Sat. Apr 4th, 2020

BLAM

KEREN

Tugas Guru dalam Penguatan Nilai-nilai Islam dan Karakter Bangsa

10 min read

Guru sangat berperan dalam membentuk karakter siswanya. Sumber foto: islam.nu.or.id

2,105 total views, 4 views today

Oleh: H.M.Hamdar Arraiyyah (Profesor Riset Balai Litbang Agama Makassar)

 Karakter sering disandarkan pada pribadi tertentu atau kelompok. Sejalan dengan hal itu, karakter menjadi identitas seseorang, komunitas, masyarakat, umat beragama, suku bangsa, dan bangsa. Hal tersebut sejalan dengan pengertian karakter.

Dikatakan, misalnya, Character: (1) one of the attributes or features that make up and distinguish an individual; (2) the complex of mental and ethical traits marking and often individualizing a person, group, or nation (Merriam-Webster).

(Karakter adalah: 1. salah satu sifat atau keadaan yang membentuk dan menjadi ciri perorangan; 2. Keseluruhan sifat-sifat khas kejiwaan dan etik yang menandai dan sering menjadi pembeda bagi seorang, kelompok, atau bangsa). Dengan demikian, pada karakter itu ada sifat atau sifat-sifat yang menonjol yang menandai tabiat.

Karakter menunjuk kepada kepribadian, termasuk di dalamnya cara berfikir, nilai-nilai, dan watak yang tercermin melalui sikap, perilaku, dan tindakan (Kemenko Polhukam, 2016:35). Artinya, karakter memiliki landasan. Salah satunya adalah nilai, yakni hal-hal yang dipandang penting dan berguna oleh individu atau sejumlah individu serta menjadi sumber motivasi untuk melakukan tindakan.

Nilai menjadi fungsional ketika dipahami dengan baik, dipegang teguh dan diterapkan dengan tindakan sehingga menjadi objek yang dapat dilihat. Aspek-aspek tindakan yang dapat dilihat, menurut Mulyana, mencakup intensitas dan frekuensi (Mulyana, 2013: 47).

 Nilai-nilai Agama Islam

Agama adalah salah satu sumber nilai bagi manusia, khususnya bagi pemeluknya. Bagi pemeluk Islam, sumber ajaran yang pertama adalah Al-Qur’an Al-Karim. Kitab ini mengandung informasi, nilai, dan norma.

Banyak informasi yang hanya diketahui oleh umat Islam dengan merujuk pada ayat-ayat Al-Qur’an Al-Karim. Di antaranya, informasi tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah, kehidupan sesudah mati, gambaran tentang surga dan neraka, kehadiran makhluk di sekitar manusia yang tidak tampak oleh mata berupa malaikat dan jin, dan segala perbuatan manusia dicatat oleh malaikat, tindakan positif maupun negatif.

Dengan demikian, agama ini  memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh sains. Agama menjadi sumber ilmu (knowledge) yang dibutuhkan oleh manusia, di samping ilmu yang diperoleh melalui akal pikiran.

Sumber ajaran Islam yang kedua adalah Hadis atau Sunnah Nabi Muhammad Saw. Nabi menjadi pembimbing umat dalam memahami dan melaksanakan ajaran agama Islam sekaligus menjadi model terbaik. Ini menunjukkan, nilai-nilai Islam tidak sebatas untuk diketahui oleh umat, tetapi juga diamalkan yang pada gilirannya melahirkan kepribadian yang khas.

Masyarakat Muslim di berbagai belahan bumi ditandai, misalnya, dengan sikap yang ramah. Kepribadian sebagai cermin pemahaman dan penghayatan ajaran agama dinyatakan oleh Nabi Saw. dengan sabdanya, ad-Din husn al-khulq (Agama ditandai dengan budi pekerti luhur).

Pendidikan Agama Islam di sekolah telah memberi kontribusi besar dalam memperkenalkan ajaran Islam kepada peserta didik, dan memperkuat kesadaran mereka sebagai muslim. Dewasa ini, kaum terpelajar yang beragama Islam di Indonesia merasa bangga dengan keyakinan agamanya.

Keutamaan ajaran Islam semakin tersingkap dan semakin nyata dari hari ke hari seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pesentuhan peserta didik dengan pesan-pesan agama melalui lembaga pendidikan formal dirasakan sebagai suatu bentuk kepedulian dari negara.

Mereka semakin sadar sebagai bagian dari sebuah bangsa yang religius. Penilaian positif itu semakin kuat dengan kehadiran mushalla atau masjid di lingkungan sekolah dan sebagian instansi pemerintah.

Materi Pendidikan Agama Islam (PAI) sudah dirancang sedemikian rupa agar pokok-pokok ajaran agama ini dari berbagai aspeknya disampaikan kepada murid (murid berarti orang yang punya hasrat besar untuk belajar dan mengetahui).

Dari segi kurikulum, berbagai topik bahasan dibahas di kelas. Paling tidak, materi pelajaran yang memadai diuraikan dalam buku teks sehingga dapat dibaca oleh siswa. Meskipun demikian, masih ada ketidakpuasan yang sering dikemukakan oleh pakar dan pemerhati pendidikan. Di antaranya, proses pembelajaran masih memberi penekanan pada aspek kognitif.

Dikatakan misalnya, metode pembelajaran PAI kurang bervariasi, berorientasi pada materi atau isi, dan menekankan evaluasi kognitif yang diskrit (Mulyana, 2013:4-5).

(Penulis: discreet dalam kamus bahasa Inggris online berarti, careful and circumpspect in one’s speech or actions, especially in order to avoid causing offense or to gain advantage. Maksudnya, guru terpaku pada metode dan teknik mengajar yang sudah biasa dilakukan. Ia tak ingin repot dengan mengusahakan yang lain. Misalnya, aspek sikap dan keterampilan belum menjadi bagian dari evaluasi pembelajaran PAI secara sungguh-sunguh dan terukur).

Penilaian itu ada benarnya. Idealnya, guru PAI harus mampu menyampaikan nilai dan norma agama dengan sejelas-jelasnya sehingga dipahami oleh siswa dengan baik, tertanam kuat di dalam hati, dan membangkitkan semangat untuk mengamalkannya secara konsisten. Dengan cara demikian, nilai-nilai agama mewarnai kepribadian peserta didik sebagai individu, dan kelompok siswa.

Garu PAI mestinya menyampaikan ajaran agama yang mengetuk kepekaan pendengaran (as-sam‘a), mengundang kecermatan penglihatan (al-abshar), dan memancing perenungan dengan hati (al-af’idah).

Alat-alat kelengkapan tersebut pada siswa perlu difungsikan secara terintegrasi dalam proses belajar mengajar. Dalam Al-Qur’an al-‘Azhim difirmankan, yang artinya: Katakanlah, “Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati nurani bagi kamu. (Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur (al-Mulk/57:23).

Pada ayat yang lain, difirmankan, yang artinya: Dan sungguh akan Kami isi neraka Jahannam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan unuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah (al-A’raf/7:179).

Ayat-ayat di atas memberi penegasan tentang fungsi alat-alat kelengkapan pada manusia untuk memahami agama dengan baik. Urutan tiga alat kelengkapan ini tidak sama pada dua ayat itu. Selain itu, satu ayat menyebut indra telinga sedangkan yang lainnya menyebut fungsinya, yakni mendengar.

Satu menyebut indra mata, sedang yang lainnya menyebut fungsinya untuk melihat. Satu ayat mneggunakan kata qulub (hati), jamak dari qalbun; sedangkan yang lainnya menggunakan kata af-’idah (hati), jamak dari fuadun.

Idealnya, metode pembelajaran agama mementingkan penggunaan alat bantu pandang dengar (audio viasual aids). Potret para penyandang kemiskinan dan gubuk mereka yang kumuh akan menimbulkan perasaan iba bila ditayangkan di layar.

Lebih dari itu, pengamatan langsung dapat dilakukan dengan menghadirkan objek sesunguhnya seperti tanaman, atau menyaksikan secara langsung hujan yang sedang turun dari langit. Kedua objek itu banyak disebut di dalam Al-Qur’an al-Hakim untuk mengajak manusia beriman kepada hari kebangkitan.

Pemakaian peta dalam menjelaskan lokasi berlangsungnya suatu peristiwa dalam sejarah Islam atau kisah dalam Al-Qur’an al-Hakim membawa kesan yang tak mudah dilupakan oleh murid. Penerapan teknik-teknik ideal seperti itu agaknya masih perlu ditingkatkan.

Harapan kita, agar teks Al-Qur’an dan Hadis Nabawi dapat dibaca oleh siswa dengan lancar dan fasih. Diharapkan agar informasi tentang peristiwa di dalam sejarah Islam atau kisah dalam Al-Qur’an al-Karim dapat diserap. Siswa diharapkan dapat menangkap nilai dan pesan moral yang terkandung dalam berbagai kisah.

Penuturan kisah itu dikemas oleh guru dengan narasi yang indah dan menarik sehingga membekas. Metode penyampaiannya menyentuh aspek afektif, yakni memengaruhi sikap murid.

Sebagian teks Al-Qur’an dan Hadis Nabawi harus dihafal oleh siswa. Teks yang dimaksud terutama yang menjadi bagian dari ketentuan salat atau memuat pokok-pokok agama Islam. Kemampuan menghapal dan melakukan praktik salat dengan baik itu penting dan bagian dari aspek keterampilan yang harus dikembangkan.

Selain untuk kesempurnaan salat, teks  yang dibaca berulang-ulang juga memperkuat keyakinan terhadap nilai yang dikandungnya. Dengan demikian, pembacaan teks suci secara berulang-ulang dapat dilihat sebagai salah satu teknik menguatan nilai-nilai agama bagi siswa di lembga pendidikan formal dan institusi pendidikan agama non formal.

Teknik pengulangan teks perlu dipertahankan dengan memandu siswa melakukan aktivitas rutin. Misalnya, membaca surah pendek atau ayat tertentu dari Al-Qur’an secara bersama-sama setiap pertemuan.

Di antaranya, membaca surah al-Fatihah sebelum belajar dan surah al-Ashr pada saat pembelajaran akan berakhir. Selain itu, doa-doa penguatan iman, ketaatan beribadah, dan pemeliharaan akhlak mulia dapat menjadi bagian dari teks yang dibaca berulang-ulang.

Salah satu doa dan wirid yang dimaksud, yaitu Radhitu billahi rabban wa bil-islami dinan wa bi muhammadin shallallahu alaihi wasallam nabiyyan (Saya rida meyakini Allah sebagai Tuhanku, menganut agama Islam, dan meyakini kenabian baginda Muhammad Saw.). Tradisi ini menjadi bagian dari pengalaman penulis pada waktu belajar di Madrasah Muallimin Yasrib Watan Soppeng selama empat tahun, saat memasuki usia remaja.

Dewasa ini salah satu kelemahan sebagian peserta didik adalah rendahnya kemampuan mereka untuk menjelaskan kembali materi yang sudah dipelajari. Sehubungan dengan hal itu, teknik mengajar retelling (menuturkan kembali) atau rewriting (menulis ulang) perlu diperhatikan.

Tugas-tugas membuat rangkuman materi secara tertulis, menerangkan kembali secara lisan, dan membuat karangan pendek orisinal perlu dijadikan sebagai salah satu andalan dan keunggulan dalam pembelajaran PAI. Teknik penugasan dengan cara ini dapat pula dijadikan sebagai bagian dari evaluasi pemahaman siswa terhadap materi yang sudah dipelajari.

Hal yang tidak kalah pentingnya dalam rangka penguatan nilai-nilai agama adalah pemanfaatan karya sastra. Siswa perlu diorong untuk membaca karya sastra berupa puisi, pantun dan prosa lirik. Lirik yang kuat dan berisi pesan keagamaan akan mudah diingat dan diresapi. Berdasarkan pengalaman membaca karya sastra itu, siswa dapat membuat karya sendiri. Siswa menjadi kreatif.

 Menjabarkan Nilai dan Norma Agama Islam

Memperkenalkan nilai-nilai dan norma-norma agama adalah bagian dari tugas guru PAI. Banyak sekali satuan nilai yang terkait dengan ketuhanan (menerangkan hablun minallah: hubungan manusia dengan Allah) dan kemanusiaan (hablun minannas: menerangkan hubungan antar sesama manusia) di dalam Al-Qur’anul Karim dan Hadis Nabawi. Dengan demikian, siswa perlu dipandu untuk mengidentifikasi nilai dan norma tersebut.

Berikut ini beberapa contoh nilai. Ayat berikut menegaskan, Allah itu Maha Esa. Keyakinan keagamaan ini merupakan prinsip utama dan nilai dasar dalam Islam. Nilai ini memberi kekuatan, semangat, optimisme, serta banyak pengaruh positif lainnya pada orang beriman.

Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. (al-Baqarah/2:163).

Ayat berikut memuat larangan melakukan perbuatan syirik.

Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Luqman/31:13)

Ayat berikut mengajarkan kepedulian terhadap sesama:

Maka barangsiapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan). (al-Lail/92:5-7).

Nilai-nilai agama tersebut di atas perlu dijabarkan dalam bentuk regulasi dan panduan kegiatan siswa di kelas, di lingkungan sekolah, dan di luar sekolah. Contoh yang sangat baik adalah kegiatan siswa selama bulan Ramadan. Sekolah atau kelas memanfaatkan momentum Ramadan dengan mengadakan acara buka puasa bersama.

Guru PAI mewajibkan murid mengikuti Salat Tarawih di masjid. Murid mencatat nama mubalig, judul ceramah, dan pokok-pokok isi ceramah. Penugasan semacam ini sebaiknya tidak hanya pada bulan Ramadan, tetapi juga di bulan-bulan yang lain. Siswa perempuan yang tidak mengikuti salat Jumat di sekolah, perlu diberi tugas mengikuti khutbah yang disampaikan di masjid.

Khutbah di Masjd Istiqlal Jakarta disiarkan melalui TVRI. Khutbah di Masjid Al-Markaz Makassar disiarkan melalui Radio Al-Markaz. Khutbah di Masjid Agung Sengkang dipancarkan melalui Radio As’adiyah. Jika kebiasaan mendengarkan khutbah dilakukan oleh siswa putri, kemudian dilanjutkan setelah tamat, dan kemudian ditularkan kepada warga yang lain, maka guru PAI melakukan amal jariah dengan ilmunya.

Penguatan Karakter Bangsa

Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter bangsa didasarkan pada budaya bangsa. Nilai-nilai itu selaras dengan nilai-nilai Islam. Sebagian besar dari nilai yang jumlahnya delapan belas itu dinyatakan secara tegas atau tersirat dalam teks agama Islam.

Nilai-nilai yang dimaksud, yaitu: (1) religius,  (2) jujur, (3) toleransi, (4) disiplin, (5) kerja keras, (6) kreatif, (7) mandiri, (8) demokratis, (9) rasa ingin tahu, (12) menghargai prestasi, (13) bersahabat/komunikatif, (14) cintai damai, (15) gemar membaca, (16) peduli lingkungan, (17) peduli sosial, dan (18) tanggung jawab.

Sebagian di antaranya sejalan dengan penafsiran terhadap teks agama atau penjelasan ulama, yaitu,  (10) semangat kebangsaan, dan (11) cinta tanah air.

Berikut ini beberapa contoh nilai karakter bangsa yang disebut di dalam teks agama Islam.  Teks yang menyebut (1) Religius; Firman Allah Swt., (a) Masuklah ke dalam Islam secara keseleruhan; (b) Janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan berserah diri kepada Allah (Muslim); (2) Jujur; Firman Allah Swt.,  (a) Ucapkanlah perkataan yang benar; Hadis, (a) Tak ada agama bagi orang yang tidak menunaikan amanah. (b) Hadis, Janganlah berdusta.

Rujukan nilai pada interpretasi teks agama, misalnya:  (10) Semangat kebangsaan; Firmn Allah Swt. Wahai manusia!Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (al-Hujurat/49:13).

Ayat ini menegaskan, keberadaan bangsa dan suku bangsa adalah bagian dari sunatullah. Keterikatan seseorang pada suku bangsa dan bangsa tertentu harus diterima dengan senang hati; (11) Cinta tanah air.

Dikatakan oleh ulama, mencintai tanah air adalah bagian dari iman. Ungkapan ini adalah hasil pemikiran dan ijtihad ulama. Pandangan ini memberi semangat para pejuang melawan penguasa kolonial di bumi Nusantara. Nilai ini perlu diterapkan sesuai denngan kondisi kekinian.

Berdasarkan uraian di atas, pelaksanaan pembelajaran PAI di sekolah yang berlangsung dengan baik memberi kontribusi terhadap penguatan nilai-nilai karakter bangsa. Nilai-nilai itu diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang memedomani Empat Konsensus Dasar, yaitu Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam kaitan ini, guru PAI perlu memanfaatkan momen tertentu pada saat proses pembelajaran berlangsung untuk menyisipkan pesan-pesan yang terkait dengan penguatan nilai-nilai karakter bangsa.

Pada bagian akhir dari tulisan ini, penulis mengutip pernyataan dari Ismail A. Kalla, intelektual Muslim kontemporer di Afrika Selatan. Ia mengatakan, Change has to begin from within. Ia mengatakan, Almighty Allah will never change the condition of a people who are not willing to change themselves within their hearts and from the depth of their souls (Kalla, 2016:3-5).

Ia mengatakan pula, Success and discovery in life start from within (Kalla, 2016: x). (Maksud pernyataan tersebut dalam bahasa Indonesia kurang lebih seperti berikut. Perubahan harus mulai dari dalam diri. Allah Swt. tidak akan mengubah kondisi suatu kelompok manusia yang tidak berkehendak untuk melakukan perubahan di dalam  hati dan dari lubuk jiwa mereka yang dalam. Keberhasilan dalam kehidupan ini dimulai dari dalam diri).

Beberapa pernyataan di atas dapat ditemukan rujukannya pada ayat-ayat Al-Qur’an al-Hakim. Di antaranya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. (ar-Ra’d/13:11).

Ayat lainnya, Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (al-Anfal/8:53)  Ayat-ayat di atas mengingatkan bahwa karakter dapat berubah.

Pembentukan dan pemeliharaan karakter yang baik harus dilakukan. Ini menjadi tanggung jawab bersama semua warga dari suatu komunitas.

Akhirnya, Guru PAI harus memiliki kesadaran secara terus menerus bahwa ia melakukan transmisi nilai-nilai agama. Ia mengajarkan materi yang sifatnya luhur dan sakral. Ia harus menyiapkan pisik dan mental siswa sebelum memulai kegiatan belajar mengajar di kelas. Ia adalah model terbaik bagi muridnya dalam memahami dan menjalankankan ajaran agama. (*)

Pantun:

Banyak bunga di Kota Seoul

Ada tulip ada sakura

Banyak cara agar murid berhasil

Guru yang baik jadi idola

(Seoul, 29 April 2019)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *