Sat. Apr 4th, 2020

BLAM

KEREN

“Mallise Tase”: Ritual Mengisi Koper (Tas) Haji Bugis

5 min read

Mallise Tase merupakan salah satu ritual haji masyarakat Bugis-Makassar. Foto: Syamsurijal

1,481 total views, 2 views today

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Siang itu, hujan turun dimulai dengan kedatangan segelintir bala tentaranya. Ia turun dengan barisan yang jarang-jarang. Tetapi, tak lama kemudian, sang hujan datang dengan armada penuh. Tak ada celah di antara barisan armada dengan kekuatan penuh ini. Serbuannya total dan menyeluruh. Siapa pun yang berada di kolong langit, saat itu, tanpa pelindung, dipastikan akan terguyur oleh armada hujan yang menyerbu dengan kekuatan penuh tersebut.

Namun, dalam kondisi demikian, beberapa orang terlihat masih berjalan penuh semangat di bawah curahan hujan yang menderas. Sebagian menggunakan jas hujan. Yang lain datang dengan berpayung. Satu-dua datang dengan mengendarai mobil. Orang-orang tersebut menuju rumah panggung.

Sejak dari tadi, sebelum hujan datang menyerbu, rumah tersebut telah disesaki para tamu. Rumah itu adalah rumah salah seorang calon jemaah haji dari Segeri-Pankajene Kepulauan (Pangkep).

Tahun ini, Lade, demikian nama pemilik rumah itu, mendapat panggilan Allah berkunjung ke Baitullah. Kegembiraan mengelumuni keluarga ini. Hari itu, selepas salat Jumat, di rumah Lade diadakan upacara assalama (selamatan) sebelum berangkat menuju tanah suci. Di antara rangkaian upacara selamatan di rumah tersebut, yang cukup menyita perhatian para tamu adalah ritual mallise tase.

Mallise tase, tidak lain adalah mengisi tas atau koper jemaah haji dengan pakaian (termasuk pakaian ihram), dan berbagai bekal lainnya. Mengisi tas atau koper untuk dibawa dalam perjalanan haji, tidak sama mengisi tas, atau koper dalam perjalanan ke tempat lainnya.

Dalam perjalanan haji, di masyarakat Segeri dan Bugis pada umumnya, mengisi tas dilakukan dengan ritual tertentu. Tidak sembarang orang yang bisa mengisi tas atau koper tersebut. Hanya orang-orang tertentu yang memahami doa-doanya yang bisa melakukannya.

Pada Jumat siang itu, proses ritual mallise tase dilakukan oleh Lade dengan memanggil seorang haji sepuh yang mengerti tata cara ritual mallise tase ini. Namanya, Hajjah Subaedah. Perempuan yang kira-kira berumur 70 lebih ini, mengaku mendapatkan doa-doa dalam ritual mallise tase dari kakeknya, Haji Sunusi, yang merupakan salah satu ulama di Pulau Salemo.

Hajjah Subaedah tidak hanya tahu doa-doanya, tapi mengerti pula persyaratan yang harus disiapkan saat akan melakukan ritual mallise tase.

Untuk kepentingan ritual malise tase siang itu, di rumah Lide telah disiapkan beberapa perlengkapan ritual. Di antaranya, tentu saja, tas dan koper yang akan diisi beberapa pakaian dan barang-barang. Di samping koper diletakkan dupa yang terus menerus mengepulkan asap berbau harum.

Ruangan yang disesaki para tamu tersebut, terasa harum dengan bau dupa yang meruak di udara. Di tengah curahan hujan dan udara dingin, aroma dupa yang menguar di seantero rumah, terasa mendatangkan aura mistis.

Selain dupa, terlihat pisang sesisir, nasi ketan tiga warna (putih, hitam dan kuning), dan tujuh rupa penganan.  Ketujuh rupa kue-kue tersebut, antara lain, cucuru bayao,  sawalla, onde-onde, beppa oto’, katirri sala, pejja-pejja . Selain itu, masih dilengkapi dengan telur, lauk pauk lainnya, dan tiga mangkuk air.

Di sebelah mangkuk air, terlihat beberapa tangkai tumbuhan, yang lazim disebut tumbuhan ‘dingin-dingin’. Saya tidak tahu persis jenis tumbuhan apa itu. Saya hanya sering mendengar disebut tumbuhan “dingin-dingin.”

Sering kali kudapan yang disajikan tidak mencukupi tujuh rupa, tetapi hanya lima atau tiga. Tidak menjadi soal, yang penting ganjil. Tetapi, menurut Hajjah Subaedah, lebih elok jika dicukupkan menjadi tujuh macam. Menurutnya, tujuh itu memiliki makna, yakni tujuh hari penciptaan alam semesta, tujuh hari dalam seminggu, dan tujuh wali yang dikenal di Sulawesi Selatan.

Roberton Smith

Sesajenan yang ada di dalam ritual mallise tase ini, tidak persis sama dengan yang dibayangkan Roberton Smith (1987), dalam konsepnya tentang ‘upacara bersaji’.

Smith, dalam memahami ritual masyarakat dengan berbagai sesajian, menyebutkan, adanya persembahan berupa makanan dalam ritual tersebut kepada para makhluk halus atau roh-roh yang bergentayangan. Bahkan, sering kali dalam upacara bersaji itu ada darah yang ditumpahkan sebagai bagian dari persembahan tersebut. Sesajian tersebut karena sengaja dipersembahkan untuk roh dan makhluk halus, tidak boleh dimakan oleh manusia.

Dalam ritual mallise tase, sesajian yang ada hanya merupakan simbol-simbol dari pengharapan kepada Yang Maha Kuasa. Ibarat kata, sesajian itu adalah doa tanpa lirik, atau mantra tanpa kata-kata.

Contohnya: “pisang sesisir” bermakna; ‘semoga yang melaksanakan acara diberikan rezeki (kesehatan dan materi) bersisir-sisir (banyak)’. Sementara onde-onde, yang berisi gula dan kelapa, merupakan simbol pengharapan agar yang bersangkutan dalam perjalanan menuju tanah suci selalu mendapatkan kebaikan dan kenikmatan, sebagaimana rasa manisnya gula dan lezatnya kelapa.

Keseluruhan makanan yang disajikan tersebut, nantinya akan dimakan bersama oleh para tamu undangan yang datang. Sebagian lagi dibagikan sebagai sadakah.

Dalam tradisi masyarakat Bugis, hal ini disebut assenu-senungeng, yakni sebuah pengharapan untuk diberikan kebaikan oleh Yang Maha Kuasa. Pengharapan untuk diberikan kebaikan itu biasanya berupa simbol-simbol.

Bolehkah hal semacam ini dalam Islam?  Jika merujuk pada penjelasan Kiai Lukmanul Hakim, Pimpinan Pesantren Mazratul Akhirah-Pinrang, assenu-senungeng telah dipraktikkan oleh Rasulullah. Contohnya, jika ada sahabat pada masa Rasulullah yang menempati rumah baru, Rasulullah biasanya menyuruh orang yang bernama Zaid terlebih dahulu untuk masuk ke rumah tersebut.

Zaid ini bermakna lapang. Menyuruh orang yang bernama Zaid terlebih dahulu masuk rumah baru tersebut, tidak lain adalah doa atau pengharapan melalui simbol, agar yang punya rumah diberi rezeki yang banyak.  Praktik tersebutlah yang menjadi tradisi assenu-senungeng di Bugis.

Kita kembali ke ritual Malise Tase. Setelah berbagai sesajian tersebut telah siap, Hajjah Subaedah kemudian maju ke depan. Ia lalu merapalkan doa-doa. Diawali dengan mengucapkan tasbih (33 kali), tahmid (33 kali), lalu takbir (33 kali). Setelah itu, membaca ayat qursi. Selanjutnya, Hajjah Subaedah menyebutkan nama tujuh wali.

Tujuh Wali

Tujuh wali yang disebut Hajjah Subaedah ini, ternyata berbeda dari tujuh wali yang lazim dikenal di Bugis-Makassar. Ketujuh wali yang dikenal di Bugis-Makassar, antara lain, Syekh Yusuf, Arung Palakka, Imam Lapeo, Petta Barang (To risappae),  KH. Harun, Petta Lasinrang,  dan Dt Sangkala. Ketujuh nama itu, biasanya ada satu dua yang berganti di komunitas berbeda.

Sementara, tujuh wali yang diucapkan dalam doa-doa mallise tase oleh Hajjah Subaedah, antara lain, Tamlikha, Maksalmina, Martunis, Nainunis, Sarbunis, Falyastatyunis, dan Dzununis.  Ketujuh orang yang disebutnya sebagai wali pitue itu tak lain adalah Ashabul Kahfi yang pernah tertidur di gua selama 309 tahun bersama anjingnya, qitmir. 

 Menyebut wali pitue yang tak lain adalah Ashabul kahfi dimaksudkan sebagai bentuk permohonan agar pakaian atau bekal yang ada dapat mencukupi, beberkah, dan tidak hilang-hilang.

Menurut Hajjah Subaedah, hal ini dikaitkan dengan pengalaman Ashabul Kahfi yang tidur selama 309 tahun, dan ketika bangun, pakaian yang dikenakannya juga masih utuh. Tidak hancur dimakan waktu.

Setelah menyebut nama Wali Pitue, doa kemudian ditutup dengan Selawat kepada Rasulullah Muhammad SAW. Lalu, tangkai tetumbuhan ‘dingin-dingin’ lengkap dengan beberapa daunnya,  dicelupkan dalam tiga mangkuk air. Setelah dicelupkan, tangkai tumbuhan‘dingin-dingin’ tersebut dikibaskan ke arah pakaian dan bekal yang akan dimasukkan ke dalam koper atau tas.

Baru setelah itu, pakaian dan barang disusun satu-satu, sambil terus mengucapkan Selawat kepada Rasulullah SAW. Akhirnya, rangkaian ritual mallise tase pun selesai.

Ritual mallise tase ini adalah, salah satu rangkaian ritual dalam proses berhaji orang-orang Bugis-Makassar. Boleh dikata, inilah salah satu cermin Islam Nusantara dari Bugis-Makassar, melalui tradisi haji orang-orang Bugis. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *