Sat. Sep 19th, 2020

BLAM

KEREN

Hijrah Nabi dan Pembentukan Masyarakat Multikultural

4 min read

Sumber foto: ceramahterbaru.net

1,351 total views, 2 views today

 Oleh: Sabara (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

 Hingga masa Khalifah Umar bin Khatttab, umat Islam meski telah memiliki sistem penanggalan yang didasarkan pada sistem lunar atau qamariyah, namun penanggalan tersebut masih belum memiliki angka tahun. Sistem penanggalan Arab sejak pra-Islam memberi urutan angka tahun berdasarkan sebuah peristiwa penting. Misalnya, tahun gajah, tahun perang fijar, atau tahun kenabian.

Belum ada patokan standar, sehingga khalifah merasa perlu untuk menentukan peristiwa penting apa yang nantinya dijadikan sebagai penanda tahun pertama dalam sistem kalender yang dipakai umat Islam. Atas usulan Ali binAbi Thalib, disepakatilah peristiwa hijrah Rasulullah sebagai penanda tahun pertama dalam sistem penanggalan umat Islam hingga hari ini.

Dipilihnya momen hijrah, bukan momen lain seperti tahun kelahiran nabi, tahun pertama turunnya wahyu, atau tahun wafat nabi. Pemilihan peristiwa hijrah sebagai permulaan tahun dalam kalender umat Islam, setidaknya lebih didasarkan pada hikmah yang bersifat sosiologis.

Pada peristiwa hijrah mulai nampak kebangkitan sosial umat Islam diawali dengan pembangunan masjid pertama di pinggir Kota Madinah bernama Masjid Quba. Pada 12 Rabiul Awal bertepatan 2 Juli 622 M, Nabi saw tiba di Quba, kemudian mendirikan masjid dan tinggal selama dua pekan di sana sebelum memasuki Kota Yatsrib. Pada 26 Rabiul Awal atau 16 Juli 622, Nabi memasuki Kota Yatsrib, dan kemudian menggantinya dengan nama Madinatul Munawwarah, atau kota yang bercahaya.

Aspek progresif sosial dari hijrah sang nabi adalah tak lama setelah Nabi saw memasuki Kota Madinah, yaitu dengan menggalang kesatuan masyarakat Madinah, dan mengikatnya dalam sebuah kontrak sosial yang disepakati bersama. Kota Madinah adalah kota dengan masyarakat yang plural yang terdiri atas banyak kabilah/suku dan agama.

Selain pendatang dari Mekkah, yang kemudian disebut Muhajirin, terdapat pula kabilah-kabilah lokal, yang kemudian disebut Anshar. Selain penganut Islam, di wilayah Madinah dan sekitarnya didiami oleh beberapa kabilah Yahudi, minoritas penganut Nasrani, serta orang-orang yang belum atau tidak menganut salah satu agama Ibrahimik tersebut.

Menyikapi kenyataan sosial yang multikultur tersebut, Nabi saw mengajak mereka untuk membuat konsensus bersama dan menyepakati kontrak sosial yang disebut Piagam Madinah.

Visi progresif Nabi saw membuat beliau merasa perlu untuk membangun kesepakatan bersama untuk mengatur tatanan sosial yang ideal pada masyarakat yang multikultur. Melalui Piagam Madinah, Nabi saw tidak hanya sekadar membangun kontrak sosial bersama, tapi menginisiasi sebuah langkah maju dalam kehidupan sosial masyarakat dunia, khususnya masyarakat Arab yang masih sangat feodal dan tribalistik.

Piagam Madinah berisi tentang hak-hak dan kewajiban dari masing-masing kelompok suku dan agama untuk komitmen bersama dalam menjalankan tatanan masyarakat multikultural yang egaliter.

Piagam Madinah merupakan peraturan bersama yang bersifat terbuka dan demokratis untuk semua kelompok masyarakat tanpa melihat latarbelakang kabilah maupun agamanya. Kesepakatan tersebut diorientasikan untuk membangun kehidupan bersama masyarakat multikultur yang egalter, tertib, dan rukun.

Oleh sang Nabi saw, Piagam Madinah dibangun berdasarkan kesatuan masyarakat yang hidup bersama dalam suatu wilayah, dan merasakan kesamaan senasib dan sepenanggungan untuk membela kedaulatan tanah mereka. Kemajemukan suku dan agama, serta kemungkinan adanya ancaman dari luar membuat mereka menyepakati komitmen untuk saling melindungi.

Visi multikultural dari Piagam Madinah adalah kebebasan beragama yang dijamin pada semua umat beragama yang tinggal di Madinah. Visi egaliter dan demokratis dari Piagam Madinah, adalah mendudukkan semua kelompik suku dan agama secara sama dalam hak dan kewajiban yang sama di atas hukum yang disepakati bersama.

Piagam Madinah merepresentasikan nilai substantif ajaran Islam tanpa harus secara eksplisit mencuntumkan kata “syariat islam” di dalam teksnya.

Melalui piagam Madinah, Nabi saw telah menetapkan asas-asas keadilan, kesamaan, dan kebebasan berkeyakinan sebagai nilai dasar masyarakat Multkutural. Hal ini merupakan visi yang sangat maju untuk zamannya, karena secara tak lanngsng merupakan kritik terhadap fanatisme-sektarianisme suku dan agama yang sangat kental di masyarakat Arab pada saat itu.

Sistem demokrasi multikultural dari Piagam Madinah merupakan peletak dasar bagi akhir dari fanatisme kesukuan dan agama di Arab. Pesan sosial yang hendak diajarkan Nabi saw adalah,  menumbuhkan sikap kepedulian dan sikap terbuka kepada kelompok lain, serta bersikap toleran menyikapi perbedaan.

Nabi Muhammad saw menjadikan Piagam Madinah sebagai aturan yang legal-formal untuk mengakhiri konflik, serta konfrontasi antarsuku dan agama. Secara praktis, Piagam Madinah berhasil mengakhiri konflik berkepanjangan antara suku Aus dan Khazraj di wilayah tersebut.

Semua orang mendapat perlindungan dan jaminan hidup layak tanpa ada rasa takut akan adanya gangguan dari manapun. Piagam Madinah merupakan simbol konstitusi di mana masyarakat Madinah yang multikultur dipersatukan dalam satu ikatan, yakni Ummah. Nabi Muhammad saw meletakkan fondasi agar masyarakat yang multikultur saling terbuka, egaliter, adil, toleran, dan humanis.

Melalui Piagam Madinah, visi progresivitas Nabi saw yang didahului dengan proses hijrah terimplementasi sebagai pelajaran bagi umat manusia tentang bagaimana menyikapi kenyataan hidup bersama dalam masyarakat multikultur.

Dengan dijadikannya peristiwa hijrah sebagai penanda permulaan tahun dalam sistem penanggalan umat Islam, mestinya mengingatkan umat pada setiap pergantian tahunnya pada nilai-nilai sosial sang Nabi saw yang progresif untuk membangun tatanan sosial yang ideal pada masyarakat multikultur.

Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1441 Hijriyah. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *