Sat. Apr 4th, 2020

BLAM

KEREN

Peluru Tinta (Catatan untuk yang Senang Merazia Buku)

5 min read

Buku menjadi salah satu jendela dunia untuk membuka wawasan pengetahuan. Sumber foto: http://tasidola.com

1,421 total views, 4 views today

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Tangan perempuan bercadar yang memegang surat dan novel itu, bergetar hebat. Emosi yang membelit sanubarinya, akhirnya tak tertanggungkan. Tumpah menjadi air mata. Isi suratnya tak ada yang bermasalah. Semata ajakan hidup bersama. Tetapi, novel itulah sumber masalahnya.

Secara vulgar, novel tersebut menggambarkan hubungan manusia beda kelamin. Jelaslah sudah permintaan hidup bersama, yang disertai novel tersebut, tak lain adalah bentuk pelecehan terhadap dirinya sebagai perempuan. Tidak sampai di situ. Yang makin menusuk perasaannya adalah, novel tersebut terang-terangan melecehkan jalan spiritual yang dipilihnya. Yaitu, mengenakan busana muslim lengkap dengan cadarnya.

Namun yang memesona dari perempuan bercadar ini adalah, sikapnya menghadapi pelecehan melalui tulisan tersebut. Alih-alih melaporkan tindakan pria yang mengiriminya sepucuk surat dan novel tersebut. Si perempuan bercadar justru membalasnya dengan surat pendek dan juga sebuah novel karyanya sendiri.

Surat pendeknya hanya berisi kalimat singkat. Kalau tidak salah berbunyi: “Dalam hidupku sekarang ini, hidup bersama bukan lagi menjadi tujuanku.”

Sementara novelnya sendiri, yang ditulis dengan letupan perasaan meluap-luap, tidak hanya menggugah si pria yang melecehkannya hingga mesti meminta maaf berkali-kali. Tetapi juga membuat pembaca lain di laman blog yang memuat ceritanya itu, mendukung perempuan bercadar ini sepenuhnya.

Si perempuan bercadar menemukan peluru paling tepat untuk menghadapi orang yang melecehkannya, yaitu peluru tinta. Ketika sang pria menusuk kehormatannya melalui pena, ia membalasnya dengan peluru yang sama. Sang perempuan bercadar ternyata berhasil. Ia menang dalam pertempuran menghadapi peluru tinta tersebut.

Ketika saya membaca cerita ini, tanpa sengaja dari satu blog, pikiran saya langsung bertanya-tanya: Apa yang bakal terjadi andaikata si perempuan bercadar memilih melawan dengan cara lain. Melaporkan kepada yang berwajib, misalnya. Atau, dengan cara meminta ormas tertentu untuk merazia peredaran novel tersebut.

Mungkin si pria usil tersebut akan dihukum, bukunya dilarang beredar, tetapi belum tentu sang pria akan meminta maaf secara tulus kepadanya.  Belum tentu pula, buku tersebut tak bisa di baca lagi oleh orang lain.

Cerita ini menunjukkan kepada kita, bagaimana seharusnya melawan satu tulisan atau buku yang kita tidak sepakati. Jalan yang ditempuh, tidak lain harus menggunakan peluru yang sama. Menggunakan cara lain, misalnya dengan merazia, memberedel atau meminta penulisnya dihukum, sebenarnya hanya kesia-siaan.

Tulisan atau buku adalah salah satu senjata paling ampuh di dunia ini. Ia bagai peluru canggih yang bisa menembus dinding baja sekalipun. Memengaruhi kesadaran orang, yang bahkan berada di negeri paling jauh. Karena itu, sekuat apa pun satu lembaga kekuasaan berusaha menghentikan tulisan atau buku, tetap saja ia akan menemukan jalan untuk sampai kepada pembacanya.

Pramoedya Ananta Toer

Sampai di sini, saya teringat salah satu tulisan Pramoedya Ananta Toer; “Nyanyi  Sunyi Seorang Bisu; Catatan-Catatan dari Pulau Buru.” Tulisan yang merupakan kumpulan surat-surat untuk keluarganya ini, dengan berbagai cara berusaha dimusnahkan oleh rezim orde baru, saat itu. Benar, tulisan tersebut tidak berhasil sampai pada keluarganya. Sebagian dibakar, sebagian lagi ditahan sipir penjara. Tetapi, tetap saja tidak sepenuhnya dimusnahkan.

Beberapa orang yang melihat tulisan tersebut sebagai sesuatu yang penting dalam membaca sejarah politik Indonesia berusaha menyelamatkannya. Di antara orang itu, ada seorang pejabat sipir penjara, yang memberi nasihat kepada Pramoedya dan tawanan politik pulau Buru saat itu dalam menyebarkan gagasannya.

Katanya; “Hadapi semuanya seperti bermain layangan. Angin kencang ulur benangnya. Tak ada angin, tarik benangnya.”

Pada 1988-1989, catatan (tulisan) itu akhirnya terbit. Bukan di Indoenesia pada awalnya, melainkan di Negeri Belanda. Tulisan tersebut terbit dengan judul; “Lied Van Een Stomme.” Belakangan baru diterbitkan di Indonesia oleh penerbit Hasta Mitra dengan judul Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Jelas sekali, apa pun yang dilakukan rezim orde baru pada masanya, ternyata tidak bisa membendung satu tulisan.

Benarlah Sub Comandante Marcos, Wakil Komandan Perlawanan Zapatista, ketika bertutur begini:

 “Bunga dari tulisan (kata) tak akan mati. Wajah bertopeng yang hari ini mempunyai nama mungkin akan terkubur, tetapi tulisan (kata) yang datang dari kedalaman sejarah dan dunia tak dapat lagi dihabisi oleh kesombongan penguasa.”

 Peradaban Islam

Dalam sejarah peradaban Islam, para intelektual muslim mengajarkan kepada kita, bagaimana menghadapi tulisan atau buku, yang tidak sesuai pemikiran dan ideologi yang kita anut.  Lihatlah apa yang dilakukan Ibn Rusyd atas ketidak-setujuannya terhadap buku Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Filsafat), karya Imam Al-Gazali.

Ibn Rusyd tidak meminta buku tersebut dilarang beredar, tetapi ia menulis buku untuk melawannya. Judulnya, Tahafut at tahufut (Kerancuan atas Kerancuan).

Akan halnya Imam al-Gazali sendiri, ia juga menulis Tahafut al-falasifah, karena ia merasa tak sejalan dengan buku-buku filsafat karya para kaum filosof. Di antaranya mengenai ketidak-setujuannya Al-Gazali terhadap filsafat materialisme (al-dhariyun).

Imam Al-Gazali pun tidak meminta penguasa untuk memberedel buku-buku filsafat tersebut, tetapi ia melawan buku-buku filsafat itu dengan buku dan ketajaman peluru tinta.

Sikap para ulama dan intelektual kita pada masa itu, yang melawan buku dengan buku, menghadapi peluru tinta dengan peluru yang sama, justru mengangkat peradaban pemikiran Islam menjadi gilang-gemilang.

Dalam Al-Qur’an sendiri, Allah telah memberikan satu pelajaran berharga terhadap ketidaksetujuan segolongan orang atas keagungan Al-Qur’an;

“Jika kamu tetap dalam keraguan terhadap Al-Qur’an yang kami wahyukan pada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah saja yang semisal Al-Qur’an dan ajaklah penelongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar (Al-Baqarah; 23).

Dalam ayat ini, Allah seakan-akan menantang, jika tidak setuju dengan gagasan yang ada dalam Al-Qur’an, cobalah buat tulisan untuk menandinginya. Tak perlu berkoar-koar, melecehkannya,  atau berupaya memusnahkan salinan para sahabat.

Kendati ayat ini ditujukan pada orang kafir saat itu, tetapi juga menjadi pelajaran bagi umat Islam; “Kalau tidak setuju dengan satu pandangan, tulisan atau buku, maka sepatutnya bikin tulisan untuk menandingi atau melawannya.”

Namun bagaimana dengan buku-buku Marxisme, Komunisme, dan Leninisme? “Bukankah dengan menyebar buku-buku tersebut, sama dengan menyebar paham-paham tadi?” Tentu saja tidak persis begitu.

Membaca buku-buku Marxisme, Komunisme, ataupun Leninisme, dalam konteks kiwari, tidak ada bedanya dengan membaca pemikiran Kapitalisme, Max Weber, dan Imanuel Kant. Termasuk, sama saja dengan membaca buku-buku khilafah a la Hizbut Tahrir.

Bukan berarti gagasan-gagasan mereka sama. Akan tetapi, membaca buku-buku tersebut hanya dalam kerangka sebagai alat analisis, bukan untuk dijadikan ideologi. Bahkan, banyak yang membacanya supaya bisa mengkritisi ulang gagasan komunisme yang dianggap telah usang tersebut.

Justru jika tidak membaca buku-buku tersebut, bagaimana kita memahaminya? Kalau tidak paham, dan ideologinya, katakanlah masih hidup sampai sekarang, bagaimana kita akan menghadapinya. Alih-alih bisa menghadapi, sebaliknya kita mungkin mudah dipengaruhinya.

Buku-buku Marxisme dan sebangsanya, bukan untuk dihindari, tetapi justru harus “dikunyah”.  Dengan dikunyah selumat-lumatnya, kita bisa membedakan mana sarinya dan mana ampasnya. Kita bisa mengambil saripatinya yang manis dan membuang ampasnya yang mungkin beracun. Dengan cara itu, buku-buku Marxisme dan sebangsanya, tidak akan meracuni otak kita. Ia hanyalah kita jadikan alat (itu pun kalau mau dijadikan alat), bukan tujuan.

Buku apa pun, dengan demikian, harus diperlakukan sebagai ‘buku”, yaitu pintunya ilmu pengetahuan dan jendelanya dunia. Dengan buku di tangan kita, sesempit apa pun ruang yang kita tempati, tetapi cakrawala kita akan mengembara dengan bebas. Bung Hatta pernah bilang: “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku justru bebas.”

Maka sekali lagi, jika tidak setuju dengan buku, buatlah buku tandingan. Tidak sepaham dengan satu tulisan, goreskanlah tulisan imbangan. Soalnya, ini peluru tinta, bukan peluru biasa. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *