Sat. Sep 26th, 2020

BLAM

KEREN

Peserta Kurang Setuju Penggunaan Kalimat Ego Sektoral

2 min read

Peneliti Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan BLAM didampingi narasumber, Dr. M. Yaumi, di Hotel Novotel Makassar, Jumat, 9 Agustus 2019. Foto: Fauzan

587 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM – Kalimat ego sektoral yang dikemukakan peneliti, ternyata memantik diskusi hangat. Peserta dari Badan Kepegawaian Daerah dan Pendidikan Nasional (diknas) tampaknya kurang menyetujui kalimat yang menyebutkan, telah terjadi ego sektoral antara kementerian agama dengan pemerintah daerah berkenaan pengangkatan guru agama.

“Barangkali kalimat yang tepat adalah kurang koordinasi oleh masing-masing instansi, bukan ego sektoral. Sebab, memang tidak ada seperti itu (ego sektoral),” kata salah seorang peserta, saat mengikuti Pra-Seminar Penelitian Bidang Pendidikan dan Keagamaan Balai Litbang Agama Makassar, di Hotel Novotel Makassar, Jumat pagi, 9 Agustus 2019.

Peserta pada Pra-Seminar ini adalah Dinas Pendidikan Kota Makassar, Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, Perwakilan Badan Kepegawaian Daerah Kota Makassar, Perwakilan Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Kepala KTU Kantor Kementerian Agama Kota Makassar, dan Perwakilan Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulsel.

Penelitian bertema “Implementasi Pengangkatan Guru Agama di Sekolah Umum” ini, dilakukan oleh Dr. Hj. Mujizatullah di Kota Samarinda, Amiruddin (Kota Manado), Dr. Muhammad Rais (Kota Gorontalo), dan Baso Marannu (Kota Kendari).

Koordinator penelitian, Mujizatullah, mengemukakan, implemenasi kebijakan pada penelitian ini merujuk Peraturan Pemerintah Nomor 11 tahun 2017, Permenpan Nomor 36 tahun 2018, dan PMA Nomor 16 tahun 2010.

Narasumber penelitian, Dr. Muhammad Yaumi, MA, menyatakan, hasil temuan peneliti diakui sudah bagus. Hanya saja, Yaumi tetap memberikan beberapa catatan. Misalkan, peneliti semestinya menampilkan dan menganalisis tiga kajian teori, yaitu implementasi kebijakan, sistem pengangkatan (rekruitmen), dan guru pendidikan agama, pada hasil temuan lapangannya.

Selain itu, Yaumi juga mengusulkan kategorisasi dan klasifikasi data mesti berdasarkan karakteristik data, bukan fokus penelitian. “Pola dan kecenderungan data harus  dimaknai untuk membangun temuan. Display data menggunakan gambar, matriks, siklus, hierarki, tahapan, atau langkah-langkah,” katanya.

Pada bagian lain, Yaumi juga menyoroti kesimpulan yang disajikan peneliti. Menurutnya, jumlah yang disimpulkan harusnya sesuai dengan jumlah rumusan masalah, dan juga berbasis pada temuan dan pembahasan.

“Kesimpulan harus lebih spesifik dari pembahasan. Setelah menyimpulkan hasil penelitian, peneliti diharuskan memberikan rekomendasi yang didasarkan pada hasil temuan dan analisisnya,” imbuhnya. (zan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *