Fri. Sep 25th, 2020

BLAM

KEREN

“Haji Bawakaraeng”, Benarkah Ada? (Sepenggal Cerita dari Orang-orang Kaki Gunung Bawakaraeng)

7 min read

Aktivitas masyarakat melaksanakan ritual Shalat Idul Adha di Puncak Gunung Bawakaraeng. Sumber foto: lontar.id

2,876 total views, 2 views today

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Panggilan haji

Telah tiba lagi

Menunaikan ibadah

Panggilan Baitullah

Tanah Suci Makkah

Ya Makkatul Mukarramah

Lagu “Panggilan Haji, dari Grup Kasidah Nasida Ria, yang terkenal pada 1990-an, mengalun lembut dari pita kaset radio yang tampak kusut. Tak usah heran. Di tempat lain, kasidah bolehlah ditelan waktu, digilas masa, dan ditinggalkan zaman. Tapi, di kampungku, kasidahan, apalagi punya Nasida Ria, tetaplah terfavorit. Ia hanya bisa disaingi lagu-lagu dangdut Bang Haji Rhoma, Megy Z, dan Chaca Handika.

Jika musim haji tiba, lagu “Panggilan Haji” tadi akan terdengar berulang-ulang dari radio-radio penduduk. Tak jarang, malah terdengar dari pelantam masjid.

Persis ketika ujung syair  lagu “Panggilan Haji” berakhir dari radio yang ada di ruang tamu itu, lelaki setengah baya di depan saya mengisap dalam-dalam rokok kawungnya, yang terlihat semakin pendek. Lalu, rokok tersebut berakhir dengan tergilasnya pelan-pelan di dalam asbak yang ada di atas meja.

Sejurus kemudian, lelaki berkulit sedikit legam ini, termangu-mangu. Semacam mengingat sesuatu yang nun berada di tempat yang antah berantah. Kopiah hitamnya yang menguning pada masing-masing tepinya, dan semula menclok begitu saja di atas meja, diletakkan lagi di atas kepalanya. Lalu, berkatalah lelaki dengan penampilan bersahaja ini.

“Setiap mendengar lagu ‘Panggilan Haji’, hati saya selalu berdebar-debar. Boleh jadi karena rindu pula diri awak ini ingin berkunjung ke Kabah. Mungkin juga teringat pengalaman-pengalaman saya saat naik ke Puncak Bawakaraeng.”

“Naik haji ke Bawakaraeng?” Pertanyaan saya menyambar cepat. Saya paham betul lelaki bersahaja di depan saya ini. Ia sering bolak-balik ke Bawakaraeng. Kebanyakan ia naik pada musim-musim haji, justru ketika sebagian umat Islam sedang berduyun-duyun menuju Makkah.

Tidak ada yang tahu persis apa yang dilakukan lelaki bersahaja dan orang-orang yang bersamanya di Puncak Bawakaraeng.  Tetapi, ada sementara kalangan yang menyebut; ‘Si lelaki bersahaja dan berkulit sedikit legam ini naik haji di Bawakaraeng’.

“Dengarkanlah!  Saya akan menuturkan segala sisik melik perjalanan saya ke puncak gunung itu. Terserah nanti engkau menyimpulkannya seperti apa, Anak Muda!”

Kalimat yang sederhana saja, tetapi ibarat mantra. Saya langsung terdiam. Lalu, bak tentara siaga satu, saya memasang kuping baik-baik. Gestur saya jelas memerlihatkan kepadanya, saya siap mendengar cerita itu.

Subuh masih merayap-rayap. Matahari masih berada di balik selimut, dan gelap masih menyungkupi mayapada. Dalam suasana gelap dan udara dingin di kampung, lelaki berkulit sedikit legam itu, bersama beberapa sejawat dan sanak kadangnya, telah berjalan menyusuri jalan desa yang berbatu-batu.

Sesekali cahaya senter menerangi jalan yang akan mereka lalui. Rata-rata orang-orang tersebut berjaket dan menyampirkan sarung di pundaknya. Beberapa orang membawa tas di punggungnya, sebagian lainnya menenteng bungkusan dari sarung, entah berisi apa. Mereka berjalan cepat ke arah barat, menerobos gelap dan menyibak dinginnya subuh yang terasa menusuk-nusuk kulit.

Kurang lebih tiga jam mereka berjalan, sampailah di kaki Gunung Lompobattang. Sejenak mereka beristirahat. Sebagian bekal mulai disantap.

Selanjutnya berjalan dimulai lagi. Kini mereka sudah mulai mendaki, menyelusuri jalan setapak, sekali-dua kali menerobos semak belukar. Tak ada kompas petunjuk arah. Tidak ada alat mendaki. Pakaian hanya jaket sekenanya untuk melindungi dari sengatan dingin yang luar biasa.

Mereka memang bukan pendaki, tetapi warga biasa dari kampung itu. Namun, mendaki Gunung Lompobattang, selanjutnya menuju ke Bawakaraeng, adalah kebiasaan mereka pada bulan Zulhijah, khususnya menjelang Hari Raya Idul Adha.

Dalam perjalanan menuju ke puncak gunung, tanpa petunjuk arah, mereka bukannya tidak pernah tersesat, tetapi di situlah keajaiban sering datang tak terduga. Suatu waktu, mereka kehilangan arah. Barat dan timur jadi kabur. Utara-selatan tak ketahuan juntrungannya.

Pada saat itulah, tiba-tiba seorang lelaki tua entah dari mana datangnya datang menghampiri si lelaki bersahaja berkulit sedikit legam itu. Meraih tangannya, lalu menuntunnya menuju puncak.

“Siapa lelaki tua itu?”

“Ialah yang tidak bisa disebut namanya anak muda,” jawab lelaki berkulit sedikit legam itu.

Bukan Valdemort, tentunya. Tokoh jahat itu hanya ada dalam dongeng Harry Poter. Di kampungku dan sekitarnya, ia yang tidak bisa disebut namanya adalah Nabi Khaidir.

Begitu sampai di puncak, mereka harus menyeberang menuju ke Bawakaraeng, tempat orang sering melaksanakan salat Idul Adha. Bukan perkara mudah untuk menyeberang ke lokasi tersebut. Mereka harus melewati jalan sempit yang di atasnya tebing terjal, sementara di bawahnya jurang yang curam.

Angin berputar dari bawah jurang menyapu ke atas. Mereka melewati jalan setapak yang disebutnya jalan “siratal mustaqim” dengan berbagai cara. Beberapa berjalan biasa, yang lainnya dengan tertatih-tatih, banyak pula yang harus merangkak. Ini tergantung dari nyali. Tetapi bagi lelaki berkulit sedikit legam, itu tergantung keyakinan dan rasa ikhlas.

Pada saat tiba di satu dataran di salah satu puncak Bawakaraeng, mereka kemuian menghamparkan tikar. Ada pula yang memasang tenda seadanya. Mereka tidak mendirikan kemah yang mirip milik para pendaki profesional, tapi hanya tenda biasa yang dipasang mirip kemah.

Mereka ber-‘kemah’ mengelilingi satu tugu batu yang disebutnya ‘Bakkah’ (mungkin kata itu iambil dari kata Kabah). Kendati bernama Bakkah, lelaki berkulit sedikit legam bersama rombongannya tidak menyebut batu itu pengganti kabah di tanah suci.

“Kalau kami menyebutnya Bakkah, tak lain itu hanya pancaran kerinduan kami pada Kabah. Tak ada niat untuk mengganti Kabah di tanah suci,” begitu katanya.

Adapun tugu batu itu, seturut keterangan para pendaki resmi, adalah tanda untuk mengukur ketinggian puncak Gunung Bawakaraeng.

Konon dulunya dipasang oleh kompeni. Tidak ada yang tahu persis bagaimana kompeni meletakkan tugu batu itu di atas puncak gunung. Cerita yang masyhur, tugu itu dijatuhkan dari atas pesawat, dan dengan perhitungan tertentu bisa menancap tepat di puncak tersebut.

Malam yang dingin dilalui dengan rangkaian salat. Mereka salat dalam alam yang terbuka, di tengah dinginnya udara yang menusuk-nusuk, serta keheningan yang begitu syahdu. Mereka bisa menatap langit begitu dekat.

Dalam keheningan yang mencengkau itu, mereka seakan merasakan kecilnya seorang hamba di hadapan Tuhannya. Di saat yang sama, mereka merasakan kenikmatan spiritual yang merasuk sukma. Keharuan merambat dalam jiwa, merasuk ke mata hati yang paling dalam.

Esok hari, ketika matahari sudah muncul sepenggalah, biasanya mereka melaksanakan salat Idul Adha. Kadang ada khatibnya, tetapi sering pula mereka hanya salat sunat dua rakaat. Apakah ada tawaf mengelilingi ‘Bakkah’  atau sai, semacam di Makkah? Tak ada. Mereka memang tidak melaksanakan syariat haji, sebagaimana syariat haji di Makkah.

Lalu mengapa mereka disebut Haji Bawakaraeng?

“Saya juga tidak tahu,” jawab lelaki berkulit sedikit legam itu.

“Tetapi apakah ada orang yang sering naik ke Bawakaraeng yang menganggap ini sama dengan naik haji?” tanyaku.

“Soal pendapat dalam hati orang, manalah saya tahu. Tetapi, sejauh ini, saya bersama rombongan  tidak ada yang menyandingkan kebiasaan kami naik ke Bawakaraeng dengan naik haji ke Makkah. Tetapi, dari sisi batiniah, apakah yang kami laksanakan ini bisa dianggap haji oleh Allah atau tidak? Itu hak Allah untuk menilainya.

Sepintas, jawabannya terkesan diplomatis. Namun, begitu saya ingat kisah-kisah para sufi terkait dengan haji, prasangka saya bahwa jawabannya itu sekadar retorika, saya benamkan dalam-dalam.

Bukankah dalam kisah Rabiatul Adawiyah, ia tidak naik haji ke Makkah, tetapi Kabah yang datang mengunjunginya? Satu tanda bahwa, Al-Adawiyah justru mendapatkan pahala haji melebihi para orang-orang yang berkunjung ke Makkah.

Saya terkenang pula kisah Ali Al-Muwaffaq. Ia tak bisa naik haji karena ongkos hajinya harus diserahkan pada orang yang lebih membutuhkan. Tetapi justru ialah yang dimimpikan oleh seorang ulama besar yaitu, Abdullah Ibnu Mubarak, bahwa Ali Al-Muwaffaqlah satu-satunya yang diterima hajinya.

Ingatan saya buyar seketika, manakala  lelaki berkulit sedikit legam ini melanjutkan penjelasannya.

“Sebagian ada yang dari tanah suci, naik lagi ke Bawakaraeng. Tanggapan orang luar, mereka menyempurnakan hajinya. Padahal dari pengalaman saya bertemu orang-orang tersebut, mereka sedang melepas nazar. Mereka telah berjanji akan naik ke Bawakaraeng melakukan Salat Idul Adha, jika pulang dengan selamat dari tanah suci. Bukankah janji harus ditunaikan, Anak Muda?

Lelaki berkulit sedikit gelap itu menutup penjelasannya dengan nada tanya, meski jelas pertanyaannya itu tidak membutuhkan jawaban.

Kembali ke pertanyaan semula, mengapa mereka digelari Haji Bawakaraeng?

Gelar itu, ternyata, pertama-tama muncul dari orang-orang dari luar komunitas yang sering naik melakukan ritual ke Bawakaraeng.  Dalam perkembangannya, gelar itu sering disebut ulang oleh berbagai meia, bahkan peneliti.

Pada awalnya, gelar Haji Bawakaraeng disematkan orang luar sebagai bentuk ejekan terhadap perilaku komunitas Bawakaraeng ini. Gelar itu stereotip, dan bermakna peyoratif.  Istilah itu seakan memersilkan tuduhan perilaku yang sesat.

Komunitas Bawakaraeng sendiri lama kelamaan malah menangkap identitas yang peyoratif ini.  Haji Bawakaraeng dijadikan identitas dengan makna baru; “Haji Bawakaraeng berarti orang yang mencari tempat yang paling tepat untuk menunjukkan dirinya sebagai hamba, karena belum sanggup ke tanah suci”, “Haji Bawakaraeng juga berarti sebuah perjalanan untuk menunjukkan keikhlasan dan keyakinan.”

Yang lain memaknai Haji Bawakaraeng semacam uzlah (menyepi untuk dekat dengan Sang Maha Kuasa). Apapun pemaknaan komunitas ini atas Haji Bawakaraeng, yang pasti, mereka telah mengubahnya menjadi sesuatu yang bermakna positif.

Boleh dikata, jika merujuk pada Imanuel Castells (2003), apa yang dilakukan komunitas (haji) Bawakaraeng adalah, resistance of identity, atau resistensi identitas. Hal ini muncul setelah sebelumnya kelompok di luar mereka melakukan semacam legitimizing of identity, yakni penyematan satu identitas yang terkesan peyoratif.

Komunitas Bawakaraeng yang tadinya dikonstruksi identitasnya sebagai sebuah ejekan, melakukan semacam resistensi dengan membentuk makna baru pada identitas yang dilekatkan tadi. Pada akhirnya, terjadi semacam pembacaan ulang, dan pembentukan identitas baru, dari apa yang dibangun sebelumnya oleh kelompok dominan.

Kalau demikian, komunitas yang sering naik ke Bawkaraeng tidaklah sungguh-sungguh ingin mengganti haji ke Makkah dengan mencari jalan pintas ke Bawakaraeng.

Haji Bawakaraeng, tak lain hanyalah permainan bahasa. Ia bisa pula disebut mimikri. Apa itu? Mimicry is thus the sign of a double articulation; a complex strategy of reform, regulation and discipline, which appropeiates the Other as it visualizes power”.

Begitulah, pada akhirnya, saya sampai pada kesimpulan (sementara), tidak ada yang berhaji ke Bawakaraeng. Kalau soal mereka beribadah di atas Puncak Bawakaraeng itu diganjar setimpal dengan pahala haji, siapalah saya yang bisa menghalangi hak prerogatif Allah. (*)

(Catatan; nama dan kampung “lelaki berkulit sedikit legam,” sengaja tidak disebutkan dalam tulisan ini).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *