Sat. Apr 4th, 2020

BLAM

KEREN

Peneliti Lektur Ungkap Moderasi Beragama dalam Bentuk Tradisi Lisan

2 min read

Koordinator Penelitian, Abu Muslim, memaparkan hasil penelitiannya tentang moderasi beragama dalam tradisi lisan, di Hotel Novotel, Makassar, Kamis, 8 Agustus 2019. Foto: Risal

428 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM – Moderasi agama kini menjadi perbincangan serius hampir semua kalangan untuk mengantisipasi radikalisme dan intoleransi, yang belakangan ini marak terjadi di Indonesia. Moderasi agama menjadi “jalan tengah” untuk meredam gejala yang bisa mencabik-cabik kerukunan antarumat beragama itu.

Lalu, bagaimana model moderasi agama dalam tradisi lisan? Inilah yang tengah diteliti dan dibahas oleh Peneliti Bidang Lektur dan Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi Balai Litbang Agama Makassar (BLAM).

Saat menyampaikan temuan lapangan pada Pra-Seminar berjudul “Moderasi Beragama dalam Tradisi Lisan di Makassar di Kawasan Timur Indonesia”, di Hotel Novotel Makassar, Kamis, 8 Agustus 2019, peneliti mengemukakan, tradisi lisan berisikan moderasi beragama banyak ditemukan di sejumlah daerah. Bahkan, masih dipraktikkan oleh generasi sekarang.

Abu, Muslim, yang meneliti di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, misalnya. Koordinator Penelitian ini, menyebutkan, konsep tradisi lisan Iko-Iko Orang Bajo sesungguhnya merupakan moderasi beragama, yang telah imanen di dalam hati masyarakatnya.

“Wujudnya seperti Sabbar di karimanang ele papu Allah Taala baka Nabi Muhammad (kesabaran/pengendalian diri akan disayang Tuhan dan Nabi Muhammad), Situluh, Sipaginne, Sipalele (menyebarluaskan rasa simpatik), dan Sikarimanang (menyebarkan rasa kasih sayang),” kata Abu Muslim.

Selain Wakatobi, penelitian ini juga menyasar beberapa daerah, yaitu Kabupaten Bantaeng (Sulawesi Selatan) Kota Ambon (Maluku), Tenggarong (Kalimantan Timur).

Peneliti lain juga mengemukakan tradisi lisan yang berkaitan dengan moderasi beragama. Wardiah Hamid, yang meneliti di Ambon, menemukan, tradisi lisan Pasawari.

“Tradisi lisan Pasawari lahir dari leluhur-leluhur mereka yang mencoba berdialog dan menuturkan lewat tradisi lisan melalui tete (leluhur) nenek moyang dalam bahasa yang mereka pahami,” kata Wardiah.

Di tempat lain, Faisal Bachrong, menemukan tradisi lisan Trasul atau Tarsulan di Kutai Tarumanegara, sedangkan di Bantaeng, ditemukan tradisi lisan Gantarangkeke.

Konsep tradisi lisan lokal sendiri, kata Abu Muslim, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kearifan lokal masyarakat, yang di dalamnya memuat secara komprehensif  tentang memori kolektif masyarakat atas kebudayaan dan kebijaksanaan hidup yang diceritakan turun temurun.

“Hal inilah yang diharapkan dapat menjadi alat moderasi, khususnya dalam pengembangan dan pengalaman ajaran agama yang lebih toleran,” lanjut Abu Muslim.

Narasumber penelitian, Prof. Dr. H. Darmawan, mengharapkan, pembacaan lebih rinci terhadap tradisi lisan yang telah diinventarisasi, terutama yang memuat konten moderasi beragama.

“Hal inilah yang menjadi intisari penelitian ini, sebagai upaya untuk mencermati dan mengilhami karakteristik moderasi beragama dari berbagai kebudayaan. Ini juga demi mendukung kebijakan kementerian agama dalam rangka merawat ke-Indonesia-an dalam bingkai moderasi beragama,” kata Darmawan. (sal)  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *