Mon. Jul 13th, 2020

BLAM

KEREN

Mahasiswa di Parepare Akan Diajarkan Menyusun Peta Keagamaan

3 min read

Peserta workshop Peta Keagamaan di Parepare, tampak serius menyimak materi. Foto: M. Irfan

1,056 total views, 4 views today

PAREPARE, BLAM – Mahasiswa yang akan berangkat Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Parepare, Sulawesi Selatan, akan diajarkan cara mengetahui kondisi sosial keagamaan melalui peta keagamaan. Peta keagamaan ini dimaksudkan untuk memudahkan mahasiswa mengetahui potensi dan dinamika sosial keagamaan di wilayah tempat mereka KKN.

“Peta keagaman ini akan menjadi role model bagi mahasiswa untuk menyusun peta keagamaan di tempat mereka melaksanakan KKN. Misalnya, berapa imam di tempat KKN, berapa jumlah penganut agamanya, apa-apa saja kelompok agama di sana, berapa pemandi jenazahnya, dan sebagainya,” kata Kepala Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), H. Saprillah, M.Si, Minggu, 25 Agustus 2019.

Saprillah menyampaikan hal tersebut, saat memberikan sambutan pada lanjutan kegiatan pengembangan (workshop) “Peta Keagamaan Berbasis Kelurahan di Kota Parepare, yang diadakan Peneliti Bidang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan BLAM.

Selain role model mahasiswa, kata Saprillah, pembuatan peta keagamaan ini juga menjadi instrumen kemenag untuk menyusun kebijakan pembinaan keagamaan di Parepare, dan menjadi instrumen pendataan untuk mengawasi munculnya kelompok keagamaan yang bisa memengaruhi relasi sosial dan relasi kebangsaan.

Workshop yang berlangsung selama empat hari, 24-27 Agustus 2019, di Hotel Satria Wisata Parepare, menghadirkan pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IAIN Parepare dan BEM Universitas Muhammadiyah Parepare, dosen, dan Penyuluh Agama Kementerian Agama Kota Parepare.

Diundang juga Kepala Kelurahan Lakessi, Ketua Rukun Warga (RW), dan Ketua Rukun Tetangga (RT) di kelurahan tersebut.

Selain mahasiswa, kata Saprillah, sasaran peta keagamaan ini juga adalah pengambil kebijakan (stake holder), termasuk kalangan RW dan RT.

“Dengan begitu, penyusun peta bisa mengetahui kondisi demografis kelompok keagamaan di wilayah mereka masing-masing. Misalkan saja di tempat itu apakah ada kelompok Syiah dan Wahabi, atau NU dan Muhammadiyah. Peta keagamaan juga sangat membantu masyarakat untuk mengetahui keberadaan kelompok keagamaan dan organisasi masyarakat di wilayah mereka,” kata Pepi, panggilan akrab Saprillah.

Pada awal Januari 2019, peneliti Bimas melakukan pencarian literatur selama sepekan, di Kelurahan Lakessi, Kota Parepare. Kelurahan tersebut dipilih, karena dianggap heterogen dari segi pemeluk agama dan etnis.

Meski begitu, pada tahap selanjutnya, kelurahan-kelurahan lain, kecamatan, dan bahkan penyuluh di kementerian agama, diharapkan pula dapat menyusun peta keagamaan berdasarkan model yang telah dibikin BLAM ini.

Kemenag Parepare Memberikan Apresiasi

Kepala Kemenag Kota Parepare, yang diwakili Kepala Sub Bagian Tata Usaha, H.M. Amin, MA, memberi respon positif serta apresiasi terhadap penyusunan peta keagamaan ini. Setidaknya, kata dia, apa yang akan dilakukan BLAM ini akan membantu meringankan beban kemenag dalam menjabarkan beberapa program yang telah mereka canangkan.

“Salah satu hal yang menjadi persoalan di Parepare adalah peningkatan kualitas beragama melalui dakwah,” kata Amin.

Sebenarnya, kata Amin, pihak kemenag sudah lama membuat semacam peta dakwah melalui penyusunan materi-materi dakwah, yang dimulai dari siapa penceramahnya, tema-tema yang akan dibawakan, hingga judul-judul dakwah. Hanya saja, hal itu dilakukan pada saat Ramadhan saja.

“Setelah kami telusuri, ternyata banyak judul yang disampaikan oleh muballig tidak berubah, dan berulang-ulang selama Ramadhan. Kami tentu berharap, mereka ikut menyesuikan materi dakwah berdasarkan kondisi sosial jamaah, mengangkat isu-isu kontekstual, dan tidak berulang,” kata Amin.

Amin juga berharap, pihaknya akan merasa terbantu untuk lebih mengetahui kondisi sosial masyarakat dan dinamika kelompok keagamaan yang berkembang di Parepare.

Peserta Antusias

Dua narasumber pada hari pertama, yaitu Prof. Dr. H.M. Hamdar Arraiyyah dan Syamsurijal, M.Si, mendapat sambutan antusias peserta. Saat sesi tanya-jawab berlangsung, peserta bersemangat mengacungkan jari untuk bertanya.

“Kalau ada petunjuk seperti ini, ini juga ikut memudahkan kerja kami dalam mendata penduduk, dan apa organisasi keagamaan yang mereka geluti,” kata seorang peserta.

Hamdar, yang menyampaikan materi  “Urgensi Peta Keagamaan untuk Mendukung Dakwah Islam,” menyatakan, sebelum muballigh memberikan ceramah, mereka sebaiknya memahami dulu apa ideologis para jamaahnya.

Misalnya, kata Hamdar, apakah jamaahnya itu orang terpelajar, modernis, dan tradisionalis. Muballigh juga harus komunikatif dan bersikap arif dalam menyampaikan dakwah, serta  tidak boleh mengeluarkan kalimat “kamu kafir”, “kamu masuk naraka” kepada para jamaahnya.

“Di sinilah pentingnya peta dakwah. Kalau muballigh tidak arif, berarti dia tidak cocok dengan nilai-nilai kearifan. Kalau muballignya tidak arif, para jamaah bisa menjauh. Betapa pentingnya membangun kedekatan antara pembicara dengan jamaah, dan betapa pentingnya pesan-pesan  kearifan dalam menyampaikan sesuatu kepada orang. Sekali lagi, di sinilah pentingnya peta dakwah dibuat,” lanjut Peneliti Ahli Utama BLAM, ini.

Syamsurijal, yang membawakan materi “Peta Sosial Keagamaan Kontemporer,” memaparkan peta paham keagamaan di Indonesia secara umum, seperti paham yang dianut beberapa kelompok keagamaan yang diangggap radikalisme dan  intoleransi.

“Ada beberapa kelompok keagamaan di Indonesia yang dikategorikan berpaham radikal. Malah, beberapa di antara kelompok keagamaan itu sudah ada di Parepare. Sayangnya, masih banyak masyarakat awam yang belum mengetahui, bahwa radikalisme itu sesungguhnya selangkah lagi bisa menjadi terorisme,” kata Syamsurijal. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *