Fri. Sep 25th, 2020

BLAM

KEREN

Memotret Relasi Islam – Kristen Maluku Melalui “Tuang Hati Jantung”

4 min read

Gong Perdamaian menjadi simbol perdamaian dan kerukunan di Kota Ambon. Sumber foto: blogue-WordPress.com

1,156 total views, 2 views today

Oleh: Wardiah Hamid (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Menyusuri Pulau Seram atau Nusa Ina, yang artinya, Pulau Ibu, sembari menikmati panorama alam yang dipenuhi kekayaan tumbuhan beragam ke dalam lautan luas membentang mengisyrakatkan, bahwa Yang Maha Kuasa telah memberikan yang terbaik bagi negeri ini.

Negeri ini tidak terbantahkan, bahwa ia adalah “Mutiara dari Timur”. Kilauan air laut yang tertimpa sinar mentari akan melambungkan asa dan angan tentang manik-manik alam yang terapung-apung dibawa oleh desiran angin sepoi-sepoi, serta gelombang ombak yang tenang.

Dengan kekayaan alam yang indah, tak pelak membangkitkan dunia sastra berkembang di pulau ini, melalui tradisi lisan beriirama berpadu dengan kekayaan alamnya.

Guru Besar Universitas Pattimura, Ibu Nun, dalam perspektif keilmuannya di Bidang Pertanian, mengatakan, manusia Maluku telah mengadaptasikan alam untuk membentuk karakternya. Alam memberikan imajinasi sastra yang menggambarkan bagaimana mereka sadar, bahwa mereka adalah anak-anak negeri, yang berasal dari rahim ibu yang sama.

Maluku disebut Nusa, yang berarti Pulau Ibu. Berarti, seluruh anak cucu orang Maluku berasal dari satu pulau, yaitu Pulau Seram. Walaupun terdapat perbedaan sosial kultural dan agama di antara mereka, namun mereka harus menyadari, kalau mereka terlahir dari satu pulau yang sama; Pulau Seram, Nusa Ina.

Dari sekian tradisi lisan yang dimiliki Orang Maluku, ada satu tradisi unik, yang bersentuhan dengan relasi umat Islam dan Kristen dalam keseharian. Tradisi tersebut mewujud dalam bentuk sapaan mesra; “Hey Tuang Hati Jantung”, yang di-palanekan (disuarakan).

Orang Maluku menyebut Tuan dengan istilah Tuang. Tuang dan Hati Jantung dianalogikan organ tubuh manusia yang saling berdekatan. Seperti inilah yang diisyaratkan dalam sapaan ini. Ada rasa yang ditanamkan, bahwa menyapa seseorang dengan cara kasih sayang diungkapkan dengan “Tuang Hati Jantung”. Dipalanekan (dipantunkan) ketika menyapa “saudaranya” yang Kristen dengan istilah Hey…Tuang Hati Jantung.

Meskipun istilah tuang (tuan) ada unsur kolonialnya, akibat pengaruh Belanda, tetapi mereka menganggap panggilan itu cukup bagus.

Penyapaan seperti itu, sering terlontar pada acara makan sirih di antara orang Islam dan Kristen, yang menyatukan mereka dengan seremonial makan sirih dan pinang. Integrasi dalam bentuk seremonial ini tidak berdasarkan identitas agama, melainkan berasal dari satu leluhur.

Acara leluhur ini dilakukan ketika membangun sebuah rumah adat baileo. Dahulu kala, segala pekerjaan dan keputusan dilakukan bersama-sama; membangun rumah, pernikahan, serta membuat perahu, dan ketika perahu akan “diluncurkan” ke laut.

“Yang menggambarkan rasa tolong menolong dapat kita lihat pada acara perkawinan. Di acara ini, semua kerabat hadir, dan makan sirih pinang. Kami juga membicarakan apa yang akan dilakukan, dan diputuskan bersama-sama. Tradisi lisan berupa penyapaan Hey Tuang Hati Jantung akan sering diucapkan  di sini,” kata Nur Tanaiwella, Budayawan Maluku.

Tradisi Lisan Jan Vansina

Bagi masyarakat lokal, tradisi lisan yang diwariskan oleh leluhurnya sangat penting untuk menegaskan eksistensi, serta kebudayaan mereka terhadap kebudayaan lain.

Kata Jan Vansina (2014):

“Tradisi lisan adalah dokumen dari masa kini, karena ia diceritakan pada masa kini. Namun, ia juga mengandung sebuah pesan dari masa lalu, karena itu, pada saat yang sama, ia juga merupakan sebuah ungkapan dari masa lalu. Ia adalah perwakilan dari masa lalu di masa kini… Tradisi mesti harus selalu dimengerti sebagai sesuatu yang mencerminkan baik masa lalu maupun masa kini dalam nafas yang sama.”

Vansina memosisikan tradisi lisan sebagai sumber sejarah yang mampu menghadirkan fakta-fakta yang kredibel, dan sebagai sejarah itu sendiri (Purwanto, 2014).

Di Maluku, salah satu tradisi lisan adalah pepatah-pepatah, yang dalam istilah mereka disebut, kapatakapata, dari Pulau Lease. Sementara Pulau Maluku sekitarnya menyebutnya lane. Dalam dialek Hatawano dari Pulau Saparua disebut kapata, dan merupakan suatu kearifan lokal yang disampaikan secara lisan dari orang-orang tua dulu.

Salah satu contoh kapata yang sering dituturkan adalah mengenai semangat generasi muda untuk tetap memegang nilai-nilai moral agama, dan nilai kemanusiaan, yang dititahkan oleh sang raja, yang berbunyi:

….ayo tipa  ….sorokoyoame mese mese….

Hari ini kerajaan Iha sudah hancur.

Kita bisa rela meninggalkan negeri kita yang kita cintai.

Tapi jangan sampai meninggalkan keyakinan atau tekad dalam perjuangan karena hanya dengan iman dan perjuangan kita bisa mencapai keselamatan.

Selanjutnya, salah satu contoh bait kapata berisi kerjasama dan menyatukan kerajaan-kerajaan kecil di Pulau Lease, Maluku, seperti Kerajaan Iha, Kerajaan Alake di Haruku Pelau, Kerajaan Hitu di Pulau Ambon, dan Kerajaan Huamual, seperti dituturkan Husni Putuhena, adalah:

Nia to manisa lotu hatu haha

kita meminta sesuatu dengan dari niat yang ikhlas

Na Sihala takbir lau nusahitu

Setelah niat didukung keyakinan  kebesaran Allah

Salahwato emanahu loto iha ula balu

Kesaksian kita dengan salawat kepada Rasulullah

Piti korabana nai mata lia luhu

Dengan ikhlas dan izin Allah akan diterima

Artinya:

Jangan berjalan sendiri, harus bekerjasama. Bahwa, segalanya boleh hancur dari kita, tapi ketetapan iman harus terpatri.

Ayyu tipa lima helia  lao

Kakiku meninggalkan rumah

Sura Koroane nao olotu luma

Al-Quran tetap ada dalam rumah (hati)

Mese-mese kulahmu sahadat

Hanya dengan syahadat

Nyawa iraha sorga

Hanya akidah syahadat bisa masuk surga

“Filosofinya adalah, dalam melakukan sesuatu harus diawali kerjasama, dan meningkatkan keimanan dengan salawat mendorong orang untuk melakukan pengorbanan, hidup tolong menolong, walaupun mereka pernah dihancurkan oleh penjajah.” (Wawancara, Husni Putuhena). (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *