Sat. Sep 26th, 2020

BLAM

KEREN

“OM JOKO” dalam Rajutan Harmoni di Tapal Batas Negara

3 min read

Penulis (kanan) berkunjung ke rumah Kepala Dusun Berjoko, Yoseph Bala. Foto: Dok. Pribadi

3,079 total views, 6 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Minggu, 6 September 2015, bertempat di Kampung Lourdes, Dusun Berjoko, Desa Sugai Limau, Kecamatan Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, sebanyak 10 tokoh pemuda bersepakat membentuk sebuah organisasi pemuda lintas etnik dan agama. Organisasi ini kemudian diberi nama Orang Muda Berjoko, atau disingkat OM JOKO.

Berjoko adalah sebuah dusun yang terletak di salah satu sisi tapal batas Negara Indonesia dan Malaysia, di Pulau Sebatik. Nama Berjoko diambil dari nama sebuah kongsi dagang di Tawau Malaysia, “Jakauw”, yang dulunya merupakan tempat bekerja sebagian penduduk setempat sewaktu menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di sana.

Penduduk dusun tersebut terdiri atas beberapa etnik dan agama. Namun, yang dominan adalah penduduk beretnis Flores/Timor, yang beragama Katolik dan etnis Bugis yang beragama Islam. Terdapat pula beberapa KK penduduk beragama Protestan. Di Dusun Berjoko terdapat 3 masjid dan satu mushalla, satu gereja Katolik (setingkat stasi), dan sebuah gereja Protestan.

Mengingat pluralitas penduduk dari segi etnik maupun agama, para tokoh pemuda dari lintas etnik dan agama tersebut kemudian berinisiatif untuk mendirikan organisasi yang menghimpun kaum muda di dusun tersebut. Pada berita acara pendirian disebutkan bahwa OM JOKO beranggotakan Orang Muda Katolik (OMK) dan Remaja Masjid (RM).

Kepala Dusun Berjoko, Yoseph Bala, mengemukakan, pendirian organisasi OM JOKO dilatari semangat kebersamaan untuk membangun kampung, serta untuk mencegah terjadinya konflik karena perbedaan etnik dan agama.

Sebagai tindaklanjut dari kesepakatan 6 September 2015, disepakatilah 28 Oktober 2015 yang bertepatan Hari Sumpah Pemuda sebagai hari deklarasi organisasi. Dan, disepakati pula sebagai Hari Jadi OM JOKO.

Pada momen tersebut, diadakanlah acara upacara bendera memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-87, dan seminar bertema “Generasi Muda Perbatasan Bebas Narkoba”. Semenjak itu, setiap 28 Oktober selalu diadakan upacara Hari Sumpah Pemuda, yang dirangkaikan peringatan ulang tahun organisasi.

“Terwujudnya generasi muda perbatasan yang handal dalam upaya membangun kesatuan bangsa dengan menjunjung tinggi toleransi, saling menghormati dan bekerjasama” merupakan visi OM JOKO yang diejawantahkan dalam beberapa poin misi organisasi.

Sebelum saya masuk ke Dusun Berjoko untuk menelit lebih lanjut tentang organisasi ini, nama OM JOKO beberapa kali saya dengar dari beberapa tokoh di wilayah Sebatik. OM JOKO disebut sebagai potret toleransi lintas agama dan etnik di wilayah tapal batas. Saling bekerjasama dan menjaga terimplementasi dalam kegiatan rutin yang mereka lakukan di setiap hari besar keagamaan.

Ketika umat Muslim melaksanakan Salat Idul Fitri maupun Idul Adha, anggota OM JOKO yang beragama Katolik menjaga saudara mereka yang sedang beribadah. Demikian pula sebaliknya,  ketika umat Kristiani merayakan Natal dan Paskah, giliran remaja masjid yang melakukan penjagaan di sekitar gereja demi memberi rasa aman dan ketenangan kepada saudara mereka yang sedang khusyuk beribadah.

Harmoni dalam perbedaan tidak berhenti sampai di situ saja. Setiap momen peringatan hari besar agama seperti Maulid, Halal bi Halal, dan hari besar Islam lainnya, Orang Muda Katolik ikut berpartisipasi bukan hanya sekadar peserta, tapi juga terlibat sebagai panitia penyelenggara.

Demikian pula sebaliknya. Pada saat acara peringatan Natal maupun Paskah, giliran remaja masjid yang ikut berpartisipasi. Komposisi pengurus OM JOKO menggambarkan representasi pluralitas agama dan suku anggotanya. Ketua adalah seorang Musim-Bugis, sedangkan wakil dan sekertaris Flores-Katolik.

Semangat kebangsaan begitu kental terasa dalam suasana kebersamaan anak-anak muda dari Dusun Berjoko ini. Pada 28 Oktober menjadi hari sakral mereka yang dipilih sebagai hari jadi organisasi. Hal tersebut guna memantik spirit perjuangan kaum muda untuk membangun persatuan bangsa, meski berbeda suku dan agama.

Kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada kegiatan keagamaan dan kerukunan  antarumat  beragama, serta kebangsaan menjadi fokus organisasi OM JOKO sebagai bentuk implementasi dari visi dan misi organisasi tersebut.

Nun jauh di tapal batas negeri, semangat kebangsaan bersemi bukan sekadar dalam teori atau sebatas seremoni. Lebih dari itu. Semangat kebangsaan dan harmoni terimplementasi dalam jalinan kerjasama dan toleransi antaranak-anak bangsa yang berbeda suku dan agama.

OM JOKO adalah sebuah potret indahnya kebersamaan dalam keragaanan. Perbedaan tidak hanya diterima sebagai sebuah kenyataan sosial. Lebih dari anak-anak muda dari sebuah dusun yang jauh dan terluar, menghayati perbedaan sebagai keindahan, untuk kemudian merayakannya dalam jalinan harmoni yang indah. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *