Thu. Nov 26th, 2020

BLAM

KEREN

Meneliti Guru Non ASN Madrasah, Narsum Sarankan Pisahkan Temuan dan Opini

2 min read

Koordinaor Penelitian, Dr. Badruzaman (kiri), memaparkan hasil temuan lapangan, di Hotel Novotel Makassar, Kamis, 8 Agustus 2019. Foto: Fauzan

533 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM – Penyajian hasil temuan penelitian lapangan Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), ternyata belum sesuai dengan apa yang diharapkan Prof. H. Sofyan Salam, Ph.D. Narasumber (narsum) penelitian ini menyarankan, peneliti memisahkan antara temuan lapangan dengan opini peneliti.

“Seharusnya dipisahkan antara data-data temuan peneliti dan opini peneliti. Interpretasi peneliti harus dibuat tersendiri, sehingga para pemerhati pendidikan atau masyarakat dapat mengerti apa yang sudah didapatkan oleh para peneliti,” kata Sofyan Salam.

Sofyan Salam menyampaikan hal tersebut, setelah mendengarkan pemaparan lima peneliti, yang meneliti “Pengelolaan dan Pemberdayaan Guru Non ASN di Madrasah di Kawasan Timur Indonesia”, saat Pra-Seminar BLAM, di Hotel Novotel Makassar, Kamis, 8 Agustus 2019.

Kelima peneliti tersebut adalah Koordinator Penelitian, Dr. Badruzaman, yang meneliti di Kota Samarinda, dan empat anggotanya, masing-masing Asnandar Abubakar (Kota Manado), Abdul Rahman Arsyad (Kota Gorontalo), Israpil (Kota Kendari), dan Rosdiana (Kabupaten Bone).

“Penelitian ini berpijak pada satu tema, yang pengumpulan datanya dilakukan di lima lokasi berbeda. Pada laporan akhir nanti, masing-masing peneliti sebaiknya mengungkapkan semua hasil temuannya, dan kemudian dianalisis secara umum. Data temuan penelitian dan opini peneliti juga sebaiknya tidak dicampuradukkan,” imbuh Sofyan Salam.

Prof. Dr. H. Hamdar Arraiyyah, MA, Konsultan Internal Penelitian, memberikan masukan kepada peneliti untuk menampilkan data masing-masing madrasah, supaya analisisnya bisa lebih tajam.

“Seperti berapa persentase guru non ASN pada tiap-tiap madrasah, dan berapa jam penugasan yang diberikan pada guru non ASN,” kata Peneliti Ahli Utama BLAM, ini.

Prof. Hamdar menambahkan, performance dan kinerja guru non ASN harus lebih ditonjolkan, apakah ada keunggulan guru non ASN dibanding guru ASN, atau ada kelebihan-kelebihan lain yang menjadi pertimbangan, sehingga diberikan intensif yang sesuai.

Sebelumnya, Badruzzaman memberikan pandangan umum penelitian yang mereka lakukan, mulai dari latarbelakang, rumusan masalah, tujuan, kegunaan penelitian, teori yang digunakan, serta metode penelitian.

Setelah itu, masing-masing peneliti menyampaikan hasil temuan dan analisis penelitian. Ada dua variabel yang diungkap peneliti, yaitu pengelolaan guru non ASN dan pemberdayaan guru non ASN.

Substansi pengelolaan guru non ASN mengurai tentang perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan/evaluasi. Sedangkan substansi pemberdayaan guru non ASN mengungkap penciptaan iklim berkembang, kompetensi guru non ASN, serta perlindungan ekonomi dan sosial.

Jalannya diskusi berjalan alot. Beberapa peserta memberikan masukan. Erniwati dari MAN 2 Makassar, misalnya, menanyakan tujuan penelitian yang belum terjawab, seperti apakah ada dampak pengelolaan dan pemberdayaan guru non PNS terhadap peningkatan kualitas pendidikan pada madrasah.

Peserta lain juga memberikan tanggapan terkait keberagaman penggajian atau intensif yang diterima guru non ASN pada masing-masing daerah.

Peserta luar yang hadir, antara lain, Kepala Mandrasah Aliyah Negeri Kota Makassar, Kepala Madrasah Tsanawiyah Kota Makassar, Kepala Madrasah Ibtidaiyah Kota Makassar, Perwakilan Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kementerian Agama Sulsel, Perwakilan Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Makassar, dan Kepala MAN Insan Cendikia Gowa. (zan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *