Fri. Sep 25th, 2020

BLAM

KEREN

Persiapkan Lagu untuk Film Tondok Solata

2 min read

Peserta mengikuti kegiatan Workshop Pembuatan Film Tolorensi dan Kerukunan di Kantor BLAM. Foto: Zulfikar

1,060 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM — Kegiatan pengembangan (workshop) pembuatan film bertajuk “Toleransi Agama Bagi Generasi Muda Melalui Media Sosial,” selalu menjadi ajang diskusi menarik.

Pada workshop lanjutan Peneliti Bidang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), yang diadakan di aula lantai 3 kantor BLAM, Kamis sore, 1 Agustus 2019, beberapa usulan peserta kembali mengemuka. Antara lain, menyiapkan pengisi suara (narator) dan lagu-lagu untuk background film.

“Pada tahap pengeditan nanti, sebaiknya film ini tetap menjaga narasi-narasi keberagaman beragama, dan orisinalitas lokasi yang terdapat dalam film tersebut. Misalnya, dalam sebuah adegan film memerlihatkan tongkonan sebagai salah satu simbol kerukunan umat beragama,” kata Kepala BLAM, H Saprillah, M.Si.

Workshop ini berencana membuat film tentang toleransi dan kerukunan umat beragama berjudul “Tondok Solata: Kampung Persaudaraan”. Pengambilan film dilakukan di Kabupaten Toraja, Sulawesi Selatan, yang dianggap representatif miniatur Indonesia. Beragam etnis dan agama hidup rukun dan damai di daerah ini. Bahkan, Toraja sejauh ini dikenal dengan kondisi masyarakat yang harmonis.

Sitti Arafah selaku moderator mengatakan, workshop ini telah memasuki tahap kedua. Pameran film diambil dari Peneliti Bidang Bimas yang bekerjamsa dengan mahasiswa, dan dosen Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKN) Toraja. Pembuatan film dilakukan selama sepekan, pada Februari 2019.

Peserta lain, Pendeta Dr. Diks Pasande, memberikan apresiasi kepada BLAM, karena membuat film toleransi dan kerukunan umat beragama.

“Sebagai orang yang pernah lama tinggal di Toraja, film yang menggambarkan toleransi dan kerukunan ini saya kira sudah sangat tepat. Saya mengucapkan terima kasih kepada Balai Litbang Agama Makassar,” katanya.

Sebagai pembimbing workshop, Prof. Dr. H. Kadir Ahmad, menyarankan, film ini cenderung divisualkan saja dari pada dinarasikan, supaya tidak mengambil porsi yang dominan. “Misalnya, ada rumah yang di dalamnya terdapat multi agama, seperti Islam dan Kristen.

Narasumber, Djazuli dari Tim Basmar Academy Makassar, mengaku, meskipun filmya telah selesai dibuat, namun  masih perlu ada polesan dari setiap adegan film. “Termasuk belum ada lagu-lagu untuk background-nya, keterangan lokasi pengambilan film, terjemahan bahasa lokal ke bahasa Indonesia, dan nama-nama narasumber yang diwawancarai,” katanya. (zul)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *