Thu. Sep 24th, 2020

BLAM

KEREN

BRIN Belum Pasti, Badan Litbang Agama Keluhkan Minimnya Dana Riset

2 min read

Suasana diskusi mengenai pembentukan Badan Riset Nasional, Kamis, 22 Agustus 2019. Foto: M. Irfan

1,213 total views, 2 views today

CIBUBUR, BLAM – Belum adanya kepastian kapan pembentukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), membuat peneliti di lingkungan Badan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, akhirnya bernapas lega.

“Kami belum bisa memastikan kapan BRIN terbentuk. Kita tinggal menunggu keputusan dari pemerintah yang baru,” kata Prakoso, di Hotel Cibubur, Jawa Barat, Kamis, 2 Agustus 2019.

Prakoso, yang mewakili Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan, Kemenristek Dikti, menjadi pembicara pada  hari kedua Temu Riset Peneliti Badan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI. Ia membahas soal BRIN dan Posisi Litbang Kementerian.

Sejak bergulir wacana pembentukan BRIN, sejumlah peneliti di kementerian agama mulai diliputi beragam pertanyaan. Setidaknya, beberapa regulasi terkait jenjang kepangkatan hingga usia pensiun peneliti, bakal mengalami perubahan.

Selain itu, kantor peneliti di bawah naungan Badan Litbang, kemungkinan juga akan mengalami perubahan. Apakah, nantinya mereka tetap berkantor seperti sekarang ini, ataukah dipindahkan, dan kemudian digabung ke instansi lain.

“Bila BRIN terbentuk, kami tidak tahu apa nanti kontribusi Litbang Agama pada riset keagamaan. Selama ini, Litbang Agama selalu memberikan kontribusi pada riset radikalisme dan ekstrimisme agama. Nah, kalau BRIN terbentuk, kami tidak tahu lagi apakah Litbang Agama tetap diberikan kontribusi pada riset ini ataukah tidak?” kata Dr. Adlin Sila, Ph.D.

Kapus Lektur Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, Dr. H. Muhammad Zein, yang juga menjadi narasumber pada sesi ini, meminta pemerintah untuk menambah anggaran penelitian.

Menurut Zein, anggaran yang digelontorkan pemerintah terkait riset humaniora dan budaya, dianggap belum mencukupi. Hal ini berbeda dengan anggaran riset ilmu disiplin lain, yang terkesan lebih “wah”. Karena itu, ia berharap diadakan riset kolaboratif yang melibatkan peneliti lintas multidisiplin, termasuk melibatkan peneliti dari lingkup kementerian agama.

“Negara sepertinya belum hadir untuk membiayai riset, khususnya lagi, riset humaniora dan budaya. Budget kita untuk riset tersebut sangat minim, sehingga kita mengalami kesulitan melakukan riset-riset mendalam apabila ada kasus yang sifatnya urgensi,” kata pria asal Mandar, Sulawesi Barat, ini.

Maraknya kasus-kasus intoleransi atas nama agama di Indonesia, yang kerap disertai kekerasan dan perusakan rumah ibadat, termasuk sasaran penelitian Badan Litbang.

Menurut Zein, pihaknya sebenarnya ingin mendalami kasus-kasus tersebut, apalagi yang terjadi secara mendadak. Hanya saja, kata dia, karena anggaran riset minim, sehingga peneliti beberapa kali terpaksa urung diterjunkan ke lapangan untuk mendalami pelbagai kasus tersebut.

Kasus terakhir yang menarik perhatian Badan Litbang adalah bentrokan yang terjadi dengan mahasiswa Manokwari yang kuliah di Surabaya dengan aparat kepolisian di Surabaya. Peristiwa di Surabaya ini pun sempat menjalar ke Manokwari, Papua Barat, hingga Makassar.

Bahkan, beberapa berita di online dan video amatiran yang beredar melalui Whatsapp, menunjukkan, adanya pembakaran bendera Merah Putih, pemukulan orang Jawa di Manokwari, dan penyerbuan asrama Papua oleh organisasi masyarakat tertentu di Makassar.

“Kami berharap ada dana abadi yang bukan berasal dari APBN. Sehingga, dana abadi ini bisa digunakan dan dimanfaatkan untuk kepentingan riset dadakan,” kata Zein. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *