjadikan hoax dianggap kebenaran.

Parahnya, ada juga masyarakat yang sulit membedakan antara informasi yang memuat suatu kebenaran dan kebohongan, dan pada akhirnya, ikut termakan oleh isu hoax. Makna post truth sendiri dalam kamus Oxford adalah dikaburkannya publik dari fakta-fakta objektif.

Saprillah menyatakan, hasil riset lapangan yang telah dilakukan peneliti BLAM, tentunya tidak selamanya memuaskan publik masyarakat. Artinya, masih ada ruang untuk melihat kelemahan-kelemahan tersebut, baik secara teoritik maupun metodolgi.

“Karena itu, kami mengundang bapak-bapak dan ibu-ibu pada seminar akhir ini adalah untuk bersama-sama mendiskusikan secara teoritik dan metodologi terhadap temuan lapangan peneliti kami. Kalau bahasa Bugis-nya, ada yang disebut mappasilolongeng, yang artinya kita sadar, riset itu tidak pernah sempurna. Tentu ada standar deviasinya dan ada margin error-nya, dan itu yang akan kita diskusikan supaya tidak terjadi error secara sosial,” kata Saprillah. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *