Mon. Nov 30th, 2020

BLAM

KEREN

Data Demografis Parepare Simpang Siur, Peserta Usulkan Peta Keagamaan Online

3 min read

Baso Marannu, memberikan penjelasan saat menjadi narasumber Peta Keagamaan Berbasis Kelurahan di Parepare. Foto: M. Irfan

1,125 total views, 2 views today

PAREPARE, BLAM – Peserta Workshop “Peta Keagamaan Berbasis Kelurahan” di Kota Parepare, Sulawesi Selatan, ternyata mengeluhkan kesimpangsiuran data demografis di wilayahnya.

Karena itu, peserta mengusulkan peta keagamaan bikinan Peneliti Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), dapat diakses secara online.

“Selama ini kami selalu bingung dengan data kependudukan di Parepare. Mengapa bisa berbeda antara data di kelurahan, di kecamatan, dan di BPS (Badan Pusat Statistik)? Kalau datanya berbeda begini, kami lantas mau merujuk yang mana? Kami usulkan peta keagamaan ini bisa diakses online,” kata seorang Penyuluh Agama Islam di Kementerian Agama Kota Parepare, Senin pagi, 26 Agustus 2019.

Menurut peserta, akses online data demografis itu, dianggap penting. Selain memudahkan seluruh masyarakat dapat mengakses data tersebut, juga untuk keseragaman data di semua instansi.

Narasumber workshop pada hari kedua, Baso Marannu, menyambut baik usulan peserta yang menginginkan peta keagamaan dapat diakses online. Hanya saja, untuk menjadikan peta keagamaan online, banyak hal yang perlu dijadikan pertimbangan.

“Usulan online itu sangat bagus. Cuma, masalahnya, kalau sudah online, maka sifat informasinya menjadi tertutup. Artinya, kita tidak bisa lagi mengutak-atiknya. Kita mengharapkan mahasiwa atau penyuluh agama dapat mengembangkan, dan sekaligus menjadi admin untuk meng-update data,” kata pemilik Basmar Academy, ini.

Untuk ke depan, kata Baso Marannu, BLAM menyarankan kepada Balai Diklat Kemenag Makassar untuk memasukkan salah satu materi menyangkut pembuatan peta keagamaan berbasis informasi teknologi.

“Saat ini, yang kita buat adalah bukan aplikasi peta keagamaan, tetapi sifatnya model informasi keagamaan dalam bentuk peta berbasis teknologi,” jelas Baso Marannu, yang juga Peneliti Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan BLAM, ini.

Kepala Kelurahan Lakessi, Kecamatan Soreang, Parepare, Awaluddin, yang hadir sebagai peserta, mengucapkan terima kasih kepada BLAM yang telah melakukan peta keagamaan di wilayahnya.

“Kami sangat berterima kasih, karena Lakessi menjadi kelurahan pertama untuk penyusunan peta keagamaan. Ini kegiatan yang sangat positif, dan kami berharap, peta keagamaan ini tidak sampai di Kelurahan Lakessi saja, tetapi juga dimanfaatkan oleh wilayah-wilayah lain di Parepare,” kata Awaluddin.

Selain mengundang pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IAIN Parepare dan BEM Universitas Muhammadiyah Parepare, dosen, dan Penyuluh Agama Kementerian Agama Kota Parepare, juga  Kepala Kelurahan Lakessi, Ketua Rukun Warga (RW), dan Ketua Rukun Tetangga (RT) di kelurahan tersebut.

Verifikasi Data

Pada hari kedua kegiatan, Senin, 26 Agustus 2019, Baso Marannu, meminta Ketua RT melakukan verifikasi data demografis yang diperoleh peneliti di wilayahnya masing-masing.

Pada Januari 2019 lalu, Peneliti Bimas Agama BLAM melakukan pencarian literatur di Parepare, selama sepekan. Peneliti mencari data jumlah penduduk di tiap-tiap RW dan RT, termasuk jumlah rumah ibadat, sekolah/madrasah, organisasi masyarakat, serta organisasi keagamaan, di Kelurahan Lakessi.

Boleh jadi, rentang waktu sekitar tujuh bulan sejak peneliti mencari literatur data demografis di setiap RT, telah terjadi perubahan data kependudukan. Atau, bisa juga, terdapat kesalahan dalam memasukkan posisi letak rumah ibadat. Misalnya, masjid yang ditulis peneliti berada di RW IV RT 2, tetapi sebenarnya letak masjid tersebut masuk ke wilayah RW dan RT lain.

“Karena itu, kami ingin mencocokkan lagi data yang telah peneliti peroleh Januari lalu, dengan data terbaru yang bapak-bapak dan ibu-ibu RT punya,” kata Baso Marannu.

Seusai verifikasi data, kegiatan dilanjutkan dengan mengajarkan peserta untuk menyusun peta keagamaan, sekaligus memasukkan atau menginput data tersebut ke dalam kolom peta keagamaan yang dibuat BLAM.

Semua peserta tampak serius mengikuti petunjuk pengisian data, untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam peta keagamaan. Bahkan, di sela-sela Baso Marannu memberikan petunjuk, beberapa peserta kerap bertanya apa yang mereka belum pahami.

Peta keagamaan ini meliputi peta rumah ibadat, peta pendidikan keagamaan, peta organisasi keagamaan, peta aliran keagamaan, peta problem keagamaan, serta peta problem sosio, politik, ekonomi, dan budaya.

Sehari sebelumnya, Minggu, 25 Agustus 2019, Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si, dalam sambutannya, menyatakan, pembuatan peta keagamaan ini diharapkan bisa dijadikan instrumen bagi kemenag untuk menyusun kebijakan pembinaan keagamaan di Parepare

“Selain itu, penyusunan peta keagamaan ini nuga sebagai role mode mahasiswa untuk menyusun peta keagamaan saat KKN, dan instrumen pendataan untuk mengawasi munculnya kelompok keagamaan, yang bisa memengaruhi relasi sosial dan relasi kebangsaan,” jelas Saprillah.

Workshop yang berlangsung empat hari, 24-27 Agustus 2019, di Hotel Satria Wisata Parepare, ini merupakan workshop lanjutan. Untuk memantapkan persiapan peta keagamaan, kegiatan ini telah dilakukan beberapa kali di Makassar, dengan mengundang aktivis, dosen, serta pihak Kemenag Kota Makassar dan Kanwil Kemenag Sulsel. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *