Sat. Sep 26th, 2020

BLAM

KEREN

Memilih Hari Terbaik Potong Kuku Versi Lontara Bugis

4 min read

Sumber foto: Hasil transliterasi naskah lontara “Matteppé Kanuku”

3,523 total views, 8 views today

Oleh: Abu Muslim (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Hampir semua aktivitas masyarakat Bugis dimulai dengan mempertimbangkan waktu yang dikenal dengan istilah hari baik dan hari buruk (Kutika). Pemilihan hari baik biasanya dihubungkan dengan kegiatan sehari-hari, mulai dari hal-hal sederhana seperti memotong kuku, bahkan dalam hal-hal yang lebih besar seperti menempati rumah baru, perkawinan, dan melaksanakan pesta-pesta.

Penggunaan simbol hari baik dan buruk sangat berkaitan dengan konsep waktu masyarakat Bugis, yang meliputi hari, bulan dan tahun. Perhitungan tahun biasanya didasarkan pada waktu panen (Gunawan, 2018).

Sementara itu, peristilahan hari-hari dalam konsep orang Bugis dahulu dikenal dengan sebutan Masuara, Bisnong, Sirri, Barahamang, dan Kala. Namun setelah Islam masuk, terjadi penyesuaian penyebutan hari dalam seminggu yakni: Aha’, Senneng, Salasa, Araba, Kammisi, Juma, dan Sattu.

Bahkan, klasifikasi waktu tidak hanya berdasarkan hari-hari, juga dikenal pembagian sub waktu dalam 16 bagian yakni: Pajang, Ele-Kelek, Pammulang, Enrekesso, Tangngasso, Tanreesso, Araweng, Sarakesso, Petteng, Labbukesso, Sumpang Wenni, Laleng Penni, Tengngabenni, Sarawenni, Denniari, Wajeng Pajeng.

Bagi masyarakat Bugis, setiap sub-waktu dalam sehari memiliki petunjuk tentang kapan terkategori baik, dan kapan dia dikategorikan sebagai hari buruk, karena selalu berkaitan dengan aktivitasnya.

Misalnya, hari senin (esso senneng), minggu (aha), Rabu (Araba) dan Jumat (juma’) biasanya diasosiasikan dengan hari baik, sementara hari selasa (salasa) sering dikatakan sebagai hari buruk, merujuk pada frase salasa yang mirip penyebutannya dengan sala-sala, sisala, lari sala, yang dalam konteks budaya Bugis merupakan aspek yang melulu diterjemahkan negatif, karena mengandung unsur kesalahan, perselisihan, dan salah arah. Biasanya sering pula dikenal dengan ‘suara keburukan dan kematian’.

Berikut adalah salah satu saduran isi Naskah yang memuat perihal hari-hari baik dan hari-hari buruk pada aktivitas memotong kuku. Kutipan ini diperoleh dari pembacaan atas Naskah Digital Keagamaan Koleksi Balai Litbang Agama Makassar dengan nomor Koleksi 02/Akh/BLA-Bon/2015.

Naskah ini merupakan koleksi Abdullah K., yang berdomisili di BTN Timurama Kecamatan Tanete Riattang, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Naskah ini ditulis di atas kertas Eropa dengan aksara Lontara dan aksara hijaiah, sebanyak 342 halaman.

Salah satu muatan isi manuskrip lontara di dalamnya memuat tentang “Lontara Matteppe’ Kanuku” (Pedoman Memotong Kuku). Berikut saduran dan edisi teks naskahnya:

Faslun pannessaéngngi rimakkedana nabittaq Muhammad:

  1. Nigi-Nigi Matéppeq Kanuku Ri Esso Na Sattué Majeppu Massu’i Décéngngé Nautta’ma Lasaé Enrengngé Ja’é
  2. Nigi Nigi Mateppeq Kanuku Ri Essona Ahaqé Majeppu Massui Asugirengngé Na Attamaq Akasirengngé
  3. Nigi Nigi Mattéppeq Kanuku Ri Esso Na Asénéngngé Majeppu Massui Lasaé Nauttamaq Nyamengngé.
  4. Nigi Nigi Mattéppeq Kanuku Ri Esso Na Salasaé Majeppu Massui Ajjappaé Na Uttamaq Lasaé
  5. Nigi Nigi Mattéppeq Kanuku Ri Esso Na Arabangngé Majeppu Massui Cilakaé Na Uttama Upeqé
  6. Nigi Nigi Mattéppeq Kanuku Ri Esso Na Kammisiqé Majeppu Massui Asolangengngé Na Uttama Upeqé Enrengngé Décéngngé
  7. Nigi Nigi Mattéppeq Kanuku Ri Esso Na Jumaé Majeppu Massui Asolangengngé Na Uttamaq Barakkaqé

Pasal  yang membahas tentang perkataan Nabi kita Muhammad:

  1. Barang siapa yang memotong kuku pada hari Sabtu sesungguhnya kebaikan keluar dan masuklah penyakit begitu pula keburukan.
  2. Barang siapa yang memotong kuku di hari ahad, sesungguhnya keluar Kekayaan dan masuk kemiskinan.
  3. Barang siapa memotong kuku pada hari Senin sesungguhnya keluar penyakit dan masuk kenikmatan.
  4. Barang siapa yang memotong kuku pada hari Selasa sesungguhnya keluar kesehatan dan masuk penyakit.
  5. Barang siapa yang memotong kuku pada hari rabu sesungguhnya keluar celaka dan masuklah keberuntungan.
  6. Barang siapa yang memotong kuku pada hari kamis sesungguhnya keluar kerusakan dan masuk Keberuntungan dan kebaikan.
  7. Barang siapa yang memotong kuku pada hari Jumat sesungguhnya keluar kerusakan dan masuklah berkah.

Disebutkan dalam naskah sebagai Faslun pannessaéngngi rimakkedana nabittaq Muhammad, itu artinya bahwa penentuan hari-hari baik memotong kuku yakni (Senin, Rabu, Kamis, Jumat) dan hari-hari buruk memotong kuku yakni (Sabtu, ahad, dan Selasa) adalah bagian dari petunjuk Nabi Muhammad (lihat riwayat Abu Hurairah tentang Hadis Potong Kuku) yang kemudian disadur dan “dibugiskan” oleh para orang tua Bugis dahulu demi mendekatkan aspek-aspek keagamaan yang bernuansa lokalitas Bugis dalam diri masyarakat.

Selain dalam naskah lontara tersebut, ada juga pemali yang berkembang dalam masyarakat Bugis dalam memotong Kuku pada malam hari. Konon, memotong kuku malam hari dapat menyebabkan kematian dini, atau tidak bisa melihat orang tua meninggal (meskipun boleh jadi, jika potong kuku dilakukan malam hari, kita tidak dapat melihat jelas karena keterbatasan pencahayaan, dibandingkan jika melakukannya siang hari).

Tentu saja, itu adalah sebuah kearifan lokal, yang senantiasa menitipkan pesan-pesan hikmah yang kepadanya lebih baik diambil pelajaran atasnya.

Pemahaman perihal membedakan waktu-waktu yang baik dan waktu-waktu buruk, pada gilirannya adalah cara orang Bugis mengaktualisasikan konsep manini’ (kehati-hatian) dalam melakukan segala sesuatu.

Itulah mengapa, diskusi alot selalu terlihat jika orang tua kita di Bugis bermusyawarah menentukan tanggal pelaksanaan peristiwa, atau hajatan. Jika kebetulan penentuan hari sudah dipilih dan bertepatan dengan hari yang dianggap terkategori hari buruk, orang yang memilih waktu itu acap kali disebut tidak memiliki pemahaman yang baik (paddisengeng).

Sementara jika pemilihannya berdasarkan waktu yang dikonsepsikan sebagai hari baik, itu adalah bagian penting dari implementasi mejeppu paddissengeng (pemahaman mendalam atas sesuatu).

Mereka yang menjadikan ini sebagai pedoman penentuan waktu, biasanya menjadikannya sebagai bagian dari sennu-sennuang. Makna dari Sennu-sennuang sendiri adalah sebuah rasa optimisme dalam hati, bahwa aktivitas yang dilakukan akan berjalan dengan lancar.

Bahkan dalam beberapa hal, sennusennuang sering dikaitkan dengan konsep Tafa’ul atau diterjemakan sebagai simbol doa dan pengharapan atas segala yang baik. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *