Thu. Sep 24th, 2020

BLAM

KEREN

BLAM Diskusikan Moderasi Beragama

3 min read

Suasana diskusi "Halaqah Moderasi Beragama" di Kantor BLAM. Foto: Asnandar

924 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM – Moderasi Beragama menjadi perbincangan serius di kalangan Peneliti Balai Litbang Agama Makassar (BLAM). Kali ini, Peneliti Ahli Utama (PAU) BLAM, menggelar diskusi khusus bertema “Halaqah Moderasi Beragama”, di Kantor BLAM, Senin, 12 Agustus 2019.

Diskusi ini menampilkan dua pemakalah, yaitu PAU BLAM, Dr. Kadir Massoweang, dan Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar, Dr. Muammar.

Kadir Massoweang, menegaskan, ajaran Islam tidak mengharamkan orang-orang Islam untuk berbudaya, serta melaksanakan tradisi sesuai kulturnya. Sebab, budaya merupakan bagian dari kehidupan manusia yang tidak dapat dipisahkan selama hidup di dunia.

“Selama  tradisi  dan  budaya  itu  tidak  bertentangan dengan syariat Islam yang telah ditetapkan, tradisi itu sah-sah saja untuk tetap dilaksanakan dan dilestarikan,” kata Kadir M.

Kadir, yang membahas tentang “Tradisi Keagamaan dan Pembinaan Umat”, menyatakan manusia sebagai makhluk  Allah  Swt  adalah makhluk berbudaya yang senantiasa menggunakan akal pikirannya untuk memenuhi kebutuhannya dalam rangka menciptakan kebahagiaan terhadap dirinya sebagai individu maupun masyarakat dan lingkungannya.

Dengan akal, kata Kadir, manusia mampu melakukan penilaian  dan  mengontrol   kekeliruan   indera   manusia,  serta  mampu memberikan penjelasan sebab akibatnya. Manusia sebagai makhluk berbudaya karena potensi akal yang diberikan oleh Allah Swt.

“Dengan akal, manusia mampu menciptakan, mengkreasi, memperlakukan, memperbarui, memperbaiki, mengembangkan, dan meningkatkan sesuatu yang ada untuk kepentingan manusia,” jelas mantan Kepala BLAM, ini.

Menurut Kadir, tradisi atau kebiasaan adalah sesuatu yang telah dilakukan sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat dari suatu negara, kebudayaan, waktu, dan agama atau keyakinan.

Dalam pengertian lain, kata Kadir, tradisi adalah sesuatu kebiasaan yang berkembang dalam masyarakat, baik yang menjadi adat kebiasaan, atau yang diasimilasikan dengan ritual adat atau agama.

“Tradisi ini berlangsung secara turun temurun, baik melalui informasi lisan berupa cerita, atau informasi tulisan berupa kitab atau juga yang terdapat dalam prasasti. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat tidak lepas dari berbagai upacara yang merupakan tradisi turun temurun dari suatu generasi ke generasi selanjutnya,” jelas Kadir.

Kadir melanjutkan, sebelum datangnya Islam, masyarakat telah mempunyai adat istiadat dan tradisi yang berbeda-beda sesuai tempat, agama dan keyakinan masing-masing.

Setelah Islam datang dan berkembang, ajaran agama dan tradisi lokal saling berbaur, dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya. Sehingga, tradisi tersebut menjadi tradisi keagamaan, yaitu tradisi agama yang dipengaruhi tradisi lokal atau tradisi lokal yang menyatu dengan unsur-unsur agama, sehingga seluruh rangkaian tradisi bernapaskan nilai-nilai agama.

“Islam tidak datang dengan suatu peradaban baru yang lengkap, tetapi melengkapi peradaban yang sudah ada dengan semangat dan orientasi yang baru. Tradisi dalam masyarakat Islam dapat berkembang dengan baik jika umat Islam lebih toleran terhadap nilai-nilai tradisi dan budaya lokal setempat dengan prinsip ajaran Islam datang dan tersebar ke penjuru dunia, bukan untuk mengganti budaya dan  tradisi  yang  ada  dengan  tradisi  dan  budaya  Arab  sebagai  tempat  awal diutusnya Nabi Muhammad,” papar Kadir M.

Dr. Muammar Bakry, yang mengurai “Moderasi Beribadah dengan Perbedaan Bermazhab di Kota Makassar”, mengemukakan, perbedaan adalah keniscayaan. Manusia secara alami terlahir dengan jenis kelamin laki-laki atau perempuan, berasal dari suku-suku, bangsa, bahasa, budaya yang berbeda. Perbedaan itu juga berdampak pada perbedaan fisik, karakter, dan sebagainya.

“Memaksakan untuk menyatukan dan menyamakan pikiran manusia bertentangan dengan kodrat manusia yang Allah tetapkan, upaya seperti itu sama saja menantang kemahakuasaan Tuhan,” kata Dosen Universitas Islam Negeri Makassar, ini.

Lebih lanjut, Muammar menjelaskan, perbedaan merupakan interaksi yang tidak dapat dielakkan dalam perilaku kehidupan manusia. Perbedaan yang disikapi secara emosional akan melahirkan kebencian, dan intoleran yang mengakibatkan konflik. Namun, jika perbedaan dipandang sebagai hal yang lumrah dan manusiawi, akan melahirkan sikap toleran, kedamaian dan keharmonisan.

“Perbedaan pendapat menjadi pemicu terjadinya silang pendapat di kalangan para ulama, yang kemudian melahirkan madzhab fikih dalam Islam, namun itu merupakan rahmat dan kemudahan bagi umat Islam. Berbagai ijtihad ulama menjadi khazanah Islam dan kebanggaan bagi umatnya,” jelasnya.

Menurut Muammar, perbedaan ahli fikih hanya terjadi dalam masalah-masalah cabang (furui’yyah), bukan masalah inti, dasar, dan akidah. Pangkal perbedaan ulama dalam tataran pemahaman manusia dalam menangkap pesan dan makna, mengambil kesimpulan hukum, menangkap rahasia syariah dan memahami ‘illat (alasan) hukum.

“Semua ini tidak bertentangan dengan kesatuan sumber syariat, karena syariat Islam tidak saling bertentangan antara satu dengan lainnya. Perbedaan terjadi karena keterbatasan dan kelemahan manusia,” kata Muammar.

Diskusi ini berlangsung menarik. Peserta yang berasal dari kalangan peneliti dan akademisi, ikut menyumbang gagasan terkait moderasi beragama. Mereka, antara lain, Prof. Dr.Tahir Kasnawi, Dr. Nur Setiawati, Ph.D, Dr.Arfah Siddiq, Prof. Ahmad Sewang, Dr.Norman Said, Dr. Kamaluddin Abunawas, Prof.Muhammad Galib, Dr.Raisuddin, dan Dr. Mardiawati. (dal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *