Sat. Apr 4th, 2020

BLAM

KEREN

Masyarakat Perbatasan Indonesia Malaysia dan PNG Bangga Jadi WNI

3 min read

Peneliti BLAM, Irfan Syuhudi (kiri) dan Sabara (kanan) menyajikan hasil penelitiannya. Foto: Zulfikar

472 total views, 4 views today

MAKASSAR, BLAM – Jangan pernah meragukan nasionalisme masyarakat perbatasan. Meski hidup serba terbatas, mereka selalu bangga menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) ketimbang warga negara “tetangga”.

Demikian dikemukakan Peneliti Bidang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), Dr. Sabara Nuruddin dan Muh. Irfan Syuhudi, M.Si.

Keduanya menyajikan temuan lapangan mereka pada Pra-Seminar Hasil Penelitian “Dinamika Kebangsaan dan Keagamaan pada Masyarakat Perbatasan di Kawasan Timur Indonesia”, di Hotel Novotel Makassar, Kamis, 8 Agustus 2019.

Sabara, yang bertindak sebagai Koordinator Penelitian, meneliti di Kecamatan Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, yang berbatasan Malaysia. Ia meneliti bersama Muh. Ali Saputra. Sementara Muh. Irfan Syuhudi, ia meneliti bersama Paisal, M.H, di Distrik Muara Tami, Jayapura, berbatasan Negara Papua Nugini.

Sabara menyatakan, nasionalisme masyarakat di Sebatik Tengah, yang didominasi orang Bugis, cukup tinggi. Hal ini terlihat saat perhelatan pertandingan olahraga. Bila Tim Indonesia bertemu Tim Malaysia di ajang olahraga, semua masyarakat Indonesia di perbatasan memberikan dukungan penuh buat Indonesia.

“Euforia bentuk dukungan masyarakat perbatasan sangat berbeda dengan daerah lain ketika mendukung Tim Indonesia. Orang Indonesia di perbatasan selalu setia mendukung Tim Indonesia, tetapi tanpa meluapkan kebencian kepada Malaysia,” tutur Sabara.

Selain itu, kata Sabara, masyarakat Indonesia setiap tahun selalu melaksanakan peringatan 17 Agustus. Peringatan hari kemerdekaan itu, seringkali pula melibatkan warga dari Kampung Sungai Pukul dan Begusung, yang masuk wilayah Sebatik Malaysia.

Hanya saja, meski nasionalisme masyarakat Sebatik Tengah terhadap Indonesia cukup tinggi, namun Sabara juga menemukan problematika nasionalisme di sana.

“Problematika nasionalisme pertama adalah, masih ada orang Indonesia yang memiliki kewarganegaraan ganda, atau mengantongi KTP Indonesia dan Malaysia. Kedua, ketergantungan pasokan kebutuhan pokok dari Malaysia, ketiga, penggunaan uang ringgit Malaysia yang masif, dan keempat, kurangnya perhatian pemerintah Indonesia menyangkut infrastruktur,” jelas Sabara.

Sedangkan dinamika keagamaan masyarakat Sebatik Tengah adalah masih mempertahankan nuansa Islam tradisional yang dibawa dari daerah mereka.

“Kultur keagamaan masyarakat Sebatik umumnya menganut Islam tradisional, yang mengakulturasikan Islam dengan tradisi lokal, khususnya tradisi Bugis sebagai etnis dominan,” kata Sabara.

Dinamika kebangsaan masyarakat Distrik Muara Tami, perbatasan Indonesia – PNG, juga tampak bagus. Menurut Muh. Irfan Syuhudi, masyarakat di sana berjiwa nasionalis, dan bangga menjadi bagian dari Negara Indonesia. Penduduk yang bermukim di Muara Tami adalah, migran non Papua dan orang asli Papua (OAP).

Nasionalisme yang ditunjukkan masyarakat Muara Tami adalah memperingati upacara 17 Agustus yang dipusatkan di Kantor Distrik Muara Tami. Upacara bendera ini tidak hanya mengundang masyarakat setempat, anak-anak sekolah, dan TNI AD, tetapi juga orang-orang PNG, yang kebetulan berada di Muara Tami.

Pos Lintas Batas Negara Indonesia, yang bersebelahan dengan PNG, selalu saja ramai dikunjungi orang PNG. Selain belanja kebutuhan pokok, mereka juga membeli bahan material bangunan untuk dipakai sendiri atau dijual di negaranya.

“Interaksi dan relasi masyarakat perbatasan dengan orang PNG selama ini sudah terjalin baik. Nah, salah satu nasionalisme masyarakat perbatasan adalah dengan menjaga dan merawat hubungan baik itu,” jelas Muh. Irfan Syuhudi.

Problematika kebangsaan terdapat juga di Muara Tami. Menurut Irfan Syuhudi, hal ini dapat dilihat pada masih adanya ingatan kolektif OAP tentang perjuangan Organisasi Papua Merdeka serta kondisi perekonomian OAP yang kebanyakan masih hidup pra-sejahtera.

Meski begitu, yang menarik, masyarakat Muara Tami ternyata cukup terbuka dengan kelompok keagamaan yang masuk ke wilayahnya. “Dengan catatan, kelompok keagamaan itu tidak mengganggu ketentraman dan kerukunan umat beragama,” kata Muh. Irfan Syuhudi.

Konsultan Pembimbing Penelitian, H. Saprillah, M.Si, menyarankan peneliti mencari referensi lain tentang nasionalisme.

“Teori nasionalisme Ernest Renan, misalnya, bisa juga dijadikan salah satu rujukan. Filosofi Perancis ini melihat, nasionalisme adalah keinginan besar untuk mewujudkan persatuan dalam bernegara. Tanpa adanya sikap nasionalisme, persatuan negara sulit terwujud,” jelas Kepala BLAM, ini.

Saat dibuka sesi diskusi, peserta cukup aktif memberikan masukan, sehingga jalannya diskusi berlangsung interaktif. Setelah pra seminar ini, akan dilanjutkan lagi dengan seminar akhir, yang rencananya dilaksanakan awal September 2019. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *