Sat. Sep 26th, 2020

BLAM

KEREN

Sebentar Lagi Terjemahan Al-Quran Bahasa Mandar Diterbitkan

2 min read

Suasana peserta penerjemah Al-Quran ke dalam bahasa Mandar di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Foto: Zulfikar

1,557 total views, 2 views today

MAJENE, BLAM — Proses penerjemahan Al-Quran ke dalam bahasa Mandar yang digodok Balai Litbang Agama Makassar (BLAM) bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat Mandar, telah memasuki  tahap penyelesaian akhir.

Selama empat hari, 4 – 6 Agustus 2019, di Hotel Villa Bogor, Majene, Sulawesi Barat, Tim BLAM dan beberapa tokoh  Mandar, tampak antusias dan serius mengerjakan terjemahan Al-Quran ini.

Kepala Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, Dr. H. Muh. Zain, yang hadir dan sekaligus membuka kegiatan, menyatakan, Al-Quran merupakan salah satu cara Tuhan berkomunikasi dengan manusia,  dan juga memberikan peringatan melalui Al-Qur’an.

Menurut Zain, menafsirkan Al-Quran itu, apalagi ke dalam bahasa daerah tertentu, bukanlah perkara mudah. Tidak semua orang bisa melakukannya. Tentunya, orang yang bisa menafsirkan Al-Quran ke dalam bahasa daerah, selain mereka paham bahasa daerah yang dijadikan terjemahan Al-Quran, mereka juga memahami bahasa Arab.

“Menafsirkan bahasa Tuhan tidak gampang. Lebih tidak gampang lagi kalau diterjemahkan ke dalam bahasa lokal (seperti Mandar). Sebab, Al-Qur’an merupakan kitab yang memiliki gaya bahasa sastra tinggi,” kata pria asal Mandar, ini.

Karena itu, Zain berharap upaya yang dilakukan BLAM untuk menerjemahkan AL-Quran ke dalam bahasa Mandar segera terwujud. “Semoga karya ini bisa mengikuti beberapa terjemahan Al-Qur’an bahasa daerah yang sudah ada di kementerian Agama. Alhamdulillah, sampai saat ini, kita sudah punya sekitar 20-an lebih terjemahan Al-Qur’an bahasa daerah,” kata Zain.

Hal senada dikatakan H. Saprillah, M.Si. Kepala BLAM ini mengemukakan, proses menerjemahkan Al-Qur’an bukanlah proses yang mudah. Terlebih lagi, ketika konteksnya tidak tepat. Bila sudah begitu, pesan yang disampaikan di Al-Quran menjadi tidak nyambung.

“Proses perpindahan bahasa berarti juga perpindahan kebudayaan. Memindahkan kata, khususnya kata yang memiliki makna mirip, maka mungkin bisa diwakili oleh satu kata, tapi belum tentu makna yang dikehendaki oleh Allah bisa sesuai,” papar Saprillah.

Pada kesempatan ini, Saprillah memberikan apresiasi kepada Peneliti Ahli Utama BLAM, Dr. Idham, M.Pd, yang menjadi salah satu ruhnya kegiatan ini.

“Apa yang dilakukan Pak Doktor Idham, dan juga semua pihak yang terlibat di sini, akan masuk dalam proses pemeliharaan Al-Qur’an, sebagaimana pesan Al-Qur’an, Allah akan menjaga dan memelihara Al-Qur’an,” imbuh Saprillah.

Tentunya, kata Saprillah lagi, ketika terjemahan Al-Quran ke dalam bahasa Mandar sudah diterbitkan, karya ini bukan lagi menjadi milik personal atau kelompok tertentu.

“Tapi, menjadi karya kementerian agama. Dan, ketika misalnya terdapat kesalahan, maka bukan lagi menjadi kesalahan Pak Idham, melainkan menjadi kesalahan bersama Karena itu, prosesnya harus lebih hati-hati dan tepat,” kata Saprillah.

Peneliti Ahli Utama BLAM, Prof. Dr. H. Arifuddin Ismail, sekaligus narasumber, juga mengingatkan kepada tim untuk lebih berhati-hati dan teliti ketika menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa daerah.

“Ketika bahasa Al-Qur’an kita coba terjemahkan ke dalam bahasa Mandar, kita pasti mengalami  beberapa hal. Dalam arti keseharian kita karena di luar dari pendukung budaya itu, sehingga ada kesulitan untuk mencoba menuangkan pikiran-pikiran dalam bahasa Mandar,” jelas Arifuddin. (zul)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *