Thu. Nov 26th, 2020

BLAM

KEREN

Kurban: Cinta, Persembahan, dan Takwa

4 min read

Panitia Idul Adha BLAM saat memotong hewan kurban, tahun lalu Foto: Paisal

1,499 total views, 2 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar

KURBAN dapat dikatakan sebagai syariat paling “purba” yang Allah tetapkan kepada manusia. Alkisah, ketika dua putra Nabi Adam as (Habil dan Qabil) berseteru memperebutkan putri untuk dinikahi, Allah memerintahkan mereka untuk mempersembahkan kurban. Kurban siapa yang diterima oleh Allah itulah yang direstui untuk menikahi sang bidadari.

Diceritakan dalam Surat al-Maidah ayat 27, Allah menerima kurban dari Habil dan hal ini memantik kemarahan Qabil, dan ia mengancam untuk membunuh saudaranya tersebut, dengan santai Habil menjawab: “Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa.”

Dalam surat al-Hajj ayat 34, Allah menegaskan, syariat kurban melalui penyembelihan binatang ternak adalah syariat yang telah tetapkan pada tiap-tiap umat agar manusia menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang Allah telah rezekikan.

Dalam tafsiran gramatikal, kurban, (qurban) berarti upaya serius untuk mendekatkan diri dengan mempersembahkan bukti sebagai tanda kesungguhan. Dasar kurban yang diwujudkan kesungguhan yang tulus untuk mendekatkan diri kepada sosok yang dicintai.

Perintah kurban dalam Islam dikaitkan dengan pergulatan cinta Nabi Ibrahim as yang diuji oleh kecintaan paripurnanya oleh Allah.

Karena itulah, dalam tafsiran psikologis, kurban merupakan ritual rutin yang cukup dramatis dan problematik. Dramatis, karena ritual kurban diadopsi dari persembahan nabi Ibrahim as yang rela menyembelih anaknya, Ismail as, sebagai bukti kecintaannya kepada Sang Rabb.

Ibrahim as, diuji oleh Allah kecintaannya dengan mempersembahkan semua kecintaan-kecintaannya yang lain, sebagai bukti keseriusan hanya kecintaan kepada Allah swt, Sang Kekasih sejati.

Ritual kurban mengingatkan manusia untuk memberikan segala hal berharga yang dimilikinya, yang berpotensi untuk memalingkan perhatian, kecintaan, dan pengabdiannya kepada Allah.

Kurban mengajarkan kepada manusia untuk menjadi merdeka dengan tidak memperhambakan diri kepada segala sesuatu selain Allah, Sebagaimana Nabi Ibrahim as mempersembahkan kecintaan material tertingginya berupa Ismail putra semata wayang kepada Allah selaku sandaran cinta yang transenden.

Setiap manusia memiliki fitrah, atau kecenderungan pada pemujaan, atau pengkudusan pada sosok yang dianggap agung, atau sakral yang memiliki kekuatan adi duniawi. Sosok tersebut adalah Tuhan Yang Maha Agung, yang secara fitrawi imanen dalam diri setiap manusia.

Meski di satu sisi bersifat imanen, manusia juga punya kecenderungan untuk mengeksternalisasi sosok Tuhan sebagai sosok yang berada di luar dirinya, untuk kemudian ia puja dan kultuskan.

Berangkat dari kecenderungan fitrawi pada pemujaan dan pengkultusan dan tarikan kerinduan yang kuat secara imanen akan Sang Ilah inilah, manusia kemudian “berkepentingan” untuk memberikan persembahan yang istimewa pada Sang Khalik tersebut.

Di sinilah ritus kurban menemukan akar primordialnya. Bahwa, berkurban adalah sebuah ritus persembahan seorang manusia yang dengan segala kelemahannya pada Tuhan dengan segala keagungannya sebagai tempat bergantung.

Dengan berkurban, manusia menemukan medium untuk memberikan persembahan sebagai manifestasi pemujaan, pengkudusan, dan pengharapan akan kedekatan diri pada Sang Maha Agung tersebut.

Ritus Kurban

Mengapa binatang ternak yang dipilih sebagai medium persembahan dalam ritus kurban? Secara historis, binatang ternak, seperti unta, domba, atau kambing, pada dimensi nilai materialnya di zaman dahulu merupakan harta kekayaan yang sangat berharga. Semakin orang memilikinya, semakin kaya dan tinggi pula status sosial orang tersebut di tengah masyarakat.

Dengan demikian, binatang ternak adalah simbol ketinggian status seseorang, baik secara ekonomi maupun secara sosial. Itulah sebabnya, mengapa binatang ternak dipilih oleh Allah sebagai medium bagi manusia untuk senantiasa mengingat dan menyebut Nama-Nya.

Menyembelih dan mengalirkan darah binatang ternak merupakan simbolitas bagi manusia dalam menyembelih “ke-aku-an-nya” untuk kemudian lebur dalam “Ke-Aku-an” obyektif dan universal.

Secara sosial, binatang ternak adalah makanan konsumsi elite, sehingga dengan menyembelih bintang ternak, kemudian dagingnya dibagi-bagikan untuk kemudian dinikmati bersama.

Pada sisi inilah, kurban bukan hanya memiliki nilai persembahan spiritual (vertikal), tetapi memiliki nilai persembahan sosial (horisontal). Kurban bukan hanya sekadar bentuk penyerahan diri kepada Sang Pencipta, tetapi bentuk kepedulian antar manusia.

Di dalam ibadah kurban, kita dituntut untuk membagikan kurban kita kepada orang-orang miskin papa, karena sejatinya, yang membutuhkan uluran tangan kita adalah mereka, dan Allah menginginkan kita berbakti kepadaNya dengan berkhidmat kepada mereka.

Pada ritus kurban tercover tiga elemen penting, yaitu secara teologis, kita mengagungkan dan memuja Sang Khalik melalui medium ternak sebagai persembahan. Dalam ritus kurban ada refleksi akan nilai Tauhid sebagai nilai dasar dalam mengarungi hidup.

Dalam kurban, ada pengakuan, hanya Allah sebagai tumpuan harapan dan hanya Dia yang patut untuk dikuduskan, dan hanya Dia yang patut untuk diberikan persembahan yang agung. Persembahan yang agung itu adalah diri kita, dan binatang ternak sebagai simbolnya.

Kurban Perspektif Psikologis dan Sosiologis

Secara psikologis, binatang ternak yang kita kurbankan adalah manifestasi hasrat batin kita untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan peleburan ego subyektif kemanusiaan yang partikular pada Ego Obyektif Ilahiah yang universal.

Secara psikologis, ritual kurban mengingatkan manusia untuk memberikan segala hal berharga yang dimiliki, yang berpotensi untuk memalingkan perhatian, kecintaan, dan pengabdiannya kepada Allah.

Kurban mengajarkan kepada manusia untuk menjadi merdeka dengan tidak memperhambakan diri kepada segala sesuatu selain Allah. Kurban juga mengajarkan, segala realitas selain Allah adalah nisbi, dan hanya Dialah yang Mutlak.

Secara sosiologis, kurban merupakan ritus yang mengingatkan kita untuk selalu berbagi pada sesama. Kurban adalah refleksi pengakuan pada kemanusiaan yang satu, dan karenanya, tak ada alasan bagi manusia yang memiliki kelebihan untuk tidak berbagi kepada sesama.

Hal ini telah diingatkan oleh Nabi Muhammad saw dalam sabdanya: “Kenapa kamu beribadah kepada Allah begitu tekun, tapi kenapa kamu tidak mau berkurban padahal kamu memiliki harta yang berlebihan?”

Hal yang perlu diingat pula, binatang ternak yang kita kurbankan, darah binatang yang kita alirkan, dan daging yang kita bagi-bagikan tersebut, hanyalah medium. Bukan yang substansi dalam kurban.

Yang substansi dalam kurban adalah, derajat ketulusan kita untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah. Yang substansi dari kurban adalah, ketulusan kita untuk berbagi kepada sesama.

Hal ini diingatkan oleh Allah dalam firmanNya; Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah dan tidak (pula) darahnya, tetapi takwa daripada kamulah yang dapat mencapainya… (QS. Al-Hajj (22) : 37). (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *