Sat. Sep 26th, 2020

BLAM

KEREN

Redam Intoleransi, Khatib Diusulkan Menulis Khutbah Jumat

3 min read

Peneliti Lektur BLAM mempresentasikan penelitian terkait Konten Khutbah Jumat di Perkotaan. Foto: Risal

657 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM – Kehadiran khatib yang kerap menyampaikan dakwah berisi ujaran kebencian terhadap kelompok tertentu, berpaham radikal, dan intoleran, membuat masyarakat resah. Akibatnya, kelompok masyarakat menjadi “terbelah”, dan ujung-ujungnya, bisa memicu konflik antarkelompok agama.

Atas fenomena seperti itulah, Peneliti Bidang Lektur dan Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi Keagamaan Balai Litbang Agama Makassar (BALM), merasa sangat penting untuk mengangkat tema penelitian mengenai “Konten Khutbah Jumat di Perkotaan”.

“Kita sering melihat khatib bebas menyampaikan pendapat pribadi tentang suatu masalah tanpa merujuk pendapat para ulama. Di sinilah peluang terjadinya penyampaian pesan yang tidak sesuai rumusan dakwah,” kata Muh. Subair, Koordinator Penelitian, saat mempresentasikan temuan lapangannya pada Pra-Seminar, di Hotel Novotel Makassar, Jumat pagi, 9 Agustus 2019.

Politik identitas yang menggunakan “jasa” para tokoh agama, dalam hal ini khatib, sebagai juru kampanye pada pemilihan kepala daerah, diakui Subair, rawan menimbulkan ketegangan sosial, dan bahkan, saling hujat antarsesama umat muslim.

“Pada banyak kasus, seringkali ada khatib mengeluarkan pernyataan emosional berisi ujaran kebencian, dan menyinggung kelompok lain, saat memberikan khutbah Jumat. Tentu saja ini sangat rawan, karena bisa menimbulkan ketersinggungan kelompok lain,” jelas Subair.

Karena itu, lanjut Subair, penyampaian khutbah Jumat dengan membaca teks tertulis dianggap sangat penting. Ini bisa meminimalisir khatib “kelepasan” bicara di luar konten khutbah Jumat.  Sayangnya, di era kekinian, sudah jarang lagi ditemui khatib membawakan khutbah menggunakan teks tertulis.

“Membaca teks khutbah Jumat adalah bentuk kehati-hatian untuk menghindari kesalahan-kesalahan, atau kekurangan, dalam memenuhi syarat dan rukun khutbah,” kata Subair.

Ada lima peneliti Lektur melakukan penelitian ini. Mereka adalah Subair, yang mendapatkan lokasi Kota Parepare, Sulawesi Selatan, Syarifuddin (Kota Jayapura), La Mansi (Kota Ambon), Muh. Sadli Mustafa (Kota Samarinda), dan Muh. Nur (Kota Kendari).

Syarifuddin menyatakan, Kementerian Agama Kota Jayapura punya andil besar untuk meredam radikalisme di kalangan khatib. Salah satunya, kemenag membuat nama-nama khatib yang akan membawakan khutbah Jumat di semua masjid di Kota Jayapura.

“Pihak kemenag pun sudah tahu latarbelakang organisasi keagamaan serta latarbelakang pendidikan para khatib. Sehingga, masyarakat tak perlu lagi khawatir ada khatib yang akan membawakan ceramah berisi intoleran dan radikalisme,” papar Syarifuddin.

Tentu saja, apa yang dilakukan Kemenag Jayapura ini, bukanlah tanpa alasan. Suatu waktu, kata Syarifuddin, umat muslim di Jayapura pernah dikejutkan dengan adanya penceramah yang nyaris dipukul oleh jamaah masjid seusai Shalat Jumat.

“Rupanya, ia adalah Ustad HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Ia membawakan khutbah Jumat yang menjelek-jelekkan pemerintahan Indonesia, dan provokatif,” kata Syarifuddin. HTI sendiri sudah dinyatakan sebagai organisasi terlarang oleh pemerintah Indonesia.

Salah seorang peserta, K.H. Hisbullah, Pengurus Pondok Pesantren Iman Ashim, menyatakan,  kementerian agama perlu mengambil kebijakan, atau tidakan, terkait teks-teks khutbah Jumat, karena masih banyak ditemui ada muballigh yang pintar berbicara, tetapi minim pengetahuan keagamaan.

“Ada dai yang masih sering salah mengucapkan ayat-ayat Al-Quran dan hadis. Apalagi, kalau  background-nya memang bukan pendidikan agama atau  alumni pesantren,” jelasnya.

Menurut narasumber, Dr. H. Nurman Said, untuk mengantisipasi adanya khatib menyampaikan ajakan intoleran dan memecah belah umat, maka di sinilah peran penting lembaga dakwah.

Di samping itu, perlu juga adanya dokumentasi materi dakwah, seperti tema dan pokok-pokok bahasan yang akan disampaikan, supaya tidak terjadi pengulangan-pengulangan yang membuat jamaah merasa bosan, dan mengetahui sejak dini apa materi yang bakal disampaikan oleh sang khatib. (sal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *